Sayang yang Tak Terucap
Aku
tidak tahu harus memulai dari mana dan bagaimana. Biarkan saja penaku ini yang
akan memulai dan mengungkapkannya. Mungkin tulisan ini tidak penting untuk
sahabat pena yang membaca, tapi bagiku tulisan ini sangatlah berarti. Aku harap
tulisan ini bisa dibaca ibu, mungkin ini bukan tulisan, tapi ini hanya sekedar
surat kecil yang tak bisa aku sampaikan kepada ibu. Aku khususkan tulisan
(mungkin surat) ini semata-mata untuk menjawab pertanyaan yang selalu ibu
lontarkan kepadaku. Dan jika ini ibu yang membaca, baca dengan baik-baik ya bu.
Ibu,
mungkin aku gagal menjadi anak yang ibu inginkan. Setiap semua keinginan ibu,
selalu aku bantah dan tidak pernah ku lakukan. Bukan karena aku tidak lagi
menyayangimu bu, tapi aku tak ingin membohongi diriku sendiri, dan aku ingin
menjadi diriku yang sebenarnya. Bukan juga karena aku tidak ingin lagi
mendengar ataupun menuruti perkataanmu lagi, tapi aku hanya ingin mencoba
menjelaskan apa yang aku inginkan sesungguhnya.
Bu,
sering kali aku merasa tersaingi oleh kakak-kakak yang selalu menjadi prioritas
utama bagi ibu (dimataku). Aku tahu, ibu juga memprioritaskan aku sama dengan
kakak-kakak, tapi entahlah mengapa diri ini merasa tersingkirkan oleh kehadiran
kakak-kakak. Bu, aku mohon pahamilah diriku yang sebenarnya, untuk sekali ini
saja.
Bu,
aku ini adalah anak pemalas dimatamu (mungkin), dibandingkan dengan kakak yang
selalu menuruti semua perintahmu. Tapi bu, pahamilah. Sesungguhnya aku tak
ingin bermalas-malasan, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa
bermanja-manja padamu. Itu tindakan yang salah ! Ya, aku tahu. Tapi
hanya itu yang bisa aku lakukan, hanya itu yang bisa aku ungkapkan.
Bu,
aku ini adalah anak yang pemarah dimatamu (mungkin), dibandingkan dengan
kakak-kakak yang tak pernah marah dihadapanmu. Tapi bu, aku bukan marah. Aku
hanya kesal dengan keadaanku sendiri. Mengapa aku tidak seperti kakak-kakakku
yang lain. Aku merasa aku adalah anak tidak diinginkan dalam keluarga ini. Tidak
! Kamu salah ! Ya, aku tahu. Tapi lihat, rasakan hati ini bu. Apapun
yang ibu ucapakan, aku hanya bisa membalas aku hanya sayang ibu.
Bu,
saat ulang tahunmu tiba, aku tak pernah mengucapkan selamat padamu. Bukan aku
tak mau, tapi aku malu. Jangan tanyakan mengapa aku malu, karena aku pun tidak tahu
kenapa aku harus malu. Padahal kamu adalah ibuku dan kalimat sederhana itu yang
bisa membuat ibu bahagia walaupun sedikit (mungkin). Lantas mengapa tidak
kau utarakan ! Aku tak tahu bu, sungguh. Mungkin karena sayangku padamu bu
yang membuat mulut itu bungkam tak mengucap. Aku hanya bisa memendamnya dalam
hati. Pengecut ! Ya, aku memang pengecut. Tapi, aku sayang ibu.
Bu,
hobi kita sangat berbeda. Sangaat jauuuuuuuuuuuuuh (tak terhingga) berbeda. Tak
seperti kakak, hobimu dengannya sangat sama, walaupun sudah jelas kalian
berbeda jenis(berlawanan jenis) . Kakak yang senang bernyanyi, sama sepertimu.
Kakak yang senang memasak, sama jago sepertimu. Tapi aku ? Aku yang sama
dan sejenis (perempuan) denganmu ? Tak ada kecocokan sama sekali. Saat aku
bernyanyi, itu hanya membuat polusi dalam telinga. Saat aku memasak, hanya
membuat kacau keadaan dapur. Dan mungkin karena ketidakcocokan itulah yang
sering menjadi faktor utama yang membuatku menentang dan tak pernah melakukan
yang ibu inginkan.
Bu,
sekarang aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Lantas, apa yang ibu cemaskan dariku ? Aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku
sendiri, dan bu, ijinkan aku menjadi diriku sendiri. Kamu itu malas, nggak
bisa sabar, nggak nurut sama perkataan orang tua, dan kamu itu tidak bisa
diatur ! Menyusakan saja ! Jelas saja aku mencemaskanmu ! Ya, aku tahu
bu. Aku ini memang pemalas, pemarah, penentang, keras kepala, dan aku selalu
menyusahkanmu. Tapi bu, itu semua salah. Itu semua hanya sebatas nafsuku
sendiri. Aku malas karena menurutku, aku bisa bermanja-manja padamu. Seperti
kakak-kakakku. Aku pemarah, penentang, keras kepala, dan selalu
menyusahkan itu karena aku sudah tidak tahu dengan keadaanku ini. Aku sudah
kesal dengan semua ini, karena aku tidak pernah menyatakan semuanya padamu. Aku
memang pengecut bu !
Bu,
andai ibu paham. Kenapa aku selalu menyibukan diriku diluar rumah. Itu semua
karena aku tidak mau lebih banyak memendam semua yang ingin ku utarakan padamu.
Aku tidak mau selalu menjadi anak pemalas, pemarah, penentang, keras kepala dan
selalu menyusahkan dimatamu (mungkin).
Bu,
sesungguhnya aku yang ada di rumah, bukanlah diriku yang sesungguhnya. Andai
saja aku sama sepertimu. Memiliki hobi dan selera yang sama, pasti aku akan
melakukan semuanya untuk ibu. Aku tidak akan menjadi anak yang pemalas, anak
yang pemarah, penentang, keras kepala dan selalu menyusahkan. Aku akan menjadi
anak yang seutuhnya ibu inginkan.
Bu,
jika ibu sudah membaca tulisan (mungkin surat yang tak pernah tersampaikan)
ini, dan aku masih berada didekatmu. Peluklah aku bu. Sekali saja. Tataplah
mataku bu, agar aku bisa mengungkapkan semua saat mulutku ini tak mampu bicara.
Andai ibu tahu, semua perlakuan yang aku lakukan padamu bu, aku hanya
menyayangimu bu. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang tetap bisa ibu
banggakan dan ibu inginkan. Aku menyayangimu bu.
Tapi,
jika ibu sudah membaca tulisan (mungkin surat yang tak pernah
tersampaikan) ini, tapi aku sudah tidak bersamamu, cukup berikan aku kesempatan
untuk bertemu denganmu dan menjadi anak yang ibu inginkan. Aku hanya bisa
menyayangimu dari hatiku ini. Aku tidak bisa mengungkapkannya. Mengertilah aku.
Komentar
Posting Komentar