[Review Buku] Sabtu Bersama Bapak Karya Adhitya Mulya
Ketika malam dua tahun yang lalu, saya sedang asyik membaca lini masa di twitter, ada beberapa penerbit yang sedang membahas buku terbitan terbarunya. Judulnya yang cukup menarik membuat saya ingin mengikuti setiap tweet yang sedang membahas beberapa inti cerita dalam bukunya. Sabtu Bersama Bapak, merupakan novel kelima karya Adithya Mulya. Recommended. Langsung saya tulis di list buku-buku yang ingin saya beli. Kalau sedang beruntung dapat hadiah dari kuis, saya tidak perlu mengeluarkan tabungan untuk membeli. Tapi jarang sekali, belum pernah bahkan. But, ya bawa senang saja. Nambah-nambahin tweet, hehe.
Well, ceritanya setelah satu tahun
berlalu dari malam itu, saya pergi ke toko buku di Bandung—kebetulan saat itu
saya sudah kuliah di Bandung, berniat membeli beberapa buku untuk kuliah dan salah
satu novel Kang Abik yang sudah saya cari dari kapan tahun. Saat menuju tempat
kasir, tidak sengaja ada cover novel yang lucu namun sederhana, warnanya yang
mencolok membuat langkah kaki saya terhenti. Saya bertemu lagi dengan novel
Sabtu Bersama Bapak—dia ada di deretan buku bestseller bulan itu, ingin sekali
membawanya pulang, sayangnya uang saya tidak cukup—ada sih sebenarnya, tapi
bisa-bisa saya tidak makan dua hari. Walhasil saya urungkan untuk membawanya
pulang ke kosan.
14 Maret 2016, dua hari setelah umur
saya bertambah satu tahun. Salah satu Kakak Angkat saya tiba-tiba mengirimkan
foto beberapa dialog yang ada dalam salah satu halaman novel. Dan tidak salah
lagi, itu dialog antara Cakra dan Ayu. Tidak perlu basa-basi saya segera
booking—antri untuk bisa meminjam bukunya. Akhirnya setelah mengantri lama, 7
Juni 2016 saya mendapatkan giliran untuk membaca—dan sampai sekarang bukunya
belum saya kembalikan, karena kebetulan saya dapat kesempatan ikut Gala
Premier, dan beliau tidak bisa ikut jadi request agar bukunya ditandatangani
sama Kang Adhitya. Tiga hari baru bisa saya selesaikan novel itu—biasanya satu
malam juga selesai, tapi karena kemarin tugas kampus lagi manja, keroyokan
minta dikerjain.
Oke ini malah jadi curhat. Jadi kita
langsung saja review bukunya ya. InsyaAllah nanti setelah filmnya turun tayang
baru saya share review filmnya.
Judul : Sabtu Bersama
Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Desainer
Sampul : Jeffri Fernando
Penerbit : GagasMedia
Genre : Fiksi: Novel,
Romance
Tahun
Terbit : 2014
Jumlah
Halaman : 278 hlm; 13 x 19 cm
ISBN : 979-780-721-5
Harga : Rp. 53.000,- (Harga
saat di bazaar Gramedia di Bandung Indah Plaza tanggal 2 Juli 2016)
Sinopsis :
Video mulai berputar.
“Hai
Satya! Hai Cakra!” sang Bapak melampaikan tangan.
“Ini
Bapak.
Iya,
benar kok, ini Bapak.
Bapak
Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit.
Alhamdulilah,
berkat doa Satya dan Cakra.
…
Mungkin
Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi,
Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin
tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin
tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak
sudah siapkan.
Ketika
kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung kemana harus mencari
jawaban.
I
don’t let death take this, away from us.
I
don’t give death, a chance.
Bapak
ada di sini. Di samping kalian.
Bapak
sayang kalian.”
Ini
adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta.
Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tenatang
seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang
bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
Review
:
Jika biasanya dalam novel saat kita
membuka lembar pertama setelah keterangan hak cipta adalah ucapan terima kasih.
Berbeda dengan novel Kang Adhitya yang satu ini, ada bagian “Prakata”—kata pengantar, yang menjelaskan
mengenai latar belakang cerita dalam buku ini terlahir. Begitu juga dengan
prolog yang begitu apik membuat saya tertarik untuk mengetahui ceritanya lebih
lanjut.
Dari judul dan sinopsisnya saja saya
sudah bisa menebak apa tema dari cerita di dalam novel ini, sederhana memang,
namun cerdasnya Kang Adhitya Mulya dalam mengemas cerita menjadi luar biasa.
Cerita yang dibuat dengan menggunakan bab dan alur yang campuran—maju-mundur, membuat saya tidak begitu sulit untuk mencerna
setiap peristiwa dalam cerita.
Cerita yang diawali dengan
menggambarkan—secara tidak langsung, bahwa Sang Bapak Gunawan Garnida menderita
sakit kanker yang divonis dokter tidak memiliki waktu yang lama lagi dan
kekhawatirannya untuk kelangsungan hidup keluarganya—Ibu Itje Garnida, Satya
Garnida dan Cakra Garnida. Namun pribadi
Pak Gunawan yang perencana sejati, tidak membuat kehidupan keluarganya itu
berjalan tanpa sebuah rencana.
Kekhawatiran Pak Gunawan karena
takut tidak bisa membimbing anak-anaknya untuk menjalani kehidupan, beliau
memutuskan membuat rekaman video untuk Satya dan Cakra. Menggunakan handycam
dan tripodnya. Beliau memulai dari tahun 1991—ketika dokter memvonisnya.
Ratusan video beliau buat dan dimasukkan dalam sebuah kaset. Setiap waktu
beliau membuat rekaman video tanpa diketahui oleh Satya dan Cakra. Sampai pada
sisa waktu terakhirnya, ratusan kaset sudah dia buat tersusun rapi dalam sebuah
lemari. Lengkap dengan indeks yang komprehensif. Ada nomor dan topik.
Pak Gunawan mengajarkan pelajaran
kehidupan pada Satya dan Cakra melalui rekaman videonya yang dibuat begitu
virtual. Menerima cerita-cerita dari Bapak. Dan setiap Sabtu sore menjadi waktu
terbaik bagi mereka. Sabtu bersama bapak.
Berbekal pelajaran kehidupan dari
sang Bapak, mengantarkan Satya dan Cakra mengarungi hidup mereka masing-masing.
Menjadi manusia yang sukses dan karir yang gemilang. Satya yang akhirnya
menetap di Denmark dan bekerja sebagai seorang geophysicist untuk salah satu perusahan minyak dan Cakra yang
diusia mudanya dapat menduduki jabatan cukup tinggi di sebuah bank asing dan menjabat
sebagai Deputy Director.
Sementara untuk Ibu Ijte, beliau
mempersiapkan sebuah bisnis untuk istrinya yang pandai memasak. Dan dengan
berjalannya waktu, rumah makannya sudah memiliki delapan cabang sehingga
membuat Ibu Itje cukup untuk memberikan pendidikan terbaik untuk Satya dan
Cakra serta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setelah anak-anaknya merantau
meninggalkannya.
Dan berjalannya waktu, Satya dan
Cakra memiliki permasalahan hidup yang berbeda. Hanya berbekal pelajaran
kehidupan dari sang Bapak melalui rekaman video-video. Walaupun ada beberapa
video yang seharusnya tidak diberikan secara bersamaan kepada anak-anaknya,
namun Cakra selalu ikut menyaksikan rekaman yang sang Kakak putar. Sehingga
umur mereka yang terpaut berbeda tigas tahun, membuat Cakra menjadi tumbuh
lebih dewasa dibandingkan anak seumurnya.
Cerita dalam novel ini begitu
disajikan secara rapi, runtutan setiap masalah dan pelajaran hidup yang
disampaikan dalam video mengalir bersama. Satya yang menjadi pribadi yang
sangat perfeksionis dan selalu bertindak sesuai dengan apa yang sang Bapak
katakan, justru memimbulkan masalah dalam keluarga kecilnya. Sang Istri, Rissa
yang memiliki karier yang sangat baik namun dengan besar hati dia tinggalkan
agar bisa mengurus anak mereka—Ryan, Miku dan Dani. Jika ada sedikit kesalahan
yang dilakukan Rissa dan anak-anaknya, tak segan-segan Satya akan menyalahkannya
dan marah besar. Sehingga tibalah pada puncaknya Rissa kecewa dan marah kepada
sang Suami. Tindakan Rissa yang seperti itu membuat Satya berpikir dan ingin
berubah serta memperbaiki dirinya agar dapat menjadi seorang bapak dan suami
yang baik. Satya teringat dengan cerita, pesan dan pelajaran kehidupan dari
sang Bapak.
Sementara Cakra tumbuh menjadi
pribadi yang penuh rencana, ketakutannya dalam salah mengambil keputusan
membuatnya lebih lama untuk mendapatkan cinta sejatinya—teman hidupnya. Sampai
pada akhirnya, diumurnya yang 30 tahun—sudah memiliki pekerjaan tetap, rumah
pribadi dan pemahaman agama serta pengalaman hidup yang dirasa cukup untuk
modal menjalani bahtera rumah tangga, dia sudah siap untuk mencari cintanya.
Dan bertemulah dia dengan seorang gadis cantik bernama Ayu. Tapi sayangnya,
masa jomblonya yang terlalu lama, membuat Cakra menjadi laki-laki yang kaku dan
kikuk setiap bertemu dengan Ayu. Banyak sekali tantangan yang harus dia hadapi,
mulai dari Salman—teman kantornya yang memiliki jabatan yang sama namun berbeda
divisi dan memiliki selera style yang
lebih baik dibandingkan dengan Cakra, lalu sang Ibu yang selalu berusaha
menjodohkannya dengan anak gadis teman-temannya. Tak gentar, seribu cara Cakra
lakukan untuk mendapatkan perhatian dari Ayu. Sayangnya, Ayu justru lebih
terpikat oleh Salman.
Dan akhirnya, Cakra menerima
“perjodohan” yang ditawarkan sang Ibu. Retna—Ayu Retnaningtyas, nama gadis yang
akan ditemuinya di Museum Fatahillah. Satu hari penuh Cakra gunakan
kesempatannya. Sampai tiba pada percakapan terakhirnya. Dan pelajaran kehidupan
dari sang Bapak, berperan di sini.
“Mas pernah bilang, bagi Mas,
saya itu perhiasan dunia akhirat.”
“Iya.”
“Kenapa bisa bilang begitu?”
“Kamu pintar. That goes without
question. Kamu cantik. Itu jelas.”
“Itu semua dunia,” potong
Ayu.
“Dan karena pada waktunya, saya
selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan.”
“…”
Sementara bagaimana dengan cerita
sang Ibu? Tidak terduga, hasil dari pemeriksaan dokter beberapa waktu lalu
menyatakan bahwa Ibu Itje mengidap kanker payudara yang harus segera ditindak
dengan operasi. Beliau melakukan operasi tanpa sepengetahuan Satya dan Cakra,
hanya ditemani Bibik dan Pak Dadang. Alasan Ibu Itje tidak memberitahukan
anak-anaknya karena beliau tahu betapa anak-anak sayang pada dirinya. Sayang
mereka sudah tanpa batas. Sang Ibu bukannya tidak ingin di-support, tapi dia tahu bahwa anak-anaknya sedikit lebay. Satya yang
tinggal jauh pasti akan pulang, meninggalkan pekerjaannya dan pulang
merawatnya, sementara Cakra akan berhenti mencari jodoh dan mengurus dirinya
sampai sembuh. Kembali Ibu Itje teringat pesan sang Suami. Bahwa dia
mempersiapkan bekal untuknya agar tidak meyulitkan anak-anaknya. Bahwa dia
harus bisa memenuhi janjinya—mengantarkan
Cakra menikah.
Lantas bagaimana cerita selanjutnya
antara Satya dengan Rissa dan anak-anak?
Bagaimana cerita tentang Cakra
dengan Ayu? Akankah mereka bersatu?
Dan bagaimana dengan hasil operasi
Ibu Itje
Dapatkan semua jawabannya dalam novelnya, ya!
:D
So, pesan terakhir dari
review saya untuk novel Sabtu Bersama
Bapak ini: bahwa sebagai manusia, kita selalu memiliki kesempatan. Kesempatan
untuk berbakti, menyayangi, mencintai, memperjuangkan, berkorban, bersyukur dan
bahagia, bahkan kita memiliki kesempatan untuk memahami arti dari setiap
masalah dalam kehidupan ini. Bukan masalah benar atau salah, bukan masalah baik
atau buruk, bukan masalah kekuatan atau kelemahan, dan bukan masalah untuk atau
pada siapa. Tapi tentang membangun hubungan yang bertanggung jawab, saling
memiliki dan melepaskan. Seperti yang diucapkan Cakra pada Ayu, “Membangun sebuah hubungan itu butuh dua
orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan.
Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan
tanggung jawab orang lain.”
Akhir kata: ayo segera baca (dan
beli) bukunya. Kita sebarkan virus gemar membaca untuk Indonesia yang cerdas! J
Keren teh 🥰😍😍😍
BalasHapus