UN, No worry!
Munkin seharusnya saya mempostingkan tulisan
saya ini sebelum melaksanakan UN, tapi dikarenakan waktuku saat itu padat oleh
berbagai jam belajar, so bolehkan kalau saya baru menuliskannya sekarang? Boleh
saja ya, biar cepet hehe.
Alhamdulillah 3 hari kemarin saya dapat
melewati dan menyelesaikan Ujian Nasional, yang minggu-minggu ini menjadi
perbincangan diberbagai media. Awalnya saya sangat takut dan tak percaya diri,
karena bagaimana pun ujian kali ini akan sangat menentukan nasib saya dimasa
yang akan mendatang. Walaupun pemerintah sudah merubah keputusannya namun tetap
saja, lulus dari sekolah namun tidak lulus UN? Oh sungguh itu bukan hal yang
sangat diharapkan, apalagi untuk mengulangnya tahun depan.
Maka dari itu, setelah selesai melewati ujian sekolah, saya belajar bersungguh-sungguh serta lebih mendekatkan diri kepada sang Maha Besar. Walaupun sedikit kecewa pada diri sendiri, karena tidak menurut perkataan orang tua untuk mengikuti beberapa bimbel di luar jam sekolah, namun itu tak membuat saya patah arang, meski terlambat namun masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya. Mulai dari mengumpulkan beberapa rangkuman buku, pinjam ke perpustakaan, catatan teman, sampai belajar bersama teman. Tak boleh ada lagi kata malas atau nanti, karena yang menentukan nasib saya adalah saya sendiri.
Maka dari itu, UN? NO WORRY!
Saat menghadapi UN, InsyaAllah saya sudah
siap, walaupun tetap saja rasa takut dan tidak percaya diri menyelimuti. Saya
takut tidak dapat menyelesaikan beberapa soal atau tidak percaya diri atas
jawaban yang saya pilih. Semua bersatu. Hari pertama saya lewati dengan baik.
Bahasa Indonesia, alhamdulillah berkat ibu guru yang tak hentinya membimbing
kami, ada beberapa soal yang pernah kita bahas ada dalam soal yang saya
dapatkan. Namun pelajaran Kimia sedikit mengecewakan karena aku tidak bisa
menjawab beberapa soal, yang alhasil aku jawab dengan capcipcus.
Jujur, budaya contak-mencontek masih belum punah. Tapi
alhamdulillah setidaknya dalam beberapa pelajaran saya tidak melakukan tindak
korupsi itu. Saya berusaha mengerjakannya sendiri, baru setelah benar-benar
tidak bisa, karena dalam ujian sama sekali tidak diperkenankan untuk memakai
alat bantu seperti kalkulator dan SPU (read:
SPU khusus pelajar kimia). Itulah
yang membuat saya tidak dapat menyelesaikan beberapa pertanyaan karena sangat
membutuhkan alat bantu, jika tidak mungkin saya baru bisa menyelesaikannya 20
menit lebih. Sayang, lebih baik saya mengerjakan soal selanjutnya.
Hari kedua cukup mengecewakan, karena dimana
hitungan dan hafalan disatukan. Biologi, banyak sekali hafalan yang harus saya
kuasai, tidak hanya pemahaman. Apalagi Matematika, pemahaman sudah pasti harus
dikuasi, namun tak lepas dari rumus dan pasti hitungan yang juga membutuhkan
alat bantu. Sebenarnya bisa saja saya menyelesaikannya tanpa alat bantu, namun
salahnya karena saya terbiasa menggunakan alat bantu, kata guru saya biar lebih
cepat mengerjakannya sehingga tidak memakan waktu banyak. Betul juga kan?
Alhamdulillah akhirnya dapat sampai juga di
hari terakhir, pamungkas nih. Pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika. Saya
korbankan salah satu pelajaran, maksudnya bukan tidak belajar pelajaran itu
sama sekali, tapi lebih memprioritaskan salah satu, sudah pasti itu adalah
Fisika. Karena bukan hanya pemahaman, teori, sudah pasti rumus dan
ketetapan-ketetapan. Di fisika itu komplit, biologinya ada, kimia ada,
matematika ada, dan fisika sudah pasti ada, terkadang georgafi juga ada. So,
saya lebih banyak mempelajari fisika dibandingkan Bahasa Inggris. Dengan buku
hasil meminjam pada Ibu guru, saya mencoba mempelajari beberapa materi yang belum
saya pahami.
UN? No Worry!
Selama kita mempersiapkan diri, mendekatkan
dan meminta kepada Allah Swt agar dimudahkan, serta selama kita tak hilang
harapan. Percayalah jangan mengkhawatirkan UN. Jalani saja, berusaha dan berdoa
pastinya. Buktinya saya dapat melewati ujian ini. Alhamdulillah. Namun jangan
senang dulu, bukan berarti selesai ujian ini semua berakhir, jelas tidak, namun
ini adalah awal sebuah perjuangan. Tetap berikhtiar meminta hasil yang terbaik
kepada sang Maha Pemberi.
Semoga kita dapat lulus bersama-sama dengan
hasil yang diharapkan ya, Kawan!
Hamasah!^^
With Sincerely,
Trias Amalia Sugiharti, siswi kelas XII yang menunggu hasil UN yang diharapkan

Komentar
Posting Komentar