Ketika Aku Beranjak Dewasa
Tidak ada definisi khusus untukku, yang pasti ketika aku tumbuh
besar saat itulah aku akan menjadi dewasa. Menjadi manusia yang lebih dari
sebelumnya. Tubuhku semakin tinggi, berat badanku bertambah, begitu pula dengan
pemikiran dan pengetahuanku yang harus menjadi lebih luas. Aku tidak mengatakan
bahwa diriku telah dewasa, namun aku percaya segala proses yang aku lewati,
segala pilihan yang aku jalani, kelak akan membawaku pada hal yang lebih baik,
pada waktu dimana aku akan menjadi lebih paham dan belajar. Untuk menjadi
dewasa, mengetahui itu tidak cukup, namun harus pula dengan memahami dan
menjalani.
Ketika aku beranjak dewasa,
Ibu selalu menganggap aku ini tetap bayinya, yang masih harus
selalu dia timang, dia tetap mengurus aku walaupun sebenarnya aku sudah bisa
makan sendiri tanpa diberitahu, dan dia selalu ingin tahu kemana aku pergi. Dia
akan selalu menanyakan keadaanku jika pukul 3 sore aku masih ada di sekolah, dan dia akan selalu ingin tahu masalah pribadiku padahal sebenarnya aku ingin belajar mengatasinya sendiri.
Ketika aku beranjak dewasa,
Ketika aku beranjak dewasa,
Bapak tetap manganggapku anak gadisnya yang kecil, yang masih
harus selalu dia antar kemana pun aku pergi, yang masih harus dia pantau setiap
detik, dan yang masih harus dia perhatikan disetiap gerak langkah kakinya
berlaju.
Ketika aku beranjak dewasa,
Kakakku justru menganggapku benar-benar sudah besar. Aku yang
sudah bisa melakukan segala hal dengan sendiri, aku yang sudah bisa melayani
semua keinginan dan perintahnya, dan aku yang sudah tidak perlu lagi
diantar-antar jika akan pergi. Kedua kakakku memang aneh. Sepertinya mereka
mengira kalau aku memang sudah lebih dewasa dan mungkin melebihi kedewasaan
mereka.
Ketika aku beranjak dewasa,
bukannya aku tidak ingin dimanja-manja, diurusi segala keperluanku
atau bahkan tidak ingin dibantu ketika mendapatkan sebuah kesulitan. Namun aku
hanya ingin sedikit lebih mandiri, belajar mencoba semuanya dengan kemampuan
yang sudah aku miliki. Bukan aku tidak ingin dibantu, namun aku hanya ingin
mencoba merealisasikan semua pelajaran yang pernah ibu ajarkan padaku. Aku akan
tetap membutuhkan bimbingan dari ibu, aku akan tetap membutuhkan pelukan dari
ibu ketika aku sudah tak mampu lagi menopang kesulitan, dan aku akan tetap
membutuhkan keberadaan ibu disampingku ketika tidak ada satu pun teman yang
menemaniku, dan itu akan terus aku butuhkan, sampai kapan pun, namun sekarang
berika aku kesempatan untuk mencoba dan belajar, melakukan dan menjalani apa
yang memang telah aku pilih.
Ketika aku beranjak dewasa,
bukan aku tidak ingin diperhatikan, apalagi tidak dilindungi. Tapi
pak, sekarang berikan aku sedikit kebebasan, berikan aku sedikit kesempatan
untuk belajar berani menjalankan semua yang memang harus aku lalui. Namun,
tetaplah berada bersamaku, lindungi aku ketika aku merasakan ketakutan,
perhatikan aku ketika aku khilaf menentukan pilihan, dan tetaplah tuntut aku
dalam dekapan ketenanganmu.
Ketika aku beranjak dewasa,
bukan aku malas atau tidak patuh padamu, Kak. Namun aku tidak
ingin jika kamu menjadi lelaki yang malas, yang nantinya akan menjadi
kebiasaanmu memanfaatkan kemampuan wanita, aku tidak ingin jika kamu menjadi
lelaki yang hanya bisa menghidupi, namun tak bisa membahagiakan dan aku tidak
ingin jika pahalamu hilang begitu saja, ketika kamu tidak melaksanakan sendiri
apa yang seharusnya kamu lakukan. Aku sudah beranjak dewasa, namun mungkin ini
saatnya kamu menggantikan posisi bapak untukku
Ketika aku beranjak dewasa,
Bu, lebih baik sekarang kamu lebih memperhatikan bapak dan
kesehatanmu, aku tidak ingin jika kamu jatuh sakit saat semua orang rumah
membutuhkanmu.
Untuk bapak, sekarang lebih baik kamu lebih banyak menyibukkan diri
dengan Tuhan, jaga kesehatanmu, jangan pikirkan kami, nikmati masa-masa
pensiunmu, jasamu sudah begitu besar, aku masih membutuhkanmu, jagalah dirimu
baik-baik, kelak aku ingin dinikahkan olehmu, tanpa wali.
Untuk kakak-kakakku, jika menurutmu aku sudah dewasa, maka kalian
harus lebih dewasa. Apa rela jika kalian dikalahkan olehku? Tidak bukan? Tua
itu pasti, namun dewasa itu pilihan. Berdewasalah, aku akan tetap membutuhkan
kalian, saat ibu dan bapak tidak lagi mampu menanggung semua beban dipundakku. Percayalah
aku pun akan melakukan yang terbaik untuk kalian, akan terus belajar menjadi
adik terbaik, adik yang kalian harapkan. Karena menjadi siswi teladan itu ada
sekolahnya, namun untuk menjadi adik teladan itu tidak ada sekolahnya. Maka
kalianlah yang akan mengajarkanku menjadi seorang adik teladan.
Ketika aku beranjak dewasa, sesungguhnya aku masih membutuhkan
kalian.

Terikasih👍👍👍
BalasHapusTerikasih👍👍👍
BalasHapus