Ketika Sang Pemimpi Menuliskan Mimpi
Kau pernah bca novel
'Sang Pemimpi' milik Andrea Hirata? Ini adalah kisah seorang pemimpi sejati.
Tak ada waktu yang terlewatkan sedetik pun, sampai mimpi-mimpinya inilah yang
menjadi alasannya berhenti sekolah. Dia seorang gadis, periang, banyak teman, dan
pastinya dia sangat hobi berkhayal.
Banyak orang yang
menghujaninya dengan berbagai cacian, namun dia tak pernah peduli. Orang tuanya
pun sudah tak tahu lagi harus bagaimana mengadapi anak gadinya itu. Jika kau
berpikir siapa sia? Mengapa sampai begitu? Memangnya mimpi apa yang dia perjuangkan?
Sebuah cinta 'kah? Ya, bisa jadi.
Semenjak dia berhenti
sekolah, jelas teman-temannya begitu kehilangan soso sepertinya. Selalu
menghibur, selalu terlihat tenang dan santai. Banyak orang yang menyukainya,
tapi tak sedikit pula orang yang tak menyukainya. Tapi dia selalu bersikap
tenang, tak pernah menghujat kembali hanya untuk memuaskan emosinya, dia bahkan
tak pernah marah sama sekali.
Banyak orang bertanya
apa itu mimpi? Bisakah hidup dengan segala mimpi-mimpi? Mengapa harus bermimpi?
Atau bahkan 'Apakah maksudmu disini adalah mimpi bunga tidur?'. Baiklah, coba
kalian tarik nafas terlebih dahulu, biar tenang bacanya. Sekarang akan
kuceritakan catatan harian Sang Pemimpi ini.
"Aku terlahir sebagai seorang manusia. Orang tuaku memberiku nama, indah sekali, penuh dengan cinta, doa, serta harapan. Tak mungkin jika orang tua memberiku nama dengan cuma-cuma, pasti ada maksud dan harapan didalamnya. Disini aku tak akan menyebutkan namaku. Bukan aku malu dengan namaku, tidak sama sekali. Apa harus kujelaskan kembali betapa indahnya nama perberian orang tuaku ini? Tapi aku yakin, kamu sudah tahu siapa namaku, karena namaku sudah tertera di cover catatnku ini.
Kau sudah tahu bukan
kisahku sebelumnya? Apa kamu percaya? Kalau kau percaya terima kasih, semoga
berkah TUhan selalu ada untuku. Mari kumulai ceritaku.
Tadi kubilang aku
terlahir sebagai seorang manusia, tapi aku mentakdirkan diriku sebagai seorang
pemimpi. Banyak orang yang mencaciku, tapi banyak juga orang yang menyukaiku.
Aku bermimpi bukan tanpa alasan. Sebentar, aku ingin bertanya padamu. Apa kau
senag bermimpi? Jika ya, teruskan membaca. Tapi jika tidak, lebih baik tutup
saja buku ini dan simpan kembali ke tempat kau menemukan buku tuaku ini.
Delapan tahun yang lalu
aku bermimpi bisa bertemu dengan kawan lamaku. Kamu terpisahkan karena dia
harus pergi mengikuti orang tuanya bekerja. Kami saling mempercayai mimpi kami.
Dia dengan segala senjatanya, bermimpi ingin memasang senjata disetiap
sudut-sudut negara Indonesia. Dan aku dengan semua obat-obatku, ingin
menyembuhkan semua rakyat Indonesia sehat dan pintar.
Namun, ketika kami
berpisah, saat itu pula mimpi-mimpi kami kabur, terbang tinggi menuju langit.
Kawanku bilang, biarlah, jika kau tak dapat mewujudkannya, setidaknya kita
berani untuk bermimpi, dibandingkan mereka yang hanya bisa membual omong besar
kepada rakyat.
Karena ketika seorang
pemimpi berani menuliskan mimpinya, saat itulah Tuhan akan segera
mengabulkannya. Sekarang tugasmu hanyalah mempercayai mimpi-mimpi itu, dan
terus berusaha menjadi yang terbaik. Mimpi terindah adalah mimpi untuk
kehidupan yang bahagia.
Komentar
Posting Komentar