BUNGA PENUTUP ABAD
Pementasan teater "Bungan Penutup Abad' yang sukses digelar bulan Agustus 2016 ini kembali dipentaskan di kota Bandung sebagai acara pembuka dalam rangkaian kegiatan peringatan Bandung Lautan Api pada tanggal 10 dan 11 Maret 2017 di Teater Taman Budaya Jawa Barat.
Bunga Penutup Abad ini merupakan adaptasi dari dua buku Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yang terdiri atas Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Berkisah tentang kehidupan Minke dan Nyai Ontosoroh setelah kepergian Annelies ke Belanda, serta tentang surat-surat yang dikirimkan Panji Darman-- seorang pegawai yang diutus Nyai Ontosoroh untuk menemani Annelies dalam semua perjalanannya-- yang mengabarkan kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya sampai kabar meninggalnya Annelies yang membuat Minke memutuskan pergi ke Batavia untuk meneruskan sekolah.
Kang Wawan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah sangat cerdas mengemas cerita dari dua buku menjadi satu kesatuan yang utuh. Tokoh Minke yang diperankan Reza Rahadian juga memiliki kharisma yang juga sama saat saya membaca bukunya, begitu pula dengan pemain yang lain.
Cerita bergulir begitu apik dan rapi walaupun alurnya maju-mundur. Pergantian suasana dan keadaan, antara kehidupan Minke dan Nyai ontosoroh setalah dan sebelum kepergian Annelis, sampai pada kepergian Minke ke Batavia, suasananya sangat terasa berbeda.
Pesan-pesan yang ada dalam dialog ataupun narasi dapat sampai dan dimengerti, emosi sertiap pemain pun sangat terasa dan berhasil membuat penonton ikut larut dalam keadaan cerita. Berbunga-bunga ketika pertemuan pertama Annelies dan Minke, senang ketika Annelies, May, dan Minke bernyanyi sambil menari, tegang ketika Jean Marais memberi masukan pada Minke tentang tulisan Minke yang selalu ditulis dalam bahasa Belanda dan selalu melihat Eropa benar, serta mengajak Minke untuk mulai mengenal lebih dalam bangsanya dan mulai menulis dalam Bahasa Melayu, sakit hati ketika dan marah ketika Nyai Ontosoroh menceritakan pertemuan dirinya dengan Tuan mellema pada Annelis, kesal ketika hasil persidangan putih Hindia Belanda membuat Annelies harus pergi ke Belanda dan harta benda yang selama ini diurus dan dikelola oleh Nyai Ontosoroh dan Annelies yang sementara waktu menjadi hak milik anak tirinya karena perkawinan Minke dan Annelies dianggap tidak sah namun Minke dan Nyai Ontosoroh tidak bisa berbuat apa-apa lagi, marah, kesal, bingung, tak berdaya, dan menyerah ketika mendapatkan kabar tentang kematian Annelies di Belanda. Bahkan penonton tertampar dengan beberapa pesan yang disampaikan, tentang integritas kita pada negara dan azas yang kita pegang selama ini, tentang kejujuran kita sebagai terpelajar dan manusia.
Begitu pula unsur lain yang mendukung suksesnya pementasan teater ini, musik yang sangat indah ikut membagun suasana di setiap adegan, lighting yang memberikan atmosfer keadaan setiap adegan, kostum yang dipakai begitu memperlihatkan bagaimana status dan keadaan setiap pemain, serta properti yang sederhana namun mampu menghidupkan.
Komentar
Posting Komentar