Ketika cinta tak miliki status


Berawal dari teman, kita sering bersama. Pergi jalan, belajar, hujan-hujanan, bolos sekolah, sampai hal-hal kecil apapun kita lakukan berdua. Kau memperhatikanku, aku pun memperhatikanmu. Sungguh tak pernah tersadari jika kita telah menanam rasa yang sama. Selama ini kita merawatnya, menyiramnya diluar batas kesadaran. Selalu bersama membuat rasa yang baru tumbuh liar begitu saja. Kita saling melengkapi, terkadang bertengkar karena kita tak saling mendengarkan karena aku selalu menentang apa yang kamu katakan. Begitupun denganmu, tak pernah mendengarkan perkataanku. Tanpa kusadari itulah sebuah perhatian. Perhatian yang menurutku lebih dari sekedar kata 'teman'.

Semenjak lepas SMA, kita berpisah. Kau memilih untuk mengikuti pendidikan militer di sebrang pulau sana, dan aku memilih untuk mencoba meneruskan sekolahku di kota yang selama ini aku bicarakan padamu. Kurang lebih dua tahun kita tak bertemu, sampai akhirnya kita bertemu dalam suasana yang tak pernah terpikirkan. Aku ditunjuk untuk melaksanakan magang di Rumah Sakit khusus TNI sebagai salah satu tugasku di semester empat ini, menjadi seorang dokter, itulah mimpiku yang selaku kuceritakan padamu.

Aku tak tahu, entahlah apa ini memang takdir Tuhan untuk mencoba mempersatukan kita. Apa kau ingat saat aku melihat matamu untuk pertama kalinya lagi? Sungguh aku tak tahu apa yang aku rasakan. Hatiku meringik, namun euforia mengalahkan itu semua. Jantungku berdebar, kencang! Tak seperti biasanya. Seingatku, jantungku tak pernah sekencang ini. Kakiku tak bisa kugerakkan. Mataku tetap tertuju pada mata yang saat ini bisa membuat seluruh tubuhku lumpuh tak berkutik sama sekali. Kau tersenyum, pandanganku seketika menunduk, tak terkendali.

Seminggu setelah itu, aku mulai terbiasa kembali dengan kebiasaan-kebiasaan yang setiap hari kau lakukan. Jadwal piket jagamu hanya hari Rabu, tapi kau datang setiap hari. Setelah sholat isya, kau selalu memesan jus tomat ke kantin yang kebetulan dekat dengan ruanganku magang. Kau mulai kembali mencoba bercerita padaku. Hari berganti hari, rutinitasku menjadi bertambah. Mendengarkan ceritamu. Kau menceritakan semua perjalananmu semenjak berpisah denganku. Bau parfummu menjadi berbeda, maskulin. Begitu pun dengan postur tubuhmu yang lebih tinggi dan terlihat berisi. Gagah sekali. Diam-diam aku memperhatikanmu.

Sama seperti saat SMA, kau masih perhatian padaku. Lebih romantis dan pengertian. Tak ada status tentang hubungan kita. Tapi aku tak mempersoalkan itu, yang kupikirkan sekarang hanyak menikmati kembali masa-masa yang memang aku rindukan selama ini. Baik kau ataupun aku adalah orang yang sama. Perbedaannya hanya aku perempuan dan kau laki-laki.

Satu tahun lebih, kita sudah bersama. Tak ada pertentangan antara kita. Sekarang aku sudah bekerja di Rumah Sakit swasta, dan kau telah memiliki jabatan yang lebih. Tuntutan pekerjaanmu sebagai seorang tentara, harus meninggalkanku dengan status yang tak jelas. Tapi aku tak memperdulikan itu semua, selama kita masih bisa berkomunikasi dengan baik. Aku disini, dan kau disebrang pulau sana. Sejauh ini kita masih berkomunikasi dengan baik, kau bekerja mengabdi pada negara, dan aku bekerja mengabdi pada masyarakat. 

Satu bulan telah berlalu, tak ada kabar darimu. Aku khawatir, mulau gelisah dan galau. Tapi aku mencoba untuk menenangkan diriku dan terus berdoa. Aku percaya padamu, tak mungkin jika kau menelantarkanku begitu saja. Memang tak ada kalimat yang pernah kau utarakan padaku, namun entahlah dengan meningatmu itu sudah cukup memberikanku kepercayaan dan kepastian bahwa kau adalah milikku.

Tiga bulan. Kau belum juga memberi kabar. Ada apa ini? Kau menelantarkanku? Setelah sekian lama ini aku menunggu, kau tak berpikir tentang perasaanku? Kau tak berpikir tentang keadaanku? Oke, aku sudah cukup sabar selama ini menunggumu. Apa kau tak ingat lagi padaku tuan? Kukira kau laki-laki yang berbeda, kau laki-laki yang bisa kupercaya. Tapi ternyata aku terlalu berlebihan menilai. Kau sama saja. Apa seperti ini takdir seorang wanita, Tuhan?

Empat, lima, enam, dan sekarang hampir tujuh bulan aku masih menunggumu. Dan ini mungkin akan menjadi keputusan akhirku. Jika saat ketujuh bulan ini juga kau tak mengabariku, aku akan melupakanmu. Tak ingin lagi mendengar tentangmu. Tuan, apa aku salah menyimpulkan rasa? Apa aku salah memperjuangkanmu? Apa aku salah memperjuangkan yang aku cinta? Cepatlah tuan, sedetik saja kau beri aku kabar, setidaknya bisa memberiku kepastian. Sungguh, aku sangat mengharapkanmu.

Tuan, jika benar kau adalah jodohku, laki-laki yang memang Tuhan ciptakan untukku. Kemarilah tuan, aku berjanji akan menjadi wanita terindah untukmu. Aku percaya, kau bukan laki-laki yang tak pernah memberi kepastian. Kau laki-laki yang bertanggung jawab atas semua perasaanmu. Aku mencintaimu tuan, aku sayang padamu. Sampai detik ini aku hanya ingin menunggumu. Cepatlah tuan, berikan kepastian padaku. Aku akan tetap disini, menunggu kabarmu, kehadiranmu, dan sosokmu yang akan menemani hidupku

Semoga kau tak keberatan dengan caraku.
Aku menunggumu, aku yakin kau akan kembali padaku.
Memberi kepastian, bahwa aku tak salah mempertahankan cinta untukmu.
Aku pastikan, hanya aku wanita terbaik untukmu tuan.
Jadilah imam dalam keluargaku,jadilah ayah untuk anak-anakku.
Aku mencintaimu, seperti kau mencintai Ibu Pertiwi yang kau taruhkan dengan nyawamu.
Aku, wanita yang berkeringat darah untuk menunggumu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah