Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Diantara Satuan Nada-nada #Ke-3

KEDEKATAN MEREKA KEMBALI #Rabu, 17 Maret 2011 (Membatalkan janji) It's my first love What I'm dreaming of When I go to bed When I lay my head upon my pillow Don't know what to do...             Terdengar lagu First Love-nya Nikka Costa dari hapeku. Ada pesan yang masuk, dan itu dari Galih. Dia menjalaskan jika dia tidak bisa menemaniku untuk membeli buku. Memang sebelumnya aku meminta Galih untuk menemaniku membeli buku Manusia Setengah Salmon- nya Raditya Dika.             “Sayang, maaf ya. Nanti pulang sekolah aku nggak bisa temenin kamu beli buku. Aku harus nganter ibu dan Nindy ke Bogor. Maaf yaa.” Isi pesan dari Galih membuatku cemburu dan kesal. Tapi untungnya masih sama ibu Galih. Jadi aku tidak terlalu khawatir.             “Iya nggakpapa sayang. Hati-hati ya dijalannya. Tolong sampaikan...

Yang penting niatnya dulu [Edisi Ramadhan]

Gambar
Assalamu'alaikum... Bagaimana puasa ke-tiganya? Semoga tetap lancar dan berkah ya. Oke, untuk kali ini saya ingin membahas mengenai niat. So, apa itu niat? Niat itu sendiri adalah maksud atau tujuan. Nah karena ini adalah bulan Ramadhan, tak ada salahnya 'kan saya membahas mengenai niat. Saya ada sedikit cerita lucu dan menarik untuk dibahas mengenai niat. Mungkin hal ini jarang sekali dibahas, dan terkadang tanpa disadari kita mempelajarinya. Sebut aja anak ini Nurul. Dia anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Kedua kakaknya laki-laki. Sejak dini, Nurul sudah diajarkan mengaji oleh orang tuanya, terlebih ibu. Dia mulai belajar dari Iqra, lalu Juz'Amma, dan selanjutnya Al-Qur'an. Alhamdulillah selama itu dia lancar dan bisa menghafal beberapa surat-surat dalam Al-Qur'an, begitu pun dengan do'a-do'a yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Dia mengikuti beberapa sekolah khusus belajar Al-Qur'an dan perkumpulan-perkumpulan di me...

Kehangatan

Gambar
Ketinggian 3217 di atas permukaan laut jelas terasa dingin yang sangat menusuk. Embun pagi masih menyelimuti permukaan bumi, membuat semua tak bisa terlihat tanpa sorot lampu. Dua hari yang lalu akhirnya rencana kita yang sudah tertunda selama berbulan-bulan bisa terlaksanakan. Menikmati ketinggian salah satu gunung di kota Kembang. Tak mau ketinggalan sunrise, setelah salat subuh aku segera keluar tenda dan menyiapkan kamera untuk memotret detik-detik sang mentari keluar dari peraduannya. Langit yang masih gelap, gerombolan awan yang bergerak dengan pelan-pelan, dan semburat lembayung dari cahaya mentari. Cantik. "Brrrrrr.. dingin banget." Kugosok-gosok kedua tanganku untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk.

Ketika Aku Jatuh Cinta

Gambar
Setahun yang lalu kita bertemu, dengan cara yang tak sengaja. Setahun yang lalu kita bertemu, tanpa sapaan dan percakapan. Setahun yang lalu aku mulai mengenal cinta, merasakan semuanya. Dan tepat selama setahun ini aku memendam rasa, cinta yang tetap sama, padamu. Lelaki yang kutemui setahun yang lalu. “Makasih ya.” Ujarku kegirangan saat kau mengantarku pulang. “Ya. Sama-sama.” Kau menjawab asal tanpa membalas tatapanku, dan itu membuat senyumku yang tadinya merekah, tiba-tiba lenyap tak bersisa sama sekali. Aku tahu betapa bodohnya diriku sampai bisa jatuh cinta pada lelaki sepertimu. ‘Dingin’, ‘lurus’, dan cuek. Tapi entahlah, mungkin memang seharusnya cinta begitu. Untuk kali ini aku jatuh cinta dengan cara yang berbeda, dan dengan perjuangan yang lebih dari biasanya. Aku mencoba mencari cinta yang lain, mungkin bisa menggantikan namamu dalam hatiku. Dan kupikir setidaknya mengisi waktu selama menunggumu sampai saatnya aku berani untuk mengatakan semua p...

Diantara Satuan Nada-nada #Ke-2

MALAM MINGGU Bandung, 14 Maret 2012. Pukul 18 : 00 WIB. Masih di Cafe yang sama, waktu yang sama, dan orang yang sama. Entah kenapa malam minggu ini terasa lebih spesial untukku. Mungkin karena malam minggu ini Galih akan menyanyikan lagu khusus untukku.              Kupoleskan blush on merah muda di kedua pipiku dan ku goreskan tipis lipstick berwarna pink dibibirku. Gaun merah selutut sudah tergantung di punggung pintu kamar untuk kupakai. Malam ini aku sengaja mendandani diriku semaksimal mungkin untuk Galih.             Tiit..tiitt.tiiit... . Suara klakson kuda besi Galih memberiku sinyal jika dia sudah ada di depan rumahku. Pangeran berblezer abu sudah menunggu diatas motor merah itu. Memberikan sedikit tempat untukku dan mengantar kita menuju Cafe bersejarah di kota kembang ini.             “Selamat ma...

[FF Cinta Pertama] - My First Love -

Gambar
Seperti biasa, malam ini aku masih sibuk dengan deadline-ku. Ya, aku lembur dan sepertinya malam ini akan menginap di kantor, tak memungkinkan untuk pulang. Terlalu malam dan aku tak bisa menyetir sendiri seorang diri. 22.45. Begitu kulihat jam di sudut kanan komputer. Laporan yang harus kuserahkan besok pagi belum selesai. Kantuk ini terlalu mengangguku rupanya, tiga gelas mug kopi sudah kulahap habis, tapi nihil. Aku masih tak bisa menahan kantuk. Klik. Klik. Klik. Aku mencoba membuka dokumen-dokumen lamaku. Siapa tahu bisa sedikit mengobati rasa kantukku, walaupun sebenarnya tak ada kaitannya. “My Love” Deg! Tak sengaja aku temukan satu dokumen   yang berhasil mengalihkan perhatianku, sepertinya t ak asing bagiku.

Ketika cinta tak miliki status

Berawal dari teman, kita sering bersama. Pergi jalan, belajar, hujan-hujanan, bolos sekolah, sampai hal-hal kecil apapun kita lakukan berdua. Kau memperhatikanku, aku pun memperhatikanmu. Sungguh tak pernah tersadari jika kita telah menanam rasa yang sama. Selama ini kita merawatnya, menyiramnya diluar batas kesadaran. Selalu bersama membuat rasa yang baru tumbuh liar begitu saja. Kita saling melengkapi, terkadang bertengkar karena kita tak saling mendengarkan karena aku selalu menentang apa yang kamu katakan. Begitupun denganmu, tak pernah mendengarkan perkataanku. Tanpa kusadari itulah sebuah perhatian. Perhatian yang menurutku lebih dari sekedar kata 'teman'. Semenjak lepas SMA, kita berpisah. Kau memilih untuk mengikuti pendidikan militer di sebrang pulau sana, dan aku memilih untuk mencoba meneruskan sekolahku di kota yang selama ini aku bicarakan padamu. Kurang lebih dua tahun kita tak bertemu, sampai akhirnya kita bertemu dalam suasana yang tak pernah terpikirka...

Hitungan ke-25

Lapangan sekolah masih terlihat basah akibat diguyur hujan siang tadi. Aku disini masih asik melihatmu bermain basket. Keringatmu tak begitu kulihat jelas membasahi rambut dan wajahmu. Namun siluet wajahmu yang tersorot matahari sore begitu indah untukku. Oh Josh. “Ini” kusodorkan botol minum yang sengaja kubawa untukmu. “Makasih” kau mengambilnya dan duduk disebelahku. “I love you Josh” kutatap pria disampingku ini. Kau tak menjawab, asik menikmati jus yang kubuatkan untukmu. Kau seakan menganggapku tak ada disampingmu. Aku geram, namun aku sayang. Jus yang dia minum hanya tinggal setengahnya. Sepertinya kau sangat menyukainya. “20... 21... 22... 23... 24...” tinggal setetes lagi. Tubuhmu terjatuh. “25” hitungan ke-25, tak lagi terdengar nafasmu. Maafkan aku Josh. Diikut sertakan dalam #FF111 oleh  @RedCarra |  FF dengan topik 25 via  @siputriwidi

Cinta, yang tidak (pernah) terungkapkan

Dua tahun yang lalu, SMP Tunas Harapan, tepat saat kita pertama bertemu. Tubuhmu masih terlihat lebih besar dan kumismu belum begitu tumbuh. Pagi itu sekolah masih begitu sepi, mungkin aku terlalu cepat berangkat dari biasanya dan kau yang sedang duduk asyik mendengarkan musik dengan headsetmu menjadi pusat perhatianku. Tak ada seorang pun yang terlihat selain kamu dan aku, penjaga sekolah pun tak terlihat batang hidungnya. Sinar mentari pagi menyoroti wajahmu, jika kupandang dari samping terlihat begitu indah siluet wajahmu. Sungguh manis. Lekukan-lekukan dahi, mata, hidung dan dagumu begitu terlihat jelas. Tanpa aku sadari begitu lama aku memandangimu sampai kau mendapatkanku sedang memperhatikanmu. Sungguh aku malu sekali. Kau tersenyum padaku. Oh sungguh, apa kau malaikat yang baru Tuhan turunkan ke bumi? Senyummu begitu menenangkan mata mendegupkan jiwa. Selama dua tahun, rasa ini masih ada, sama persis dengan yang kurasakan pagi itu. Aku sempat berpikir jika ini hanya e...

Kita Antara 2 Benua

Sekedar hadiah kecil yang ku persembahkan teruntuk sahabatku @syllanSGS dan Bung  @wendysuranugra “Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan padaku selama tiga bulan ini. Mungkin ini memang belum waktunya aku dan kamu menjadi kita. Aku akan selalu mengenang semua kenangan yang pernah kita ukir selama tiga bulan ini. Aku tetap menyayangimu walaupun aku dan kamu tak menjadi kita. Dan detik ini kita putus. Selamat tinggal, dan bukalah lembaran barumu yang masih utuh.” Kata manis yang menyakitkan itu terpaksa aku keluarkan dari mulutku pada sosok laki-laki dengan rambut mode tintin di Restoran favoritku. Tepatnya lima bulan yang lalu. Ya, Karel. Kekasihku dulu, tepatnya mantan kekasih. Lima bulan sudah aku menyendiri. Melewati hari bersama sahabat-sahabat terdekatku. Tanpa kata manis atau sekedar sapaan dipagi hari yang selalu singgah di inbox hp-ku. Tapi sudahlah, itu masa lalu dan sekarang aku akan memulai yang baru tanpa ada Karel disampingku.     ...

Diantara Satuan Nada-nada #Ke-1

Pengkhianatanlah yang melahirkan ketidakpercayaan. Aku sangat mengenal rasa itu. Tepat tiga bulan yang lalu, laki-laki bergitar itu meninggalkanku demi seorang wanita berkantong tebal dan berjubah gaun emas. Pengkhianatan yang Galih lakukan padaku memberikan luka yang sangat dalam. Dan karena dia diriku menjadi orang yang sulit membuka diri dan sulit untuk berteman dengan orang baru.  Hanya gitar tua ini yang menemani hari-hariku yang hampa ini, dan hanya gitar ini yang dapat mengungkapkan semua curahan isi hatiku. Ku ungkapkan semua curahanku dengan nada dan simfoni indah yang menenangkan hati. Diawali karena nada dan karena nada semua diakhiri. Dengan gitar ini pula ku tutup rapat-rapat hatiku agar tak terluka lagi. Tapi aku lupa, untuk menyembuhkan luka ini, aku harus menyentuh bagian yang sakit terlebih dahulu dan aku harus menemukan nada yang bisa mengobati dan menenangkan hatiku kembali.  ***** MALAM MINGGU Cafe Solaria, Bandung 18 : 00 WIB Malam mingg...