Sweet Seventeen
Happy Birthday to me...
Happy Bestday to me..
Happy Birthday.. Happy Bestday.. Happy Bigday to me..
Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah...
Akhirnya tiba juga saatnya usia yang (dulu) sangat aku tunggu-tunggu, mungkin tidak hanya aku, tapi hampir setiap orang. Genap 17 tahun usiaku. Nambah tua saja ya. Atas dasar alasan apa usia ke-17 selalu paling ditunggu-tunggu? Mungkin salah satunya bisa dapat izin pacaran dari orang tua (jadul banget).
12 Maret 1997 up to 12 Maret 2014..
Jika kuingat kembali, setelah beberapa dekade yang aku lewati sungguh benar-benar proses alam dan kuasa Tuhan yang sangat Maha Mengetahui apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan. Trias Amalia Sugiharti. Nama ini seakan langsung melekat pada pribadiku, begitu pun sifat yang aku miliki sekarang. Ya, begitulah mungkin seharusnya. Mau tak mau, suka tak suka, harus tetap kutelan.
Hebatannya waktu selalu sukses memberi aku kejutan disetiap detik yang aku lewati. Dari kecil, entah keindahan apa lagi yang Tuhan berikan lagi untukku. Ulah tahunku selalu sama dengan teman-teman yang dekat denganku. Bukan hanya satu orang, tapi empat orang sekaligus. Dan lebih terkejutnya aku, ke-4 orang itu adalah orang-orang terdekatku. Tak masalah sih sebenarnya, tapi... ah sudahlah ini semua adalah takdir dari-Nya.
Banyak sekali harapanku diusia yang mungkin sudah bisa dikatakan matang ini. Banyak pula resolusi yang ingin kucapai dari dulu. Namun apa daya, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya itu urusan Tuhan. Tak hanya aku, tapi semua orang yang lahirnya kebetulan sama denganku.
Aku seorang perempuan. Anak terakhir dari sebuah keluarga sederhana, sangat sederhana. Tapi alhamdulillah, semua kebutuhanku bisa terpenuhi. Aku sangat bersyukur akan hal ini. Dari kecil, bapaku sudah mengajarkanku untuk hidup berhemat, sederhana dan tak berlebihan. Tapi aku tak bisa membohongi hati kecilku, aku tak bisa melakukan yang tak ingin aku lakukan. Aku selalu mengatakan apa yang memang aku inginkan. Aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan orang lain.
Apa yang akan diharapkan seorang manusia jika hari besarnya tiba?
Pertama, ucapan dari orang-orang tercinta? Sudah pasti, dan akan selalu ada orang yang sangat ditunggu-tunggu ucapannya. Tapi bagaimana jika harapan itu tak ada? Kecewa bukan?
Kedua, perayaan ulang tahun. Siapa coba yang ga mau ulang tahunnya nggak dirayakan? Apalagi jika sudah dijanjikan. Duh pasti kecewa banget jika hanya jadi isapan jempol semata. Malu sama diri sendiri, serba salah. Pasti.
Begitu pula untukku, aku tak munafik. Tapi hal yang sangat-sangat aku harapkan bukan itu. Bukan kue ulang tahun dengan lilin angka 17 diatasnya, bukan ucapan dari teman laki-laki yang sangat spesial, bukan juga perayaan yang mewah. Hal yang sangat aku inginkan hanya ciuman, ucapan, dan doa, khusunya dari orang yang sampai sekarang belum mengucapkannya untukku. Bapak, aa, dan kaka.
Untuk ibu, terimakasih atas segalanya. Doa yang selalu kau berikan untukku, kecupan manis setiap pagi, dan hadiah terindahmu, kalung, gelang, dan cincinnya. Aku tidak melihat dari harganya, dari bagus dan mahalnya. Tapi yang kulihat dari maksud dan harapan yang kau simpan. Maaf ibu, aku belum bisa menjadi yang kau mau. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa diam saat kau dandani dan aku bukan lagi anak kecil yang bisa kau bujuk agar menuruti semua kemauanmu.
Aku janji ibu, suatu saat aku akan menuruti semua yang ibu inginkan. Aku akan berdiam dan menurut apapun yang ibu lakukan untuk kebaikanku. Tapi untuk sekarang, aku mohon, biarkanlah aku menjadi diriku sendiri dulu. Mungkin didikan bapa tentang kesederhanaan lebih melekat pada pribadiku. Entahlah bu, aku masih menikmati semua kesederhanaan ini. Aku masih mau menikmati semunya. Aku masih mau melakukan yang aku suka. Aku masih ingin jadi diriku sendiri bu.
Ibu, di ulang tahunku yang ke-17 ini. Aku berharap kelak saat aku sudah memiliki keluarga sendiri, kau tetap menjadi ibuku yang romantis, yang selalu memperlakukan anak-anaknya dengan manis. Aku sayang ibu. Doakan aku bu, percaya padaku bu. Aku anak perempuan ibu yang paling kuat bu. Tak mungkin ada orang yang berani menyentuh untuk menyakitiku. Tak akan kubiarkan lagi air matamu jatuh lagi bu. Pegang janjiku bu. Harapanku saat ini hanyalah kebahagiaan untuk keluarga kita bu. Aku mencintai kalian semua.
Untuk kawan-kawanku, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk menulisakan beberapa kalimat di twitter, facebook, dan e-mail. Maaf aku tak bisa membalas semuanya sekarang. Maaf pula aku tak bisa memberikan apa-apa untuk kalian semua.
Salam cinta yang penuh kasih.
Trias Indonesia
Apa yang akan diharapkan seorang manusia jika hari besarnya tiba?
Pertama, ucapan dari orang-orang tercinta? Sudah pasti, dan akan selalu ada orang yang sangat ditunggu-tunggu ucapannya. Tapi bagaimana jika harapan itu tak ada? Kecewa bukan?
Kedua, perayaan ulang tahun. Siapa coba yang ga mau ulang tahunnya nggak dirayakan? Apalagi jika sudah dijanjikan. Duh pasti kecewa banget jika hanya jadi isapan jempol semata. Malu sama diri sendiri, serba salah. Pasti.
Begitu pula untukku, aku tak munafik. Tapi hal yang sangat-sangat aku harapkan bukan itu. Bukan kue ulang tahun dengan lilin angka 17 diatasnya, bukan ucapan dari teman laki-laki yang sangat spesial, bukan juga perayaan yang mewah. Hal yang sangat aku inginkan hanya ciuman, ucapan, dan doa, khusunya dari orang yang sampai sekarang belum mengucapkannya untukku. Bapak, aa, dan kaka.
Untuk ibu, terimakasih atas segalanya. Doa yang selalu kau berikan untukku, kecupan manis setiap pagi, dan hadiah terindahmu, kalung, gelang, dan cincinnya. Aku tidak melihat dari harganya, dari bagus dan mahalnya. Tapi yang kulihat dari maksud dan harapan yang kau simpan. Maaf ibu, aku belum bisa menjadi yang kau mau. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa diam saat kau dandani dan aku bukan lagi anak kecil yang bisa kau bujuk agar menuruti semua kemauanmu.
Aku janji ibu, suatu saat aku akan menuruti semua yang ibu inginkan. Aku akan berdiam dan menurut apapun yang ibu lakukan untuk kebaikanku. Tapi untuk sekarang, aku mohon, biarkanlah aku menjadi diriku sendiri dulu. Mungkin didikan bapa tentang kesederhanaan lebih melekat pada pribadiku. Entahlah bu, aku masih menikmati semua kesederhanaan ini. Aku masih mau menikmati semunya. Aku masih mau melakukan yang aku suka. Aku masih ingin jadi diriku sendiri bu.
Ibu, di ulang tahunku yang ke-17 ini. Aku berharap kelak saat aku sudah memiliki keluarga sendiri, kau tetap menjadi ibuku yang romantis, yang selalu memperlakukan anak-anaknya dengan manis. Aku sayang ibu. Doakan aku bu, percaya padaku bu. Aku anak perempuan ibu yang paling kuat bu. Tak mungkin ada orang yang berani menyentuh untuk menyakitiku. Tak akan kubiarkan lagi air matamu jatuh lagi bu. Pegang janjiku bu. Harapanku saat ini hanyalah kebahagiaan untuk keluarga kita bu. Aku mencintai kalian semua.
Untuk kawan-kawanku, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk menulisakan beberapa kalimat di twitter, facebook, dan e-mail. Maaf aku tak bisa membalas semuanya sekarang. Maaf pula aku tak bisa memberikan apa-apa untuk kalian semua.
Salam cinta yang penuh kasih.
Trias Indonesia
![]() |
| Ulang tahunku ke-6 tahun. Ibu menciumku dan bapak memotretnya. |
![]() |
| Perayaan Ulang tahunku ke-6, di TK PGRI. Teman-temanku memberikan selamat dan bernyanyi |
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar