Diantara Satuan Nada-nada #Ke-1
Pengkhianatanlah
yang melahirkan ketidakpercayaan. Aku sangat mengenal rasa itu. Tepat tiga
bulan yang lalu, laki-laki bergitar itu meninggalkanku demi seorang wanita
berkantong tebal dan berjubah gaun emas. Pengkhianatan yang Galih lakukan
padaku memberikan luka yang sangat dalam. Dan karena dia diriku menjadi orang
yang sulit membuka diri dan sulit untuk berteman dengan orang baru.
Hanya gitar
tua ini yang menemani hari-hariku yang hampa ini, dan hanya gitar ini yang
dapat mengungkapkan semua curahan isi hatiku. Ku ungkapkan semua curahanku
dengan nada dan simfoni indah yang menenangkan hati. Diawali karena nada dan
karena nada semua diakhiri. Dengan gitar ini pula ku tutup rapat-rapat hatiku
agar tak terluka lagi. Tapi aku lupa, untuk menyembuhkan luka ini, aku harus
menyentuh bagian yang sakit terlebih dahulu dan aku harus menemukan nada yang
bisa mengobati dan menenangkan hatiku kembali.
*****
MALAM MINGGU
Cafe
Solaria, Bandung 18 : 00 WIB
Malam
minggu adalah malam yang selalu ku tunggu-tunggu dari serentetan malam-malam
dalam satu pekan. Malam ahad inilah yang sangat aku tunggu. Dengan kaos katun
ketat merah dirangkap dengan jaket sepertiga berbahan jeans dan jins boot cut
hitam, dengan rambut yang ku biarkan terurai. Aku duduk dengan manis menunggu
sosok pangeran yang sudah dua tahun lebih ini menemaniku.
Duapuluh
menit aku sudah menunggu, tapi Galih belum juga datang. Kemana sih dia. Mungkin dia kejebak macet. Gumamku dengan
menenangkan diri.
Lima
menit kemudian, terlihat sosok Galih yang sudah ditunggu-tunggu. Badannya yang
tinggi dengan kaos jersey merah Manchester Unitednya dan celana bercorak garis
lurus horizontal yang hanya sampai di lutut. Tidak jauh terlihat tas gitar
berwarna hitam yang dibawa disebelah tangannya. Dan dia memberikan senyuman terindahnya
untukku yang tengah duduk manis menunggunya disalah satu meja. Senyum manisnya
tak bisa membuatku marah padanya karena keterlambata dia.
“Malam
sayang” sapa Galih dengan senyum manisnya.
“Malam.
Kamu kejebak macet ?” Jawabku dengan sedikit pertanyaan.
“Tidak,
tadi ibu minta menggantarku ke rumah Tante Sita. Jadi aku sedikit terlambat.
Maaf ya.” Jelasnya dengan memberiku sepucuk bunga mawar putih.
“Makasih
sayang” ku jawab dengan senyum termanisku.
Galih memang pria yang romantis. Dia selalu memanggilku dengan kata sayang dan selalu memberiku mawar putih setiap kita bertemu. Wangi khasnya membuatku merasa nyaman duduk bersamanya, karena senyum manisnya aku selalu merasa bahagia, dan karena wajah teduhnya yang selalu membuatku tenang. Ku nikmati malam yang indah ini dengan simfoni nada yang Galih persembahkan untukku. Bersama gitar putihnya dia petik senar-senar dan mengeluarkan nada-nada rayuannya.
KAMIS PAGI
Seperti
biasa, ku jalani hari ini dengan berbagai kesibukan disekolah. Masih tetap
bersama senyum manis dan wajah teduhnya Galih yang selalu ada untukku. Aku
selalu berharap kepada Tuhan, agar tetap menjadikan Galih untukku. Aku tak
peduli bagaimana keadaanku, yang kupedulikan hanyalan keberadaan Galih untukku.
Mungkin aku telah dibutakan oleh nada cinta yang selalu Galih dendangkan
untukku. Kata-kata yang indah selalu terdengar dari mulut tipisnya, lantunan
suara merdu yang selalu ku dengar dari bibirnya, dan alunan nada yang ku dengar
dari petikan gitar putihnya. Tak pernah hilang. Sedetik pun. Aku tak peduli
dengan semua itu, yang ku pedulikan hanya kebahagiaan Galih yang selalu menjadi
milikku.
Terdengar
lagu My Firts Love-nya Nikka Costa
dari hapeku. Tanda ada sms masuk. Pasti itu Galih. Kebiasaan pagi yang selalu
dia lakukan untuk sekedar mengucapkan Selamat
Pagi untukku. Dan karena kalimat sederhana itu yang selalu membuatku
semangat.
Jarum
jam sudah menunjukkan pada angka tujuh. Segera ku teguk segelas susu coklat
hangat buatan Mbak Wina dan ku langkahkan kakiku menuju sekolah.
SEKOLAH
Udara
pagi yang sejuk seakan memberiku oksigen yang penuh, dan pantulan sinar
matahari seakan menyapa ramah pagi cerahku.
“Kelihatannya
seneng amat pagi ini Al.” Sahut teman karibku di koridor depan kelas.
“Harus
dong. Pagi inikan cerah banget.” Jawabku singkat
“Hmm..
pasti ada apa-apanya. Kemarin malem lo abis dinner ya sama si Galih.” Rayu
Bunga teman sebangkuku.
Aku
hanya menjawab dengan tersenyum malu.
Satu
sekolah ini memang sudah tahu tentang hubunganku dengan Galih. Tepat dua tahun
yang lalu, Galih menyatakan perasaannya kepadaku. Tidak butuh waktu lama, semua
warga sekolah sudah mengetahui hubunganku dengan Galih. Padahal yang ku beri
tahu hanya Bunga, Sabeth, dan Bulan. Tapi sepertinya dinding-dinding sekolah
ini punya telinga dan mulut. Sehingga tampa ku umbar-umbar, semuanya sudah tahu
tentang hubunganku ini.
“Lo
udah ngerjain tugas laporan kimia Al ? Gue pusing banget nih. Males banget buat
bikin.” Tanya Sabeth sahabatku.
“Udah
dong. Gue juga dibantuin Galih buat ngerjain. Ya udah, lo jadiin laporan gue
sampel buat di contoh aja. Tapi permasalahannya jangan di samain ya.” Aku
menoleh ke belakang, melihat kusut wajahnya.
“Serius
? Makasih banyaak sayang. Enak banget ya jadi lo. Punya pacar ganteng, jago
main basket, jago main gitar, setiap hari nyanyiin lo lagu yang bikin setiap
telinga yang mendengarnya luluh. Romantis lagi.” Sabeth mulai menilai-nilai
kesempurnaan Galih.
“Iya
sama-sama say. Nanti lo bawa aja ya laporannya ke rumah gue. Hmm... mulai deh.
Lo jugakan punya Kevin yang jago dengan skateboardnya.” Ku lihat mata Sabeth
yang sibuk membayangkan kesempurnaan Galih.
Sabeth
hanya mengangkat kedua alis tebalnya dan kembali mengerjakan tugas Matematika
yang belum selesai dikerjakannya.
*****
Jarum
jam sudah menunjukkan pukul 15 : 00 WIB. Goresan-goresan langit jingga mulai
muncul. Tiiing.. tiing... tiiing. Bel
sekolah berbunyi. Tanda kegiatan belajar sudah berakhir. Dari kejauhan terlihat
sosok Galih menunggu di bawah pohon rimbun depan kelasku. Bahunya yang tegak
dan senyumnya yang menawan, tak ada alasan untuk menolak senyumannya.
Ku
rangkul tas merahnya dan kami langkahkan kaki menuju parkiran. Kuda besi milik
Galih sudah menunggu manis. Bersiap untuk mengantar kami pulang.
“Bagaimana
belajarmu hari ini ?” Galih memulai pembicaraan.
“Lancar
dong. Makasih ya udah bantuin aku ngerjain laporan kimia.” Ku lirik wajah
teduhnya.
“Oh
ya, aku punya lagu baru buat kamu. Kamu mau mendengarnyakan ? Aku buat khusus
untuk anniversary kita yang ke 26 bulan. Semoga hubungan kita ini longlast ya.”
Galih mengenggam tanganku erat.
“Pasti
sayang. Makasih ya udah mau mendampingi aku selama 26 bulan ini.” Ku tatap
dalam mata bening Galih. Tenang sekali.
*****
Yang kusebut sayang kau tak
menghilang
Ketika sedang sepi
Yang kusebut sayang mengisi raung
Hati yang sedang sunyi
Kerinduan yang datang
Susah tuk dielakkan
Hidup terlalu singkat untuk tak
berbuat
Tanpamu ku tersendat ku harus
berbuat...
Yang kusebut Sayang-nya Letto band terdengar lembut dari
laptop tipis hitamku dan kelap-kelip bintang membuat malam ini lebih indah.
Ditemani dengan secangkir susu cokelat hangat buatan Mbak Wina dan roti bakar
dengan selai cokelat ku tuntaskan tugas karanganku untuk dikumpulkan sabtu
nanti.
MALAM MINGGU
Bandung, 14 Maret 2012. Pukul 18 : 00 WIB. Masih di
Cafe yang sama, waktu yang sama, dan orang yang sama. Entah kenapa malam minggu
ini terasa lebih spesial untukku. Mungkin karena malam minggu ini Galih akan
menyanyikan lagu khusus untukku.
Kupoleskan blush on merah muda di kedua pipiku dan ku
goreskan tipis lipstick berwarna pink dibibirku. Gaun merah selutut sudah
tergantung di punggung pintu kamar untuk kupakai. Malam ini aku sengaja
mendandani diriku semaksimal mungkin untuk Galih.
Tiit..tiitt.tiiit.... Suara klakson kuda besi Galih memberiku sinyal jika dia sudah ada di
depan rumahku. Pangeran berblezer abu sudah menunggu diatas motor merah itu.
Memberikan sedikit tempat untukku dan mengantar kita menuju Cafe bersejarah di
kota kembang ini.
“Selamat malam sayang. Sudah siapkan.” Sahut Galih
didepan rumah.
“Selamat malam juga. Aku siap mendengarkan lantunan nada-nada indahmu. Ayo kita berangkat.” Kuhampiri Galih dan memberinya senyuman termanis.
Riuh jalanan kota kembang. Kuning, merah, jingga,
hijau.. kuning, kuning, lampu-lampu malam di jalan kota memberikan pemandangan
yang lumrah. Hembusan angin yang terasa hangat menyapu lembut pipi dan rambut
yang sengaja ku urai, da duduk di belakang Galih yang membuatku merasa aman.
*****
Dan kau hadir
merubah segalanya
Menjadi lebih
indah
Kau bawa
cintaku setinggi angkasa
Membuatku
merasa sempurna
Dan membuatku
utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu
selama-lamanya
Kaulah yang
terbaik untukku
Kini ku ingin
hentikan waktu
Bila kau berada
di dekatku
Bunga cinta
bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik
satu untukmu....
Kata-kata indah dalam lagu yang Galih nyanyikan
untukku diatas stage, dan nada-nada indah yang selalu membuatku luluh
kepadanya. Tangannya dengan lincah memainkan senar-senar gitar. Romantis
sekali. Lagu terindah yang pernah ku dengar. Happy Anniversary sayang. Aku sayang kamu. Keep love me ya.. Gumamku
dalam hati yang sedang berbunga-bunga karena laki-laki yang satu ini.
“Lagu ini, saya persembahkan khusus untuk bidadari
yang duduk disana. Ananda Sinna Fathia Alia . Happy Anniversary sayang.
Keep love me yaa.” Ungkapan romantis yang Galih ucapkan untukku, diatas stage
dan dihadapan para tamu di Cafe bersejarah ini.
Para tamu memberikan standing applause kepada Galih
karena keberanian dan keromantisannya untukku. Galih menghampiriku, dan memberiku bungan mawar putih.
Romantis sekali. Dan aku tidak mau kehilangan senyumku ini dan wajah teduh
serta tatapan matanya yang menenangkan hatiku. Aku tak bisa mengungkapkan
apapun. Perlakuan Galih mampu membuat mulutku ini tak bisa bicara. Hanya senyum
dan air mata bahagia yang bisa ku ungkapkan. Nada indah itu, kata romantis itu,
senyum manisnya, wajah teduhnya, dan mata beningnya. Tak bisa kuungkapkan
langsung kepadanya. Jika ‘Aku bahagia
bersamamu, dan aku ingin selamanya bersamamu. Aku mencintaimu.
“Happy
anniversary sayang, terimakasih selama 26 bulan ini kamu sudah bersedia
mendampingiku, menjadi perempuan yang selalu mensupport dan setia berada
disampingku kemanapun aku pergi. Aku bahagia bersamamu dan aku ingin selamanya
bersamamu. Aku... mencintaimu. Keep love me sayang...” Dia menggenggam tanganku
dan memberikan sekuntum mawar putih untukku.
Ya Tuhan !
Senyum dan matanya membuatku diam tanpa kata. Kata-kata yang dia ucapkan
diantara satuan nada-nada membuat hatiku ini luluh. Terimakasih Tuhan, Engkau
sudah memberiku malaikat sesempurna Galih. Aku ingin bersamanya selamanya. Lagi-lagi, aku tak bisa mengungkapkan kata-kata itu untuk membalas ungkapan
Galih.
*****
Satu minggu setelah malam romantis yang telah Galih
berikan untukku, kehidupanku masih tetap normal. Tetapi, perlakuan Galih
kepadaku menjadi sedikit longgar. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal antara
kami. Semenjak Galih bertemu dengan teman kecilnya di taman kota. Nindy. Wanita
yang pernah muncul dalam hidup Galih beberapa tahun silam. Dan sekarang dia
muncul kembali saat Galih sedang bersamaku.
TAMAN KOTA
Bandung Selatan, Pukul 07 : 00 WIB.
Seperti biasa, untuk menjaga kesehatan dan bentuk
tubuhnya, Galih selalu jogging di taman kota. Dan aku selalu diajaknya untuk
sekedar menemaninya. Tepat hari selasa, sekolah diluburkan karena para guru
mengadakan rapat untuk membahas Ujian Nasional yang sebentar lagi akan ku
hadapi.
Pantulan sang mentari menyinari kota Kembang yang asri
ini. Seakan-akan menyapa hariku dan Galih. Udara segar ku biarkan masuk kedalam
tubuh dan memompa jantungku. Dari kejauhan terlihat perempuan dengan tinggi
memampai dan menggulung rambutnya membentuk konde cemplon, dipadu tusuk konde
warna merah. Serta dengan kaos katun ketat warna biru sama seperti yang kupakai
sekarang. Dia berdiri bersama angjing kecilnya tepat di depan kolam yang ada di
tengah taman. Cantik sekali. Sepertinya dia termasuk wanita sosialita. Aku
hanya menatapnya dari kejauhan sambil memantau Galih yang sedang melakukan
gerakan-gerakan yang bisa membentuk tubuhnya lebih sempurna.
“Sayang, kamu lihat ga cewe yang berdiri di depan
kolam itu ?” Aku memulai pembicaraan. Masih tetap menatap wanita sosialita itu.
“Yang mana ? Yang warna bajunya sama kyak kamu ?”
Galih kembali bertanya sambil mencari-cari orang yang ku maksud.
“Iyaa. Cewe itu, yang bawa anjing.” Ku lirik Galih
yang masih menerka-nerka.
“Oh itu. Tapi sepertinya, aku familiar deh sama cewe
itu. Kyak temen kecilku yang pergi ke Jakarta. Nindy.” Galih kembali melirik
kepadaku.
“Kenapa nggak kamu panggil aja ?” Ku tatap dalam mata
Galih.
“Nggak ah. Takut salah orang, malukan. Biarin aja,
kalo emang dia benar Nindy dan kenal sama aku pasti dia panggil aku. Ayo kita
pulang.” Jawab Galih membuatku tenang.
Galih langsung menggenggam tanganku dan membawaku
menuju kuda besinya.
*****
“Galih !” Sahut seseorang dari kejauhan.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Galih dari
belakang. Sontak aku dan Galih menoleh ke belakang dan mencari sumber suara
tadi. Ya ! Nindy. Perempuan yang tadi aku lihat. Dia memanggil nama laki-laki
yang sekarang berada di sampingku. Dan aku, tidak suka momen ini. Oh Tuhan, kenapa dia harus memanggil Galih.
Aku takut kehilangan Galih karena perempuan ini. Lindungi hubungan kami Tuhan.
Gumamku takut dalam hati.
“Nindy-kan ?” Galih pura-pura tidak tahu.
“Iya ini gue. Nindy, temen kecil waktu lo masih
ingusan. Kemana aja lu. Nggak ada kabar. Makin ganteng aja lo.” Nindy
mengiyakan dan yang paling aku tidak suka, dia memuji Galih berlebihan untuk
ukuran seorang teman.
“Oh my God. Sejak kapan lo pindah lagi ke Bandung ?
haha bisa aja lo. Lo juga tambah cantik aja. Lucu juga tuh anjing. Namanya
siapa ?” Jawab Galih dan menyebut Nindy makin cantik. Tuhan, tolong jangan sampai Nindy rebut Galih dari aku. Ketakutanku
semakin menjadi.
“Namanya Niky. Dia itu suka banget sama boneka yang
pernah lo kasih sama gue. Si Garfield. Si kucing bermata sayu. Oh ya,
ngomong-ngomong itu cewe lu ya.” Nindy mulai melirik kearahku dan melihatku
dari ujung kaki sampai ujung kepala. Risih sekali, rasanya ingin bawa Galih ke
tempat dimana dia ga akan ketemu Nindy.
“Keren juga namanya. Masih ada tu boneka. Oh iya
sampai lupa, kenalin ini Ananda Sinna Fathia Alia. Cewe gue. Panggil aja dia
Alia.” Galih memperkenalkanku pada teman kecilnya itu.
“Hai, gue Nindy. Temen kecilnya Galih.” Nindy menjabat
tanganku.
“Gue Ananda Sinna Fathia Alia . Panggil aja gue Alia
.” Jawabku singkat.
“Ngomong-ngomong kalian udah lama pacaran ?
Keliatannya lengket amat.” Nindy mulai bertanya-tanya soal hubunganku dengan
Galih.
“Udah dua tahun lebih. Gue pacaran sama dia tiga
minggu setelah lo pergi ke Jakarta dan kita putus. Dia baik banget orangnya.
Pengertian.” Galih menjelaskan tentang umur hubungan kami. Yang lebih parah,
ternyata Nindy mantan Galih ! oh shit. Ya
Tuhan, jangan sampai mereka kembali bersatu dan memisahkan aku dengan Galih. Hatiku
mulai tak taruan. Dan aku meminta Galih untuk pulang, dengan alasan aku capek.
“Sayang aku capek. Aku mau pulang. Banyak tugas lagi.”
Pintaku pada Galih.
“Iya sebentar ya.” Galih masih asik berbincang dengan
Nindy.
“Eh Nin, gue pulang duluannya. Kasian cewe gue capek,
dari tadi nemenin gue. Oh ya gue minta no hape lu ya. Rumah lo masih di tempat
kita dulu ?” Galih melirik ke arahku.
“Hmm... oke. Padahal gue masih kangen sama lo. Iyaa
masih di sana ko.” Nindy meberikan kertas kecil berisi nama, alamat, dan
no hapenya.
“Next time deh kita ngobrol lagi. Gue duluan ya. Bye.”
Galih melambaikan tangannya kearah Nindy.
“Bye.” Nindy tetap berdiri dan menatap kami berjalan.
KEDEKATAN MEREKA KEMBALI
#Rabu, 17 Maret
2011 (Membatalkan janji)
It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do...
Terdengar lagu
First Love-nya Nikka Costa dari hapeku. Ada pesan yang masuk, dan itu dari
Galih. Dia menjalaskan jika dia tidak bisa menemaniku untuk membeli buku.
Memang sebelumnya aku meminta Galih untuk menemaniku membeli buku Manusia Setengah Salmon-nya Raditya
Dika.
“Sayang, maaf
ya. Nanti pulang sekolah aku nggak bisa temenin kamu beli buku. Aku harus
nganter ibu dan Nindy ke Bogor. Maaf yaa.” Isi pesan dari Galih membuatku
cemburu dan kesal. Tapi untungnya masih sama ibu Galih. Jadi aku tidak terlalu
khawatir.
“Iya nggakpapa
sayang. Hati-hati ya dijalannya. Tolong sampaikan juga salamku pada ibumu ya.”
Ku balas pesan dari Galih dengan berbagai pengertian, dan aku mencoba untuk
tetap berpikir posistif.
Tuhan, untuk kali ini aku hanya mohon. Jaga Galih untukku. Do’aku hari ini.
Setelah
pembatalan pertama janji Galih padaku, dia menjadi sering membatalkan pergi
bersamaku dengan berbagai alasan. Biasanya dia tidak pernah membatalkan jika
aku ajak. Karena itu jugalah sering muncul pikiran-pikiran negatif, rasa
cemburu, dan rasa ketidakpercayaan.
#Sabtu, 20
Maret 2011 (Galih menolak ajakanku !)
Pagi ini Tuhan
sudah menurunkan hujan di Kota Kembang. Mendung sekali, alhasil membuatku malas
untuk pergi kesekolah. Apalagi setelah beberapa hari ini aku tidak bertemu
dengan Galih, padahal sebenarnya kita satu sekolah. Akhir-akhir ini dia
sering menghindar dariku, entah mengapa.
Karena hujan,
aku diantar ayahku untuk pergi kesekolah. Tapi sebelumnya kucoba hubungi Galih
agar dia berangkat sekolah bersamaku. Dan Galih menolak ! Untuk pertamakalinya
dia menolak ajakanku. Dari sinilah aku mulai protektif padanya.
“Sayang, kamu
mau berangkat ke sekolahkan sekarang ? Aku jemput ya. Kita diantar ayah aja.
Hujannya cukup deras. Kalo naik motor aku takut kamu sakit. Aku sekarang ke
rumah kamu. Tunggu ya..” Pesanku dalam SMS.
Tak lama lagu
First Love-nya Nikka Costa terdengar. Galih membalas pesanku.
“Nggak usah, aku
diantar Nindy ke sekolah. Sebentar lagi aku sampai disekolah.” Jawabnya
singkat.
Apa ? Diantar Nindy ?! Gumamku
kesal dalam hati.
*****
MALAM MINGGU
Sabtu malam. 20
Maret 2011. Pukul 18 : 00 WIB. Cafe Solaria, Bandung
Tidak seperti
biasanya, hatiku terasa gelisah, gelisah, dan gelisah. Tuhan, cabut kegeliasahanku dan jagalah hubunganku dengan Galih. Berbeda
dengan malam minggu sebelumnya. Biasanya Galih datang seorang diri dengan tas
gitar yang menggantuk disebelah tangannya. Tapi, malam ini dia tidak membawa
gitar, tapi dia menggandeng tangan putih seorang perempuan. Ya ! Lagi-lagi
Nindy.
“Selamat malam
sayang.” Galih mengelus rambut hitamku. Dan mempersilahkan duduk pada Nindy.
“Malam Al.
Nggakpapakan gue ikut. Bete juga diem di rumah.” Sapa Nindy sambil
melirik-lirik penampilanku yang dandan seadanya.
“Malam sayang,
malam Dy. Gitar kamu mana ? Malam ini kamu nggak akan nyanyi buat aku ?”
Tanyaku heran.
“Tidak, gitarku
rusak. Terus aku berangkat bareng Nindy naik mobilnya. Buru-buru lagi. Ada
sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu. Tapi tidak didepan Nindy” Jawab Galih
yang sangat mengecewakanku sekaligus membuatku bertanya-tanya.
*****
Galih membawaku
ke salah satu meja yang kosong yang jauh dari meja tadi aku duduk. Aku terus
mencoba menenangkan hati dan pikiranku.
Galih menatap
dalam mataku. Sepertinya ada sesuatu yang berat yang ingin dia ungkapkan
padaku. Terdengar jelas suara nafas dan jantungnya di telingaku. Ada apa gerangan. Mengapa Galih seperti ini.
Tidak seperti biasanya. Gumamku dalam hati.
“Sebelumnya aku
mau meminta maaf, dan terimakasih karena selama 26 bulan ini kamu sudah setia
mendampingiku. Terimakasih atas semua pengertianmu, terimakasih atas semua
kebahagiaan yang telah kau berikan untukku. Ini sangat berat untukku, apalagi
untuk kita.” Galih memulai percakapan dengan wajah yang bingung.
“Kamu kenapa
bicara seperti ini ? Kamu nggak akan ninggalin akukan ?” Mataku mulai mendung.
“Aku mau, kita
udahan. Aku merasa lebih tenang bersama Nindy. Maafkan aku. Aku tetap
menyayangimu.” Pernyataan Galih yang membuat jantungku berhenti mendadak.
Bagaimana tidak ? Selama dua tahun lebih ini sudah ku habiskan waktuku
bersamanya. Nada-nada yang meluluhkanku, kata-kata romantis yang muncul
diantara satuan nada-nadanya, lantuanan merdu permainan gitarnya, suara
merdunya, wajah teduhnya, mata beningnya, harum nafasnya, senyum manisnya, dan
semua tentangnya. Apa aku mampu tanpa itu semua ? Tuhan, tolong aku. Jangan kau
ambil Galih dari sisiku. Tetes demi tetes air mata membasahi
pipiku. Galih hanya menatap dalam wajahku. Kulirik wanita yang sedang duduk
manis melihat kejadian yang tak pernah ku inginkan ini.
“Oke fine. Kita
udahan, dan aku kecewa sama kamu. Terimakasih juga udah bikin hari-hariku
menjadi indah, terimakasih sudah memberi kebahagiaan untukku, dan terimakasih
kamu sudah hancurkan hati dan kepercayaanku.” Satu tamparan mendarat dipipi
manis Galih. Tanpa berpikir panjang aku pergi meninggalkan Galih dan Nindy.
****
Tiga bulan
setelah pengkhianatan Galih, membuatku menjadi orang yang sangat tertutup.
Bahkan untuk bertemanpun sulit. Aku tidak ingin tersakiti untuk yang kedua
kalinya. Setelah duduk di bangku SMA tak pernah ada sesuatu yang spesial
untukku. Sangat berbeda dengan dua tahun silam. Ku jalani hari-hariku seperti
biasa. Sekolah dan belajar. Tidak ada nada, lagu, ataupun senandung
gitar.
Pagi yang cerah
untuk berangkat sekolah. Ku hirup udara segar kota Kembang pagi ini. Ku nikmati
panasnya sinar sang mentari. Ku lewati beberapa kelas, berjalan dikoridor
sekolah. Dengan seragam putih abu-abu ini ku awali hari dengan semangat langkah
kakiku.
Terlihat
seorang laki-laki berkacamata yang sedang asyik dengan gitarnya. Membuatku
bernostalgia menuju kebahagiaan dua tahun yang lalu. Kata-kata indah diantara
satuan nada-nada itu kembali terdengar di telingaku. Sepertinya laki-laki itu
adalah kakak kelasku. Aku hanya melihatnya di depan pintu kelasku. Kacamata
yang dia pakai, memberi nilai plus dimata orang banyak. Karena biasaya orang
yang berkacamata itu pintar dan kritis dalam berpikir ataupun bertindak.
****
Kaulah belahan hatiku
yang terangi aku
dengan cintamu
Kau hangatkan jiwaku
dan slimuti aku
dengan kasihmu
Ku coba gapai apa yang kau ingin
Saat ku terjatuh sakit kau adalah aspirin
Coba menuntunmu agar ada di dalam track
Kau catatan terindah di dalam teks
Dan aku mengerti apa yang kau mau,
hargai dirimu, menjadi imammu
Karna kau diciptakan dari tulang rusukku
selain itu karna kau bagian dariku....
Lagu Kau Puisi-nya Bondan Prakoso terdengar
dari permainan gitar dan mulutnya. Kata-kata indah diantara nada-nada yang
dikeluarkan permainan gitarnya semakin meluluhkan hatiku ini. Aku mencoba
melihatnya lebih fokus. Sepertinya dia song writer juga.
“Hey... kamu
anak baru ya ? Kamu suka Bondan juga ?” laki-laki itu tiba-tiba muncul
dihadapanku dan memberiku pertanyaan. Tanpa kusadari,
laki-laki itu sudah ada dihadapanku dan dia mengagetkanku tiba-tiba. Aku malu
karena ketahuan aku memperhatikannya sejak tadi.
“Hey... Iya.
Maniac...” jawabku refleks karena terkejut.
“Kakak juga ?
Ngomong-ngomong kaka kelas berapa ?” aku kembali bertanya.
“Banget dan
lagu tadi aku persembahkan untuk kamu. Kelas IX-IPA 1” matanya tajam melihatku.
Aku hanya
menunduk dan tersenyum malu. Jarang sekali aku bisa langsung membukakan hatiku
untuk orang baru. Mungkin karena kata-kata indah yang terdengar diantara satuan
nada-nada lagu Kau Puisi-nya Bondan membuat hatiku ini luluh kembali. Tidak ! Tidak ! aku tidak mau sakit untuk
yang kedua kalinya. Tapi untuk nama teman.. bolehlah. Aku merasa nyaman
dengannya. Gumamku dalam hati.
“Namaku Duta Kusuma.
Panggil aja Duta. Kamu ?” Laki-laki yang baru saja mempersembahkan lagu untukku
menjulurkan tangannya kehadapanku. Meminta untuk berjabat tangan dan
berkenalan.
“Namaku Ananda
Sinna Fathia Alia. Kaka panggi saja aku Alia” Ku jabat tangan kekarnya. Tangan dan
perlakuannya sangat sama persis seperti perlakuan Galih dua tahun yang lalu.
*****
Tiga bulan
sudah kulewati hari-hari di SMA. Hubunganku dengan ka Duta-pun masih seperti
teman baik. Dan dialah teman yang selalu setia mendengar cerita-ceritaku begitu
pula dengan tugas-tugas yang menumpuk. Ka Duta-lah yang membantuku
menuntaskannya. Sampai suatu malam....
“Al, sudah tiga
bulan kita jalani hari ini sebagai teman. Dan kaka tidak bisa menyimpan dan
menunda lagi perasaan kaka ini. Semenjak pertama kita bertemu, sejak kamu
perhatikanku yang sedang bermain gitar, dan semenjak aku mempersembahkan
lagu-lagu indah untukmu aku sudah suka padamu. Kaka ingin hubungan kita lebih
dari teman. Mungkin kaka bukan yang pertama untukmu, tapi kaka berjanji kalau
kaka akan menjadi yang terakhir untukmu. Karena kamu juga kaka tahu apa itu
cinta. Melalui kata indah diantara satuan nada-nada, rasa ini muncul. Kaka mau
kamu jadi wanita yang spesial yang selalu ada disamping kaka kemanapun kaka
pergi. Kamu maukan jadi wanita itu ?” Ka Duta menyatakan perasaannya kepadaku
yang ia pendam selama ini. Genggaman eratnya membuatku semakin takut. Lagi-lagi! Perasaan takut itu muncul lagi. Aku takut sakit untuk yang kedua kalinya.
“Ka, kaka-kan
tahu bagaimana cerita cintaku di duatahun silam. Jika kaka memang benar-benar,
tunggulah aku sampai perasaan takut ini hilang. Dan jadilah laki-laki yang
selalu mengungkapkan kata-kata romantis diantara satuan nada-nada yang kaka
mainkan.” Kutatap tajam mata Ka Duta. Ku biarkan mulutku mengungkapkan yang
sebenarnya.
*****
Dua tahun ku
jalani hidup dengan penuh nada-nada indah. Bersama orang yang sangat kusayangi.
Tapi, semenjak pengkhianatan yang dia lakukan membuatku takut untuk kembali
membuka hati untuk hati yang lain. Hidupku kembali normal. Namun, sekali lagi
hidupku terasa kosong. Aku kehilangan nada-nada indah yang selalu kudengar
disetiap hembusan nafasku.
Tetapi saat
laki-laki berkacamata itu datang dalam hidupku. Hidupku kembali dimana aku bisa
mendengarkan nada-nada merdu di rongga telingaku. Tapi, kata-kata yang dia
ungkapkan padaku belum mampu menghapus perasaan takutku ini. Dengan
kesungguhannya dia tetap setia memberiku nada-nada indah. Kini, aku kembali
mendapatkan nada-nada terindah yang pernah hilang itu.
Dan begitulah,
mungkin lagu ini belum menjadi akhir atau ujung dari perjalanan hidup anak
manusia. Hari itu, semua kegelisahan seakan selesai. Biarkan nada-nada merdu
ini yang menuntunku menuju akhir lagu yang memberikan kebahagian yang hakiki
dan arti cinta yang sesungguhnya. Karena cinta ada diantara satuan nada-nada.
*The End*
gila! saya selalu kagum sama orang-orang yang bisa nulis cerpen kayak begini.. :D
BalasHapusdan saya suka sama kalimat akhirnya; Karena cinta ada di antara satuan nada-nada. :')
Terima kasih ka :)
HapusSaya juga masih belajar. Salam sukses. Sahabat Tarian Pena :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus