Jual mahal, katanya...
Seketika
aku tertawa melihat mereka memperdebatkan soal jual mahal. Ini bukan barang
jualan ataupun sayembara. Ini masalah soal harga diri sepertinya. Antara gadis
dan perjaka. Mereka menjalin cinta, yang mereka bilang pacaran. Tak asing
dengan kata itu bukan Pasti kalian sudah paham apa maksud 'jual mahal' yang
sedang kubahas. Jika masih tak mengerti, mari kujelaskan semuanya. Baca
lanjutannya, tak akan menyesal.
Seperti
biasa, waktu luang saat istirahat atau bahkan saat jam belajar guru tak hadir
maka mereka yang katanya menjalin rasa dalam sebuah ikatan cinta, yang mereka
bilang pacara. Waktu seperti inilah yang sangat favorit bagi mereka, berbicara
atau sekedar bersenda gurau dan bahkan golden time untuk memamerkan kemesraan
pada teman-teman di dalam kelas, khususnya para mblo-mblo.
Baiklah,
aku sudah bercerita terlalu banyak, kembali ke pembahasan awal kita. Jual
mahal. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya salah satu temanku sedang berbincang
dengan gadisnya di depan bangku yang aku duduki. Entah apa awal perbincangan
mereka tadi, aku tak begitu mendengan dan memperhatikannya begitu jelas. Tapi
seketika aku tertawa, saat mereka berkata 'jual mahal'.
"Ah,
tapi kata Hasan (nama disamarkan), kamu itu bilang kalau cowok itu harus jual
mahal."
"Hah?!
Kapan aku bilang gitu?" Protes si Perjaka, karena tak menerima dituduh,
dia langsung memanggil Hasan.
"Memang kapan gue bilang sama lo kalau cowok itu harus jual mahal? Enggak pernah 'kan?!" Begitu jelas kulihat mata si PErjaka sedang melupakan ingantannya. Hahaha. *Geli aku mendengarnya*
"Pernah
kok! Sumpah! Waktu gue lagi ada masalah sama cewek gue, lo bilang cowok itu
harus jual mahal." Hasan begitu polos berbicara jujur, padahal sudah jelas
si Perjaka berharap Hasan tidak mengatakan yang sesungguhnya. Tak ada pilihan
lagi untuk si Perjaka selain mengakuinya.
"Memang
benarkan cowok itu harus jual mahal, masa harus cewek terus. Apalagi saat
detik-detik menunggu jawaban setelah menyatakan cinta, sepertinya memang
sengaja membuat cowok nunggu lama. Apalagi namanya kalau bukan sok jual
mahal?" Jelas Hasan kembali, dan jika kupikirkan kembali dia itu LABIL.
Tadi membiarkan si Perjaka mati kutu dihadapan gadisnya, sekarang malah
membelanya habis-habisan. Jelas saja si Gadis hanya melotot melihat Hasan
angkat bicara. Tenang.. tenang.. kubu si Gadis rak mau kalah sepertinya. Tanpa
diminta Anggit datang untuk membela.
"Ya,
tapi seharusnya cowok itu mengerti cewek. Cewek itu cuma bisa nunggu, enggak
mungkin mengawali. Alasan paling utamanya adalah TAKU ENGGAK DIRESPON, takut di
php-in, dan yang terpenting takut mengganggu." Anggit tiba-tiba saja
nyamber masuk dalam pembicaraan.
Sudahlah
ya, aku capek bercerita, sudah terlalu panjang., bisa kupastikan kalian bisa
menebak akan berakhir seperti apa. Jika si Perjaka adalah lelaki yang
pengertian, pasti dia meminta maaf dan akan kembali rukun. Dan jika sebaliknya,
pasti kalian bis menebaknya bagaimana, bukan? :)
Satu
yang kupelajari dari percakapan si Gadis, si Perjaka, Hasan dan Anggit di depan
bangkuku, soal 'jual maha;'. Akan kukutip sedikit postingan salah satu penulis
favoritku. Tere Liye.
"Pria
yang baik tak akan berani meraba-raba atau bahkan bermesraan dengan gadis yang
disukanya. Bahkan pecaran pun enggan jika itu hanya untuk sekedar sebuah status.
Pria yang baik akan langsung menyatakan rasa cintanya bersama keluarga
besarnya." dan
"Wanita
yang baik, akan menjual mahal harga dirinya. Tak mungkin mengobral dirinya
dengan berdandan berlebihan, agalau-galau di media sosial hanya untuk menarik
perharian sang Perjaka. Justru wanita yang baik akan menutup dirinya dengan
balutan jilbab. Menjaga tubuhnya agar tak tersentuh pria lain selain pria yang
akan menjadi imamnya kelak."
Apa
sekarang kalian sudah mengerti dengan pembahasanku kali ini?
Tentang
'jual maha' katanya..
Ya,
menurutku jika memang jual mahal, tak mungkin seorang wanita rela saja tubuhnya
diraba-raba, disentuh, bahkan dicium. Tak mungkin pula jika seorang lelaki
menjual mahal harga dirinya, jika dia sampai berani memegang-megang gadis yang
dicintainya tanpa ikatan persatuan yang syah.
Ya,
maksudku, 'jual mahal' disini adalah iman dan ketaatan kita kepada aturan Allah
Swt. Semakin kuat iman kita, amaka semakin tinggi dan mahal derajat orang
tersebut. Memang terlalu naif jika zaman sekarang pacaran tak berpelukan,
berciuman, berpegangan tangan, dan sebagainya. Tapi apalah ari kesenangan itu
kawan jika hanya menambah catatan keburukan kita. Sungguh malah sekali!
Percayalah,
akan ada lelaki baik untuk wanita yang baik pula. Perbaiki diri dan akhlah,
maka akan datang lelaki yang lebih baik dari yang kamu harapkan. Karena Allah
Swt mengetahui apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu harapkan.
Salam
damai,
Trias
Indonesia
Komentar
Posting Komentar