Para Laksana Negeri Indonesia

Hallo!
Salam Pramuka!
Yups, kali ini aku akan menceritakan kembali tentang keluarga keduaku ini. Sudah lama rupanya aku tak merawat blogku ini. Dua puluh tiga November lalu, tepat pukul 09.34 Waktu Indonesia bagian Barat. Kami melaksanakan kegiatan yang merupakan program kerja terakhir masa bhakti kami, lebih tepatnya masa pengabdianku selama satu tahun ini mendapatkan amanah besar yang harus aku emban. Ya, walaupun hanya aku sendirian yang mengatur dan melaksanakannya, namun itu tak mengurungkan niatku untuk melantik adik-adikku menjadi seorang Laksana—tingkatan di Gerakan Pramuka Penegak setelah Bantara.

Sebenarnya kegiatan ini tanpa ada sebuah persiapan, karena planning yang seharusnya dilaksanakan minggu depan. Namun berhubungan minggu depan aku ada keperluan yang tidak mungkin aku tinggalkan, terpaksa aku melaksanakannya hari itu juga. Tanpa mengeluarkan proposal untuk pembiayaan yang kami perlukan untuk kegiatan ini, dengan segenap niat, dan bantuan dari Kak Indra, Kak Rais, dan Kak Erna serta izin dari pembina dan wakasek aku kerahkan semua adik-adikku untuk menyiapkan semuanya. Kukira mereka akan terkejut atas pelantikan yang mendadak ini. Aku hanya memberi waktu dua jam untuk mereka bersiap-siap. Sengaja aku tak merincikan peralatan yang harus mereka bawa, aku hanya menugaskan mereka untuk memastikan kesiapan dan izin dari orang tua masing-masing.

Tepat pukul tiga sore, mereka aku kumpulkan di lapangan untuk apel pembukaan untuk memulai kegiatan. Satu yang aku banggakan dari salah seorang adikku yang terlambat datang dan membuat jadwal kegiatan (dadakan) yang aku buat harus berubah, dan lebih parahnya lagi teman-temannya yang lain ikut mendapatkan hukuman—mereka sebut itu jiwa korsa, tidak maktul(maka tulang kawan), dihukum satu, dihukum semua. Dan setelah aku introgasi, ternyata keterlambatannya karena harus menunaikan sholat. Sebenarnya aku merasa bersalah memberikan mereka hukuman, karena jika aku tidak memutuskan untuk melaksanakan kegiatan dadakan ini, pasti mereka memiliki banyak waktu untuk persiapan, tanpa ketinggalan waktu sholat dan harus terlambat. Namun tak masalah, itu sudah terjadi dan waktu akan terus berjalan. Aku harus memutar otak untuk mengatur waktu agar pengembaraan tidak terlalu lama dan bisa melaksanakan kegiatan selanjutnya di sekolah. Demi keamanan kami semua.

Alhamdulillah, pengembaraan selesai tepat waktu. Serentak kami mendirikan tenda untuk istirahat dan melaksankan sholat magrib berjamaah. Sengaja aku tidak memadatkan kegiatan malam, aku hanya menugaskan mereka untuk lebih khusyu beribadah di mesjid sekolah sampai sholat isya dilaksanakan. Dan dilanjutkan malam. Satu lagi yang menarik dari kegiatan (dadakan) kami ini, aku sengaja tidak membeli makanan dari “Sederhana”—nama tempat makan yang sudah menjadi langganan kami jika ada acara. Namun kali ini kami memasak sendiri, tanpa aku sebenarnya. Dengan seadanya bahan masakan yang sebelumnya sudah aku beli, kutugaskan mereka untuk membagi tugas dan waktu untuk menyekesaikan persiapan makan malam. Setelah memisahkan peralatan masak dari sanggar, mereka langsung bergegas melaksankan tugas masing-masing.

Sebari menunggu masakan adik-adikku, kuputuskan untuk menyiapkan materi dan konsep nanti pagi—seperti biasa, mereka akan aku bangunkan pukul satu pagi untuk melaksakan post to post dimana setiap post ada materi dan tugas yang harus mereka kerjakan. Namun kesibukanku menyiapkan materi dan konsep terganggu dengan satu masalah. Salah satu adikku melapor jika semua panci—tempat menanak nasi, bocor. Tanpa pikir panjang aku kumpulkan mereka semua, dan menugaskan mereka untuk mencari jalan keluarnya. “Make teko we atuh!”“Pakai teko aja!” celetuk salah satu adikku. Dan dengan sangat terpaksa, kami menanak nasi dengan teko, dimana yang sebenarnya fungsi teko adalah untuk mendidihkan air. Namun mau bagaimana lagi, tak ada cara lain, akan memakan waktu lama jika harus membenarkan dulu panci-panci yang bocor, sementara perut kami sudah seharusnya diisi.

Jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan, namun perut masih kosong belum terisi. Harus menunggu lima menit lagi untuk memastikan semua siap, makanan, tempat, dan jumlah orang. Setelah perbaikan gizi, mereka langsung merapikan dan membersihkannya dan aku tugaskan untuk berkumpul di gazebo setelah selesai membersihkan semua peralatan. Berdiskusi, evaluasi, dan sharing. Aku mencoba menanamkan jiwa leadership pada mereka, memberikan pengarahan jika suatu hari mendapatkan tanggung jawab dan  memberikan beberapa masukan untuk memecahkan masalah bersama, serta sedikit bercerita mengenai beberapa perjalan dan pengalamanku, baik di lingkup Pramuka, organiasasi lainnya yang aku ikuti, maupun perjalanan-perjalanan yang pernah aku lakukan.

Berjam-jam tidak tidur sudah menjadi hal yang biasa untukku, dan kali ini aku benar-benar tidak tidur sama sekali, karena harus mengerjakan tugas sekolah yang belum sempat kuselesaikan dan mengubah scheduleku satu bulan ke depan. Sudah kelas tiga, saatnya fokus pada diri sendiri, mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal dan mengejar nilai yang kurang. Begitulah takdir yang tak bisa dihindari seorang aktivis sepertiku. Namun sekarang aku harus lebih fokus pada kegiatan ini, besok adalah waktu yang sangat penting. Melantik adik-adik, bertemu dengan orang tua mereka, dan menjalankan kewajiban selanjutnya.

Setelah beberapa post dan tugas yang mareka lakukan, tak terasa waktu sudah menjelang subuh. Namun ada satu hal yang sangat sangat membuatku kecewa. Ketika aku sedang sedikit istirahat, bersandar di salah satu dinding gedung tata usaha, mencoba menahan kantuk yang menyerang, tiba-tiba saja Kak Rais—kakak seniorku, memanggilku untuk menghadap—oh Tuhan, apalagi ini.

“Kemari Kak Trias, saya ingin minta pertanggung jawaban anda atas tanda tangan yang anda bubuhkan di SKU ini.” Samar terdengar, aku tak bisa berkonsentrasi, kantuk ini terlalu berat.

“Izin Kak, pertanggung jawaban? Apa saya melakukan kesalahan?”
“Disini jelas terbukti bahwa anda meluluskan pemilik SKU ini dan saat saya tes kembali dia tidak bisa menjawab. Bagaimana ini? Apa ini penerus ADN selanjutnya?!”

Aku tak menjawab, membiarkan Kak Rais berbicara, dan memberikan beberapa ‘kalimat mutiara’ pada adik-adikku—yang sukses membuatku malu atas tindakan mereka. Sungguh kecewa rasanya, mengapa mereka tak bisa menjawab? Jelas-jelas saat aku tes mereka mampu melaksanakannya. Tak mungkin jika aku membubuhkan tanda tanganku dengan cuma-cuma. Aku ingin adik-adikku lebih hebat dariku, bisa melakukan lebih dari pada yang aku lakukan. Ada apa? Apa maksudnya mereka melakukan ini padaku? Atau mungkin memang salahku yang tak becus mengajari adik-adikku? Tuhan, andaikan aku diberikan pilihan, lebih baik aku tidak ada disini, tidak bertemu dengan mereka, tidak perlu aku menahan malu atas tindakanku di depan seniorku atas kelalaian dan kegagalanku ini.

“Baiklah, sekarang kakak ingin bertanya. APAKAH KALIAN PANTAS UNTUK MENJADI SEORANG LAKSANA? UNTUK YANG MERASA PANTAS, SILAKAN MAJU SATU LANGKAH.”

Kepalaku yang menunduk—antara menahan kantuk, malu dan kecewa, terangkat begitu saja, tak ada satu pun yang melangkah maju. Semakin sakit saja hatiku, tak bisa aku bendung lagi air di mata ini. Tuhan... segagal inikah aku? Mengorbankan banyak waktu hanya untuk mereka? Adik-adik yang setiap detik aku pikirkan, mereka yang selalu berhasil membuatku bangga, mereka yang selalu membuatku semakin semangat dalam menjalani kehidupan di sekolah, mereka yang selama kurang lebih dua tahun ini aku bimbing, aku berikan pelajaran serta pengalaman yang aku miliki, dan tak sedikit pun dendam yang aku tanam saat mereka membuatku kesal dan lelah, serta mereka yang selalu berhasil membuat segaris senyum di mulutku? TEGA!

“PERHATIAN! OKE, KAKAK LELAH DAN SANGAT KECEWA. SEKARANG KAKAK HANYA INGIN BERTANYA, SIAPA YANG MERASA SUDAH NYAMAN BERADA DI ADN?!” suara Kak Rais terdengar keras di setiap sudut lapangan.

“Siap, izin Kak. Saya sudah sangat merasa nyaman berada di ADN. Walaupun dengan awal kisah yang tidak diharapkan, namun sejauh ini saya dapat merasakan kenyamanan dan kebahagiaan di ADN.”

“Siap, izin Kak. Sama, saya pun sudah sangat nyaman di ADN.” Terdengar pernyataan semua adik-adikku, dari ujung kanan sampai ujung kiri. Sama, mereka semua merasakan kenyamanan ketika bersama-sama. Di sanggar yang sempit, terkadang rapi namun lebih sering berantakkan karena banyak kegiatan yang kami lakukan.

Sungguh waktu begitu tak terasa, membuat kami terlena dengan kebersamaan ini. Menjalani hari-hari di sekolah bersama, aktivitas rutin organiasasi, bernyanyi asalkan ada musiknya dan kami terlarut di dalamnya, permainan, dan candaan ringan sampai berat pun tak terlewatkan, dan terkadang munculnya rasa ketika selalu bertemu dan bersama—cinta. Oh Tuhan, aku baru menyadarinya sekarang. Kebiasaanku bersama mereka ternyata menanamkan rasa sakit yang akan aku rasakan sakitnya saat tak lagi bersama mereka. Tak bisa terbayangkan bagaimana jadinya aku ketika didera rindu akan kebersamaan ini. Aku akan selalu marah kepada mereka walaupun mereka melakukan yang terbaik, karena itulah caraku agar mereka bisa lebih baik dari apa yang aku lakukan. Aku akan terus mengoceh pada mereka, walaupun mereka hanya melakukan sedikit kesalahan, karena aku tak ingin ada kecelakaan atas diri mereka. Selama aku ada bersama mereka, selama aku masih bisa menghirup udara yang sama, selama tenaga dan semangatku kuat, selama aku diberikan kesematan hidup oleh Tuhan dan selama itulah aku akan menyayangi mereka—adik-adik terhebat yang aku miliki.

Dari ketuatan enam puluh delapan orang, menjadi lima puluh orang, menjadi empat puluh dua orang, menjadi tiga puluh orang, dan sekarang berkekuatan dua puluh delapan orang. Kakak yakin, kalian bisa tetap menjadi yang terbaik. Jumlah kalian hanya dua puluh depalan, namun kakak yakin dengan kebersamaan kalian akan mengalahkan segala ketakutan dan permasalah sebesar apapun itu. Ingat, kebersamaan kunci keberhasilan!

Selamat dik, sekarang kalian sudah menjadi seorang Laksana. Lakukanlah segala tugas dengan semestinya, segala hal yang kalian lakukan menjadi tanggung jawab kalian sendiri. LAKSANA. Tak boleh ada lagi malas, tak boleh ada lagi menyerah. Lakukan semua, pikirkan semua, dan  nikmati semua perjalanan yang akan kalian hadapi. Teguhkah, dan berjanjilah. Kalian akan lebih hebat dibandingkan kakak, karena itulah nilai kesuksesan bagi kakak. Ketika kalian bisa lebih hebat dari kakak. Jadi pemimpin, dan banggakan Negeri kita tercinta ini. 

Salam rindu, salam satu semangat!
Viva la untung.
Untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersatulah!


Trias Nurwana,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah