Postingan

Menampilkan postingan dengan label AboutYou

Happy Bornday dear BigBro

Gambar
Ini adalah aku dan kakak ke-dua-ku. Foto ini diambil bapak saat hari pertama aku masuk SD. Saat itu kakakku sudah kelas VI, dia seorang atlet Tenis meja, makanya dia tinggi. Hallo.. Assalamu'alaikum, Ong.. Bagaimana kabarmu? Apa sudah seminggu kita tidak berjumpa? Aku lupa kapan terakhir kita bertemu, tapi belum lama sepertinya. Ah ya, aku dengar dari ibu kalau kamu sedang menjalani ujian ya? Makanya kamu tidak pernah terlihat lagi di rumah, dimana sering kali kamu menyuruhku untuk membelikanmu makanan keluar. Kamu pergi belajar tanpa sepengetahuanku rupanya. Tapi semoga ujianmu dan perjalanmu dilancarkan oleh Allah Swt ya.. Oh ya Ong, apa kamu masih ingat kapan terakhir kamu mengajakku pergi bermain? Sudah lama pastinya, karena sepertinya aku bukan teman main yang asyik dibandingkan teman-temanmu itu. Tapi walaupun aku tidak se-asyik teman-temanmu itu, aku berjanji deh kalau nanti diajak lagi main mau belajar jadi teman mainmu yang asyik, biar kamu enggak kapok m...

Dear BigBro

Gambar
Assalamu'alaikum, Kak. Entah tulisan keberapa yang kutujukan khusus untukmu. Aku tak peduli apakah kau pernah membacanya, atau tidak peduli sama sekali, yang terpenting bagiku, aku bisa menceritakan semua keluh-kesah, harapan serta doa untukmu disini. Aku tidak peduli apakah mereka, teman-temanku, para pembaca blogku, atau bahkan mereka yang tak mengenalku sama sekali, aku sungguh tak peduli. Yang kupedulikan sekarang hanyalah dirimu. Kakak keduaku,   pangais bungsu atau panengah,   begitu kata ibu . Memang sedikit aneh rasanya, memanggilmu Kakak, tapi jika aku memanggilmu disini Aa, lebih aneh menurutku, jadi jangan marah atau merasa anak kota ya, kalau kupanggil Kakak. Just be your self, dare to be yourself. Tapi jangan keseringan selfie juga,   enek lihatnya brooo.  Oke aku akan meneruskan cerita, saat ini aku ingin membahas mengenai dirimu lagi. Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 1 Mei 2015, aku mendengar kabar yang entah baik atau buruk dari ibu, kalau...

Am I Fall in Love?

Gambar
Hallo, Assalamu'alaikum. Setelah enam hari saya tidak menulis disini, alhamdulillah akhirnya diberikan kesempatan kembali untuk bercerita kembali. Sekarang tepat pukul 00:43 WIB. Iya, saya belum terlelap. Memang terlihat egois, tidak memberikan waktu istirahat pada tubuh. Tapi tidak sebenarnya, sudah lumayan lama saya beristirahat selepas dari perkemahan kemarin.   Perkemahan?   Oh ya, saya lupa belum menceritakannya. Mungkin waktu lain akan saya paparkan. So, sekarang apa yang akan saya bahas?   Love, again?   Yups! Memang klasik sih dan mungkin sudah bosan ya membaca tentang cinta, atau mungkin tak ada bosannya? Tak masalah, itu tergantung selera kalian, sekarang yang pasti saya ingin membahasnya lagi. So, why I choose that? Mungkin, kemarin lusa tepatnya. I'm feeling different. Tapi saya tak begitu terlarut dalam rasa itu, insyaAllah saya ingin tetap teguh pada apa yang saya pegang. But for now, I want to tell about it, just little bit.

Happily ever after!

Gambar
“Happily ever after!” Itulah hal pertama yang akan kami ucapkan saat Tuhan memberikan kesempatan kami untuk bertemu kembal. Tiba-tiba saja aku teringat adik sekaligus teman terhebat yang pernah aku mliki, kurang lebih sudah 5  tahun kami tidak bertemu. Semenjak keputusannya pergi meninggalkanku untuk hidup bersama nenek di Makassar. Jarak dan waktu menjadi penghalang diantara kami. Aku tidak tahu apa yang membuat dia memutuskan untuk tinggal bersama nenek, karena sebelumnya kami sudah berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain.

Untuk Kenya, Pinguin Kecilku.

Gambar
Aku yang memeluk erat Kenya *hiraukan pipi bakpaoku* Kenya pingun kecil teteh, bagaimana kabarmu? Hampir lima tahun kita tak bertemu dik. Aku merindukanmu dik. Aku rindu rambut keritingmu yang selalu sukses membuatku ingin menyisir rambutmu itu dik. Dik, apa kau merindukanku? Jujur, sampai sekarang aku tak berani masuk kamar yang pernah kau singgahi di rumah ini dik. Aku takut jika harus mencium aroma parfummu, aku takut jika harus teringat kembali saat kita tertawa. Dik, ingatkah malam itu kita hanya berdua di rumah. Ibu dan bapak pergi meninggalkan kita karena nenek sakit. Tiga hari kita tinggal berdua di rumah. Aku rindu membangunkanmu pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Aku rindu bermain crayon setiap kali kita menggambar. Aku rindu bermain lilin bersamamu, walaupun ibu selalu menegur kita karena takut kita celaka. Dik, bagaimana hari-harimu disana?

Cinta Monyet [Edisi Ramadhan]

Gambar
Hallo.. hallo.. Assalamu'alaikum semuanya.. Bagaimana puasanya? Masih aman dan lancar 'kan? Oke, dipikir-pikir sudah lama juga aku enggak nulis tentang cinta dan sebangsanya, ya. Dan kali ini, aku mau nulis tentang cinta mo-nyet! Apa sih yang ada dibenak kalian saat mendengar cinta monyet? Well, pasti tentang bocah ingusan ya. Sekarang aku mau tahu  apa kalian pernah merasakan cinta monyet? Aku yakin kalau kalian pernah pacaran, pasti pernah merasakan cinta monyet. Aku ingin sedikit bercerita nih, mau lanjut baca atau pun tidak ya tak masalah. Tapi kalau enggak diterusin, aku jamin enggak bakal tahu apa manfaatnya membaca tulisanku kali ini, hehe. Oke, sebelumnya aku mau tanya, cinta monyet itu gimana sih? Kalau menurutku sih itu cuma iseng-iseng aja, namanya juga cinta pas bocah, pasti enggak tahu apa-apa tentang cinta, setuju? Setuju aja deh biar cepet, ya.

Ketika Aku Jatuh Cinta

Gambar
Setahun yang lalu kita bertemu, dengan cara yang tak sengaja. Setahun yang lalu kita bertemu, tanpa sapaan dan percakapan. Setahun yang lalu aku mulai mengenal cinta, merasakan semuanya. Dan tepat selama setahun ini aku memendam rasa, cinta yang tetap sama, padamu. Lelaki yang kutemui setahun yang lalu. “Makasih ya.” Ujarku kegirangan saat kau mengantarku pulang. “Ya. Sama-sama.” Kau menjawab asal tanpa membalas tatapanku, dan itu membuat senyumku yang tadinya merekah, tiba-tiba lenyap tak bersisa sama sekali. Aku tahu betapa bodohnya diriku sampai bisa jatuh cinta pada lelaki sepertimu. ‘Dingin’, ‘lurus’, dan cuek. Tapi entahlah, mungkin memang seharusnya cinta begitu. Untuk kali ini aku jatuh cinta dengan cara yang berbeda, dan dengan perjuangan yang lebih dari biasanya. Aku mencoba mencari cinta yang lain, mungkin bisa menggantikan namamu dalam hatiku. Dan kupikir setidaknya mengisi waktu selama menunggumu sampai saatnya aku berani untuk mengatakan semua p...

Ketika cinta tak miliki status

Berawal dari teman, kita sering bersama. Pergi jalan, belajar, hujan-hujanan, bolos sekolah, sampai hal-hal kecil apapun kita lakukan berdua. Kau memperhatikanku, aku pun memperhatikanmu. Sungguh tak pernah tersadari jika kita telah menanam rasa yang sama. Selama ini kita merawatnya, menyiramnya diluar batas kesadaran. Selalu bersama membuat rasa yang baru tumbuh liar begitu saja. Kita saling melengkapi, terkadang bertengkar karena kita tak saling mendengarkan karena aku selalu menentang apa yang kamu katakan. Begitupun denganmu, tak pernah mendengarkan perkataanku. Tanpa kusadari itulah sebuah perhatian. Perhatian yang menurutku lebih dari sekedar kata 'teman'. Semenjak lepas SMA, kita berpisah. Kau memilih untuk mengikuti pendidikan militer di sebrang pulau sana, dan aku memilih untuk mencoba meneruskan sekolahku di kota yang selama ini aku bicarakan padamu. Kurang lebih dua tahun kita tak bertemu, sampai akhirnya kita bertemu dalam suasana yang tak pernah terpikirka...

Senyum yang Indah

Malam masih begitu cerah, ya, rembulan kembali hadir setelah berminggu-minggu halaman rumahku basah dihujani. Dua minggu hampir, libur sekolah akan segera usai. Sekarang aku sedang duduk di meja belajarku, ya inilah aku. Walaupun sekolah libur, aku masih harus belajar. Ini salah satu hukuman dari bapakku karena peringkatku turun. Bapak memang orang yang keras dan disiplin, maklum dia merupakan pensiunan TNI dan sempat menjalani taruna selama berbulan-bulan di sebrang pulau kecil yang jauh kemana-mana. Aku masih terjaga didepan meja belajar, buku-buku dari mulai yang kecil sampai yang besar semua terbuka. Namun bukan buku-buku yang menjadi objek mataku, melainkan benda persegi panjang yang tipis dilingkari ukiran kayu dipinggirnya, berdiri setengah bersandar pada tembok dinding kamarku. Ya, itu sebuah foto yang sengaja kupajang dengan apik dan kusimpan di meja belajarku, untuk sekali-kali kulirik wajah lembutmu. Malam ini senyummu begitu terlihat lebih indah, entah kenapa. M...

Ulang Tahun Dikejauhan

Gambar
Hallo hallo!! Happy Birthday Komandan. Happy Birthday Teteh. Happy Birthday Kakak. Sekarang tanggal 20 Desember 2013, mungkin tahun 1995 teteh baru keluar dari rahim ibu bukan? Berlumurkan darah yang sangat penuh perjuangan, pengorbanan sampai titik penghabisan. Lampau sekali ya, tak ada ruginya Tuhan memberimu umur sampai 18 tahun ini. Karena kau telah memberi banyak kontribusi dan inspirasi untuk orang-orang sekitarmu, termasuk aku. Tak banyak yang akan aku sampaikan disini. Aku hanya berharap dan berdo'a agar dengan 18 tahunmu di dunia ini, menjadikannya semakin berguna untuk diri sendiri, keluarga, dan negara. Sukseslah segala mimpi yang sedang kau perjuangkan. Janganlah semangatmu sampai terputus. Andai semua kata menjadi arti semangat dan senyuman, aku akan persembahkan semuanya untukmu.

Untuk Si Tukang Tidur

Dear adik kecilku yang selalu kecil, Apa kabar? Apa kau masih menjadi si tukang tidur? Haha sepertinya tidak ya, kau sudah punya kekasih bukan? Aku turut bahagia ya. Malam ini begitu dingin ya. Aku sedang merindukanmu. Apa kau pun merindukanku? Mungkinkah jawabannya masih  ya? Semoga.. Malam ini tak ada bulan, begitupun dengan si bintang. Semua terlihat lebih gelap. Tapi untungnya tak ada si kilat dan petir yang seakan membelah langit malam. Bagaimana malammu disana? Aku rindu saat kita duduk berdua diatas genting rumah nenek. Dingin yang menusuk kalah dengan lilin yang kita nyalakan. Susu jahe hangat dan seperti biasa, kacang rebus Bang Toing.

Wanita Cantik

Pertama mendengar namamu yang keluar dari mulut kakakku, aku sungguh penasaran dengan sosokmu. Mari kuceritakan tentangmu. Namamu sangat cantik, aku suka, dan sepertinya wajahmu memang secantik namamu. Saat pertama bertemu, kau memberiku senyum, oh manis sekali. Matamu begitu indah, sayang sekali jika aku tak menatapnya. Parfummu begitu wangi, menusuk hidungku, menarungi sel-sel labirinku. Warna jilbab yang kau pakai begitu kontras dengan warna kulitmu. Kau wanita shalehah ternyata. Larik katamu, sungguh rapi.

Berakhirnya Sebuah Kenangan

Sanggar Pramuka, 16 Desember 2013 Kau tahu apa yang kupikirikan ketika hujan ragu-ragu untuk turun membasahi rumput halaman rumahku? Aku yakin kau tak tahu dan mungkin tak ingin tahu. Untuk menikmati itu semua cukup dengan ditemani kopi hitam dan menikmati kacang rebus, sudah lebih bisa menghangatkan suhu dalam tubuhku. Walaupun tak sehangat senyummu saat main bersama. Sekarang aku merasa berada didalam sebuah labirin, lebih tepatnya labirin kenangan kita. Ya, kita; untukku, tapi (mungkin) tidak untukmu. Kenangan ini begitu manis, teramat manis. Seandainya kamu mau mengingatnya; kenangan disaat kita bersama, walaupun selalu tak disadari. Semua yang kau lakukan menurutku sangat indah untuk dikenang. Semua yang kau berikan cukup membuatku puas, selalu saja menjadi alasan aku untuk tersenyum dikala mengingatnya. Suara, senyuman dan mata itu sungguh menggambarkan sosokmu yang easy going. Caramu berkata, membuatku tertarik untuk terus berbincang seputar ... yaaa kau pasti ...

Kau yang Menjadi Sebuah Alasan

Ruang Kosong, 10 Desember 2013       23 : 42 WIB Entahlah apa yang akan terjadi jika aku tak bertemu denganmu dua bulan yang lalu, tepatnya November yang sebelumnya bukanlah bulan yang selalu aku tunggu-tunggu. Tapi, yang mungkin adalah ada dan tidaknya rasa yang selama dua bulan ini tumbuh. Rasa yang selama ini hanya menjadi bunga-bunga dalam hati dan pikiranku. Rasa yang selama ini hanya menjadi euforia untuk diriku, dan rasa yang mungkin tak pernah kau pikirkan. Serta rasa yang menjadi alasan kesakitanku saat ini. Dimana aku mendapat kabar gembira untukmu, tapi tidak untukku. Rasanya seperti dunia indah yang selama ini kujalani menjadi dunia hitam yang penuh kesakitan. Sebelumnya aku berpikir bertemu denganmu adalah dasar dari semua alasan kebahagiaanku untuk selamanya. walaupun hanya dapat mengagumi; dari jauh. Ya, jauh. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain dengan pemikiranku. Menyakitkan; yang sekarang kurasakan. Aku bersyukur dengan semua in, setidaknya ...

Tak Sekedar Seorang Teman

Gambar
Dear Yhora, Wanita perkasa yang (masih) memiliki hati. Duh yhor, sungguh aku tak pernah terpikir akan menjadi temanmu. Bahkan sampai dekat dan menjadi teman curahan hati. Aku masih ingat ketika pertama kali mendengar namamu dari teman. Kalau tidak salah saat itu ada pertandingan olahraga se-kabupaten di kota kita. Tak kusangka, saat aku mengunjungi salah satu pertandingan bela diri lebih tepatnya beladiri  Tarung Derajat AA Boxer  aku mendapatkan berita tentang sosokmu. Ternyata kau seorang atlit dan saat itu juga terbesit dalam pikiranku bahwa usiamu lebih atas dariku. Terbayang dengan jelas sekali badanmu yang gagah, karena kau seorang petarung. Dan yang mungkin akan membuatmu tertawa adalah aku pikir kamu adalah sosok wanita yang perkasa dan tak mau tahu tentang seorang laki-laki. Tak lama dari pertandinganmu usai, organisasi yang aku ikuti mengadakan sebuah pelantikan untuk anggota baru. Termasuk aku. Benar ternyata, dunia memang selebar daun kelor. Saat aku da...

Cinta, yang tidak (pernah) terungkapkan

Dua tahun yang lalu, SMP Tunas Harapan, tepat saat kita pertama bertemu. Tubuhmu masih terlihat lebih besar dan kumismu belum begitu tumbuh. Pagi itu sekolah masih begitu sepi, mungkin aku terlalu cepat berangkat dari biasanya dan kau yang sedang duduk asyik mendengarkan musik dengan headsetmu menjadi pusat perhatianku. Tak ada seorang pun yang terlihat selain kamu dan aku, penjaga sekolah pun tak terlihat batang hidungnya. Sinar mentari pagi menyoroti wajahmu, jika kupandang dari samping terlihat begitu indah siluet wajahmu. Sungguh manis. Lekukan-lekukan dahi, mata, hidung dan dagumu begitu terlihat jelas. Tanpa aku sadari begitu lama aku memandangimu sampai kau mendapatkanku sedang memperhatikanmu. Sungguh aku malu sekali. Kau tersenyum padaku. Oh sungguh, apa kau malaikat yang baru Tuhan turunkan ke bumi? Senyummu begitu menenangkan mata mendegupkan jiwa. Selama dua tahun, rasa ini masih ada, sama persis dengan yang kurasakan pagi itu. Aku sempat berpikir jika ini hanya e...

Kamu dan Kopi

Kamu itu seperti kopi. Selalu menghangatkan tubuhku dari dingin disetiap malam. Kamu itu seperti Kopi. Selalu aku candui setiap aku merindukan ketenangan. Kamu itu seperti kopi. Memiliki arti rasa di setiap aku mencicipimu. Kamu itu seperti kopi. Selalu menemaniku dalam pekatnya masa lalu. Kamu itu seperti kopi. Kalau aku tidak tahu cara mencicipinya, maka tak akan terasa nikmatnya bahkan pahit sampai ke uluh hati. Kamu itu seperti kopi. Kopi ternikmat yang Tuhan buatkan khusus untukku agar menemaniku dalam dinginnya sang malam. Ya kamu itu seperti kopi yang selalu membuatku tenang dan hangat. Kamu itu kopi, kopi ternikmat dan selalu membuat rasa ini bahagia.

Kamu yang (baru) Aku Kenal

Gambar
Sungguh aku ingin menceritakan semua, mulai dari awal betatap mata, mengetahui namamu, mulai dekat denganmu, sampai secara tidak langsung dan mungkin tak kau sadari kita sedang curhat. Ya walaupun bukan tentang hati. Untuk kali ini aku menyerah. Entah aku yang terlalu percaya diri, entahlah. Yang pasti kamu selalu mencuri pandangan padaku. Sampai (mungkin) sering kau kupergoki sedang melihatku, entah aku sedang menulis, ngobrol, tidur, makan, dan bahkan  ngupil  yang selalu menjadi kebiasaan burukku jika hidungku tak bisa menahan gatal yang sangat. Karaktermu yang pendiam, tak dinyana-nyana telah mencuri perhatianku untuk mengenal sosokmu. Sungguh aku bukan perempuan yang mudah untuk tergoda pada hal seperti ini. Memang aku orang yang supel, bahkan mayoritas teman-temanku adalah laki-laki. Tapi untuk menelaah dan mengenal lebih dalam pribadi seseorang bukanlah kebiasaanku. Apa kau masih ingat saat pertama kali kau menyapaku? Ya, walaupun tidak secara langsung. ...

Mencandui Rindu

Aku mencandui rindu saat malam menjelang. Aku mencandui rindu saat angin yang mengundang gigil. Aku mencandui rindu saat kopi habis tak tersisa. Aku mencandui rindu saat malam lupa akan bintangnya. Aku mencandui rindu saat menulis dan tak ada aksara tentangmu. Aku mencandui rindu, karena rindu adalah kamu. Kamu yang selalu aku rindu. Rindu yang lebih besar dari yang kamu tau. Karena kamu tak pernah merasakan kerinduanku. Saat kita berdua, meluangkan waktu untuk bersua. Tapi kamu tak akan pernah tau. Karena kamu tak pernah ingin mengetahui bagaimana perasaanku. Aku mencadui rindu karena kamu.

The One and Only

Gambar
Mungkin kamu satu dari seribu pria dalam hidupku yang selalu ada untukku. Tanpa aku sadari, kau selalu ada untukku. Ya, selalu ada untukku. Menemaniku. Tak kenal waktu dan keadaan. Dan apakah kau tahu? Saat aku gundah dengan semua permaslaahan hidup, siapa yang ada disampingku? Kamu Saat aku kesulitan dengan keadaan, siapa yang menenangkanku? Kamu Saat aku merasa bosan ketika guru menerangkan, siapa yang membuatku tertawa? Kamu Saat aku dihukum gara-gara tidak mengerjakan tugas, siapa yang menemaniku menjalankan hukuman? Kamu Saat aku tidak sekolah karena sakit, siapa yang menanyakan keadaanku? Kamu Saat aku tak paham materi pelajaran, siapa yang mengajarkanku? Kamu Saat aku ingin bercerita tapi tak ada yang ingin mendengar, siapa yang menjadi pendengar baik untukku? Kamu Bahkan saat aku menangis karena teman dekatku menyakiti perasaanku, siapa yang sedia memberikan pundaknya untukku? Kamu