Surat Untuk Ibu?
Bandung, 22 Desember 2015 Teruntuk ibu yang selalu aku banggakan. Hidup di perantauan, jauh dari pengawasan ibu bukan lagi hal yang aneh untukku. Bahkan aku sudah pernah membayangkan bagaimana rasanya jika hidup jauh dari orang tua, tidak ada omelan, tidak ada perintah dan terlebih tidak ada “ceramah” yang sering kali membuat mulutku menggerutu dan mengundang kantuk. Bebas dan aku bisa melakukan semua yang aku inginkan. Menjadi manusia seutuhnya, yang belajar dengan dirinya sendiri, mengatur semua hidupnya sesuai dengan apa yang akan aku tuju, kalau kata kakak masa ini adalah pendewasaan diri. Masa dimana aku bisa mencari jati diri, mengetahui apa yang belum aku ketahui, dan mencoba apa yang belum aku lakukan. Berbeda dengan sekarang, aku hidup sendiri, ya, sendiri— hanya Allah Swt yang menemani. Kondisi seperti ini bukanlah yang aku harapkan. Semua kulakukan sendiri, sepi dan hampa sekali rasanya. Tak ada yang memperhatikan setiap kegiatanku. Aku tak lagi mencium wangi ...