Surat Untuk Ibu?
Bandung, 22 Desember 2015
Teruntuk ibu yang selalu aku banggakan.
Hidup di perantauan, jauh dari pengawasan ibu bukan
lagi hal yang aneh untukku. Bahkan aku sudah pernah membayangkan bagaimana
rasanya jika hidup jauh dari orang tua, tidak ada omelan, tidak ada perintah
dan terlebih tidak ada “ceramah” yang sering kali membuat mulutku menggerutu
dan mengundang kantuk. Bebas dan aku
bisa melakukan semua yang aku inginkan. Menjadi manusia seutuhnya, yang belajar
dengan dirinya sendiri, mengatur semua hidupnya sesuai dengan apa yang akan aku
tuju, kalau kata kakak masa ini adalah pendewasaan diri. Masa dimana aku bisa
mencari jati diri, mengetahui apa yang belum aku ketahui, dan mencoba apa yang
belum aku lakukan. Berbeda dengan sekarang, aku hidup sendiri, ya, sendiri—
hanya Allah Swt yang menemani.
Kondisi seperti ini bukanlah yang aku harapkan.
Semua kulakukan sendiri, sepi dan hampa sekali rasanya. Tak ada yang
memperhatikan setiap kegiatanku. Aku tak lagi mencium wangi aroma masakan
setiap pulang sekolah, tidak ada lagi kecupan hangat di kedua pipiku, tidak ada
lagi pertanyaan-pertanyaan tak bertuan yang terdengar ketika aku terlalu sibuk
dengan laptopku.
Ibu, tidak terasa 5 bulan sudah aku lewati kehidupan
tanpamu disampingku. Aku rindu semua belaimu, aku rindu semua candamu, aku
rindu dengan semua perlakuanmu, walau sering kali membuat aku jengkel karena
ulah ibu yang jahil selalu mengganggu konsentrasiku, tapi itulah yang membuatku
nyaman berada di rumah. Ah ya, ini sudah masuk musim penghujan, biasanya kau
selalu menyediakan jagung manis untuk dinikmati saat hujan turun deras. Wangi
goreng jagung manis yang dicampur sedikit bumbu-bumbu ajaibmu itu, berhasil
membuat perutku keroncongan. Aku rindu dengan semua kegiatan yang kita lakukan
bersama di rumah, dimana setiap malam menjelang, kau akan tetap terjaga selama
aku masih belum beranjak dari depan laptopku dan memastikan sampai aku sudah
lelap dalam tidurku.
Ibuku tersayang, apa kau tahu bagaimana aku disini
tanpamu? Apa kau tahu apa yang selalu ada dalam pikiranku selama ini? Dan apa
kau tahu seberapa besar cintaku padamu? Hari pertama menjalani kehidupan disini
tanpamu rupanya bukanlah hal yang mudah, sulit untuk aku jelaskan, namun satu
yang harus kau tahu. Aku disini berusaha untuk belajar lebih dari biasanya, aku
belajar untuk tetap menjaga kerapian tempat tinggalku—kosan, aku belajar untuk
bisa mengatur waktu dan keuanganku, dan aku belajar bagaimana seharusnya
seorang perempuan bertahan, namun sayangnya semua itu baru aku pelajari
sekarang, bukan dulu—saat kau masih ada disampingku. Aku tahu ini terlambat,
namun tidak ada salahnya untuk terus berusaha.
Jauh di dalam pikiranku, nasihatmu kemarin sebelum
melepasku pergi selalu terngiang-ngiang—“Jadilah
perempuan yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, karena dirimu sendiri
yang akan membawamu pada masa depanmu kelak. Bukan ibu atau pun bapak. Sekarang
kamu sudah mulai dewasa, maka selesaikanlah apa yang sudah kamu pilih, nikmati
dan pelajari setiap keputusan yang Allah Swt berikan. Jalani sepenuh hati, dan
semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ibu percaya padamu, tak perlu
pikirkan bagaimana kekecewaan hatiku, namun pikirkanlah bagaimana perasaanmu
ketika kamu mengecewakan dirimu sendiri. Jangan berjanji pada siapa pun, namun
berjanjilah pada dirimu sendiri. Lakukan yang terbaik dari apa yang kamu mampu.
Ucapkanlah nama-Nya dalam keadaan senang atau pun susah.”—semua tergambar
jelas.
Ibu, ini bukan terakhir surat dariku, namun kau
harus tahu. Cinta dan sayangku lebih besar dari apa yang kau tahu, karena
sesungguhnya aku tidak pernah menyatakannya padamu. Kusimpan disini—dalam
relung jiwaku, sebaik mungkin, sedalam mungkin, sampai tak ada yang
mengetahuinya selain Dia, Sang Pemilik Cinta. Biarkan rasa ini membelenggu,
agar aku tetap sadar, ada malaikat yang sudah Allah Swt siapkan untukku.
Sekarang aku tahu kemana arahku untuk kembali pulang—padamu, malaikat terhebat.
Tak berdaya jika aku harus membalas semua perjuanganmu, tapi semoga apa yang
aku lakukan selama ini bisa mengukir sedikit simpul di wajahmu, air mata
kebanggaan, dan I just wanna to say—I
love you for now and forever.. Happy mother days... You’re the best mom ever I
had! Jika aku dilahirkan kembali, maka aku akan memohon pada Allah Swt untuk
menjadikanmu ibuku lagi.
Dengan cinta dan air mata kerinduan,
Trias Nurwana.
Jadi kangen ibuku :(
BalasHapusAku juga! Padahal satu bulan kemarin libur kuliah, tapi tetap saja masih kangen :")
Hapus