Cerita Bapak Dalam Film

“Walaupun telah tiada,  bapak akan selalu ada” – kalimat pembuka  dalam undangan Gala Premier  film Sabtu Bersama Bapak tanggal 2 Juli 2016 kemarin di CGVblitz Mall Bandung (BEC).
Untuk kesekian kalinya cerita dalam novel diangkat menjadi sebuah film. Dari salah satu novel bestseller karya Aditya Mulya, Sabtu Bersama Bapak. Film yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan Aditya Mulya sebagai penulis skenario, serta para casting dalam film ini – Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin C. Putra, Acha Septriasa, Deva Mahenra, Sheila Dara Aisha, Ernest Prakarsa, Jennifer Karnelita, Rendy Kjaernet, Tutti Kembang Mentari, Farras Fatik dan Tri Yudiman. Penasaran dengan acting para casting? Nonton filmnya!

Pengangkatan tema cerita yang sederhana namun dapat mengemas cerita menjadi luar biasa, dimana cerita dibuka dengan persoalan klasik sebuah keluarga. Sang Bapak yang diperankan oleh Abimana Arya Satya, divonis kanker dengan ancaman kematian (lagi-lagi, penyakit yang menjadi tren dalam film Indonesia). Pak Gunawan, Sang Bapak dengan pribadi yang perencana segera membuat sebuah perencanaan yang sangat matang untuk kelanjutan hidup keluarganya – Sang Ibu, Bu Ijte yang diperankan oleh Ira Wibowo, Si Sulung, Satya yang diperankan oleh Arifin C. Putra, dan Si Bungsu, Cakra yang diperankan oleh Deva Mahenra.

Kekhawatiran Pak Gunawan yang tidak bisa membimbing anak-anaknya sampai dewasa karena vonis kematiannya, membuatnya mempersiapkan rekaman kaset untuk membimbing anak-anaknya, Satya dan Cakra. Selama sisa waktu yang beliau miliki, setiap waktu beliau membuat video-video rekaman tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Sampai pada akhirnya beberapa tahun selanjutnya, berbagai pesan dan pelajaran kehidupan sudah beliau sampaikan dalam rekaman kaset yang beliau kumpulkan, hanya satu pesan yang beliau tidak bisa sampaikan. Tidak luput pula beliau mempersiapkan untuk menunjang kebutuhan kehidupan mereka, yaitu membuka rumah makan – karena keahlian memasak Ibu Itje. Penasaran? Nonton filmnya!

Dan setiap Sabtu menjadi momen khusus untuk Satya dan Cakra menonton video Sang Bapak, yang didampingi Sang Ibu, Itje. Untuk bertemu dan menerima pelajaran dari Pak Gunawan. Berbekal pelajaran dari video Sang Bapak itulah Satya dan Cakra mengarungi kehidupan, sehingga mengantarkan mereka menjadi anak-anak yang hidup mandiri dengan karir masing-masing.

Pengemasan cerita yang sangat luar biasa, Monty Tiwa berhasil membuat cerita menjadi penuh konflik, air mata, drama, bahkan kehadiran Ernest Prakarsa dan Jennifer Karnelita yang berperan sebagai Firman dan Wati, anak buah Cakra yang selalu menganggu aktivitasnya di kantor berhasil membuat penonton tertawa. Penasaran bagaimana acting Deva Mahenra ketika dikerjai oleh Wati, Firman dan anak-anak buahnya? Nonton filmnya, hindari spoiler :D

Tidak terasa film dengan durasi kurang dari dua jam ini sudah berakhir. Masih haus dengan kelanjutan ceritanya, tuntas  tapi masih ada yang membuat saya menyisakan rasa penasaran. Dimana dalam film ini, ada yang terasa aneh. Ketika Acha Septriasa berperan sebagai menantu Abimana Aryasatya, dimana biasanya dalam film-film sebelumnya mereka biasanya berperan sebagai sepasang suami-istri. Bagi saya agak terasa aneh. Dari segi penokohan, dimana ada tiga pasangan, yaitu Abimana dengan Ira Wibowo, Arifin dengan Acha dan Deva dengan Sheila. Dan antara pasangan Abimana dengan Ira Wibowo dan Arifin dengan Acha, bagi saya terasa membosankan. Abimana yang masih memerankan karakter serupa dalam film sebelumnya – suami yang penyayang serta peduli pada istri dan anak-anaknya. Acha dengan karirnya yang bagus, walaupun dalam film ini memiliki tantangan yang harus dia hadapi dari suaminya. Penasaran bagaimana ceritanya? Nonton ya. Jangan sampai ketinggalan :D

Namun jangan khawatir, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Banyak sekali adegan yang mampu membuat kita tertawa, terlebih candaan Cakra dengan Wati, apalagi kekikukan Cakra pada wanita pujaannya. So Lame! … “Lihat deh.. bunganya… bagus ya.” Ah sudah, nanti spoiler lagi. Segera nonton filmnya ya!

Dengan kesederhanaan tema cerita yang diangkat, mampu menyampaikan makna kehidupan yang luar biasa, peran Abimana sebagai Bapak yang menyampaikan pelajaran kehidupan tidak hanya kepada anak-anaknya, namun kepada kita sebagai penonton sangat mudah untuk diterima, memberitahu tanpa merasa diceramahi, dan mengajarkan tanpa merasa digurui. Dapat dikatakan film ini tidak hanya memiliki moral value, tetapi memiliki nilai edukatif, khusunya untuk kita yang masih ada, yang masih muda dalam menjalani kehidupan ini. Cerita dalam film yang hampir dikatakan paripurna namun nyata jika kita mampu melakukan hal yang sama. Bagaimana menjadi manusia yang sukses bukan hanya materil, namun moral dan pribadi yang sukses pula.

“Film ini bukan hanya sekedar tontonan, tapi menjadi tuntunan” begitu kira-kira jawaban Deva Mahenra ketika ditanya kenapa rakyat Indonesia harus menonton film ini saat Gala Premier di Bandung kemarin. Penuturan para casting,  berhasil membuat saya tidak hanya sekedar menonton dan memahami amanat yang disampaikan dalam film ini. Tapi membuat saya menjadi bertafakur dan bersyukur. Dan pesan utama dari film ini adalah setiap manusia itu selalu memiliki kesempatan. Tinggal bagaimana kita menggunakan kesempatan itu dengan baik atau tidak. Kesempatan untuk berbakti pada orang tua, kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang kita cintai, kesempatan untuk menyadari, kesempatan untuk bisa menikmati hidup, dan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri, bahkan kesempatan untuk bahagia tanpa mempertanyakan kebahagiaan itu sendiri. Semua tergantung pada pilihan dan keputusan kita dalam menjalani hidup. Dan Bapak, akan selalu ada walau telah tiada. Kasih sayangnya, pengorbanannya, serta mungkin banyak sekali yang kita belum tahu dari Bapak.

“… Bapak ada di sini. Di sampaing kalian. Bapak sayang kalian.”

Penutup film yang sangat cerdas lagi dari Monty Tiwa, Sabtu Bersama Bapak merupakan tontonan yang menarik untuk dinikmati dengan semua orang, tidak hanya keluarga, teman, bahkan pasangan. Sayang sekali kalau kita melewatkannya begitu saja. Satu lagi, kalau nonton bawa tisu ya! Enjoy watching. Support perfilman Indonesia! :’D

Garut, 3 Juli 2016

Anak yang selalu sayang Bapak, Trias Nurwana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah