Dear BigBro
Assalamu'alaikum, Kak.
Entah tulisan keberapa yang kutujukan khusus untukmu. Aku tak
peduli apakah kau pernah membacanya, atau tidak peduli sama sekali, yang
terpenting bagiku, aku bisa menceritakan semua keluh-kesah, harapan serta doa
untukmu disini. Aku tidak peduli apakah mereka, teman-temanku, para pembaca
blogku, atau bahkan mereka yang tak mengenalku sama sekali, aku sungguh tak
peduli. Yang kupedulikan sekarang hanyalah dirimu. Kakak keduaku, pangais bungsu atau panengah, begitu kata ibu.
Memang sedikit aneh rasanya, memanggilmu Kakak, tapi jika
aku memanggilmu disini Aa, lebih aneh menurutku, jadi jangan marah atau merasa
anak kota ya, kalau kupanggil Kakak. Just be your self, dare to be yourself.
Tapi jangan keseringan selfie juga, enek
lihatnya brooo. Oke aku akan meneruskan cerita, saat ini aku ingin
membahas mengenai dirimu lagi. Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 1 Mei 2015,
aku mendengar kabar yang entah baik atau buruk dari ibu, kalau kau rupanya
sudah tidak bersama kekasihmu lagi. Itu tidak mengagetkanku, begitu pula ibu.
Karena sudah sekian kali kau mengatakan putus, tahu-tahu membawa dia ke rumah
lagi. Hahaha, no problem Bro, nikmati saja dulu. Let it flow, terkadang cinta membutuhkan waktu untuk bisa saling melengkapi.
Sekarang hanya satu yang mengganjal dalam diriku, satu ketakutan untukku mungkin. Karena aku tak yakin kau bisa melewati saat-saat galau ini dengan ramai-lancar. Aku takut kau malah terjerumus pada hal yang hanya bisa membuat merasa tenang, tidak makan seharian misalnya, atau memutuskan main games sampai lupa kewajiban kita sebagai manusia. Iya, aku takut kau melakukan yang justru membuatmu tidak belajar, membuatmu menjadi manusia yang hilang harapan, bahkan tidak ada lagi tujuan dan semangat dalam mengarungi hidup ini.
Sekarang hanya satu yang mengganjal dalam diriku, satu ketakutan untukku mungkin. Karena aku tak yakin kau bisa melewati saat-saat galau ini dengan ramai-lancar. Aku takut kau malah terjerumus pada hal yang hanya bisa membuat merasa tenang, tidak makan seharian misalnya, atau memutuskan main games sampai lupa kewajiban kita sebagai manusia. Iya, aku takut kau melakukan yang justru membuatmu tidak belajar, membuatmu menjadi manusia yang hilang harapan, bahkan tidak ada lagi tujuan dan semangat dalam mengarungi hidup ini.
Bukan lebay, tapi mungkin ini memang kekhawatiran seorang adik
kepada kakaknya, yang sudah hampir berusia seperempat abad. Aku takut kamu
tidak mau lagi meneruskan kuliahmu, karena dia (kekasihmu) lebih awal mendapat
gelar sarjana, sedangkan kamu harus rela dan berjuang kembali selama setengah
tahun. Dengarkan, itu murni kelalaianmu, sebaiknya, walaupun kau seorang lelaki
yang memiliki wanita, bukan berarti dia akan mengurusmu sepenuhnya seperti ibu.
Berdewasalah, jadilah lelaki mandiri, minimalnya bisa merawat diri sendiri (dengan catatan bukan perawatan
tubuh ya, tapi menjaga kesehatan dan merawat keperluan diri sendiri, kuliah
misalnya). Okeh!
Untuk kali ini saja, tolong dengarkan pendapatku. Aku selalu ingin
yang terbaik bagimu, begitu pula dengan ibu dan bapak. Aku tahu, kau belum
memiliki pekerjaan dan aku pun tahu kalau kau ingin sekali berbisnis. Namun
selama ini, selama aku melihat perjalananmu, dari apa yang aku lihat dan aku
dengar dari ibu ataupun percakapan pribadimu dengan ibu, kau tak pernah
konsisten. Menurutku, itulah sebabnya bisnismu tak pernah berjalan lama. Kau
memang lebih tua dariku, tapi tidak ada yang tidak mungkin bukan jika
pengetahuan mental bisnisku lebih tinggi darimu? (Hehehe bukan sombong, biar
lu panas saja, punya adik hebat kek gue nih berani ngomong lebih hebat dari
kakaknya).
Menurutku, sekarang tugasmu hanya satu. Fokus pada kuliah, fokus
pada skripsimu, dan terlebih lebih mendekatkan diri pada yang Maha Agung, Allah Ajja Wa'jalla. Urusan wanita? Karir? Simpanlah
dulu. Jika memang jodoh tidak akan kemana, lebih baik sekarang fokus pada
pendidikanmu, perbaiki diri, siapkan diri agar kelak bisa menjadi panutan yang
baik untukku, bisa menjadi imam bagi keluargamu, bisa menjadi suami yang bisa
diandalkan, dan menjadi ayah yang siap melindungi dan mendidik anak-anaknya.
Ingin membahagiakan dan membanggakan orang tua? Jika kau mampu dan berhasil
seperti apa yang aku katakan tadi, aku yakin ibu dan bapak akan bahagia, mereka
pasti bangga memiliki anak sepertimu.
Dear BigBro, DO
YOUR BEST! Maka semua kebahagiaan yang hakiki akan menghampirimu.
With Sincerely,
Trias, you LilSist.
wah bner-bner perhatian nih mba sama kakaknya
BalasHapusHehe, iya nih tapi sayang, beraninya cuma lewat tulisan, nggak pernah ngomong langsung atau kirim link ini ke kakak saya, hehe. Tapi semoga suatu hari beliau menemukan tulisan ini, hehe malah curcol.
HapusTerima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak :)