Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2014

Apapun itu

Hanya ikan mati yang akan mengikuti aliran sungai. Karena dia sudah kehilangan segalanya, jiwa serta ruhnya sudah tidak berada lagi dalam jasadnya. Hal itu bukanlah sebuah priadi diriku. Bukan sama sekali. Namun, aku pun haris seperti daun yang tak pernah marah pada angin. Menerima pada semua keadaan, memahami dengan pemahaman yang benar, dan bersyukur dengan semua yang diberikan, dimiliki. Tapi untuk sekarang, dimana aku selalu menjadi ikan yang tak mengikuti arus air, bahkan menentang arus sungai, sepertinya harus mencoba menjadi sebuah daun yang selalu menerima semua keadaan dan itu sama dengan aku harus menjadi ikan mati tak berguna (mungkin). Kakakku pernah bilang.. "Jika Tuhan memberikan kesempatan hidup pada seluruh manusia selama 100 hari, maka aku akan meminta pada Tuhanku agar aku hidup selama 99 hari. Bukan karena aku bosan hidup di dunia, atau aku lelah dengan semua persoalan dunia, namun karena aku tidak mau meraskan sebuah kehilangan, satu detik pun. Du...

Ketika Sang Pemimpi Menuliskan Mimpi

Kau pernah bca novel 'Sang Pemimpi' milik Andrea Hirata? Ini adalah kisah seorang pemimpi sejati. Tak ada waktu yang terlewatkan sedetik pun, sampai mimpi-mimpinya inilah yang menjadi alasannya berhenti sekolah. Dia seorang gadis, periang, banyak teman, dan pastinya dia sangat hobi berkhayal. Banyak orang yang menghujaninya dengan berbagai cacian, namun dia tak pernah peduli. Orang tuanya pun sudah tak tahu lagi harus bagaimana mengadapi anak gadinya itu. Jika kau berpikir siapa sia? Mengapa sampai begitu? Memangnya mimpi apa yang dia perjuangkan? Sebuah cinta 'kah? Ya, bisa jadi. Semenjak dia berhenti sekolah, jelas teman-temannya begitu kehilangan soso sepertinya. Selalu menghibur, selalu terlihat tenang dan santai. Banyak orang yang menyukainya, tapi tak sedikit pula orang yang tak menyukainya. Tapi dia selalu bersikap tenang, tak pernah menghujat kembali hanya untuk memuaskan emosinya, dia bahkan tak pernah marah sama sekali. Banyak orang bertanya apa itu ...

Gelar-gelar dalam kehidupan

Saat aku mendapat gelar 'adik' dala kehidupanku; aku hanya berharap bisa menjadi alasan kakakku tersenyum. Senyuman yang setidaknya bisa membuat dia merasa lebih tenang saat tuhan mengujinya dengan sebuah masalah. Saat aku mendapat gelar 'kakak' dallam kehidupanku; aku hanya berharap, aku bisa menjadi alasan mereka kuat dalam menghadapi segala cobaan, serta aku berharap bisa menjadi pelindung mereka dari semua jerumus dunia. Saat aku mendapat gelar 'ibu' dalam kehidupanku; aku hanya berharap bisa menjadi sebuah korek api untuk anak-anakku. DImana aku pandai menciptakan api, tapi itu bukan aku sendiri. Melaikan anak-anakku yang akan selalu menerangi kegelapan dan kegundahan hatiku, dengan doa-doa yang mereka persembahkan. Dan saat aku mendapat gelar 'hamba' dalam kehidupanku; aku hanya berharap pada Engkau, Ya Tuhanku, selalu dan tetap mendengan serta mengabulkan semua harapan-harapanku ini. Amiin.

Jual mahal, katanya...

Seketika aku tertawa melihat mereka memperdebatkan soal jual mahal. Ini bukan barang jualan ataupun sayembara. Ini masalah soal harga diri sepertinya. Antara gadis dan perjaka. Mereka menjalin cinta, yang mereka bilang pacaran. Tak asing dengan kata itu bukan Pasti kalian sudah paham apa maksud 'jual mahal' yang sedang kubahas. Jika masih tak mengerti, mari kujelaskan semuanya. Baca lanjutannya, tak akan menyesal. Seperti biasa, waktu luang saat istirahat atau bahkan saat jam belajar guru tak hadir maka mereka yang katanya menjalin rasa dalam sebuah ikatan cinta, yang mereka bilang pacara. Waktu seperti inilah yang sangat favorit bagi mereka, berbicara atau sekedar bersenda gurau dan bahkan golden time untuk memamerkan kemesraan pada teman-teman di dalam kelas, khususnya para mblo-mblo. Baiklah, aku sudah bercerita terlalu banyak, kembali ke pembahasan awal kita. Jual mahal. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya salah satu temanku sedang berbincang dengan gadisnya di ...