Hidup, Cinta, Perasaan dan Realita
Baru saja aku membaca status facebook dari seorang penulis tersohor yang (tidak) pasti kalian akan mengenalnya. Jika kalian mengaku pembaca kalian pasti tahu Bang Tere Liye. Aku sangat takjub sekali saat membaca statusnya ini, dan itulah salah satu alasanku mempostingkan status beliau karena ini sangat bermanfaat untukku, dan aku juga ingin kalian bisa memetik hikmah dari postingan hasil copy paste dan khususnya untuk kalian yang ingin tahu kenapa sampai sekarang aku masih single dan tak ingin berpacaran :D Semoga bermanfaat :
Orang tua dulu seringkali menasehati, "Anakku, kita itu makan agar bisa hidup. Bukan hidup untuk makan." Karena saya masih kecil, saya akan nyeletuk, "Memang apa bedanya?". Orang tua sambil tersenyum akan menjelaskan, "Tentu saja berbeda. Jika kita paham 'makan agar bisa hidup', maka dalam urusan apapun kita akan biasa-biasa saja, seimbang, tahu sekali ada urusan lebih penting dibanding makan dalam hidup ini. Sebaliknya, jika kita memahami 'hidup untuk makan', maka di situ saja kepentingan kita, hanya makan, makan. Berlebihan sekali memahami kebutuhan makan tersebut.
Nasehat ini secara bentuk simpel tentang makan. Tapi secara substansi, nasehat ini menyebar dan menemukan relevansi kemana-mana. Apalagi jika kita suka melakukan refleksi, maka dia memantul-mantul kemana-mana penjelasannya. Salah-satunya, yang mungkin favorit buat kita semua, dia juga memantulkan urusan perasaan.
Ada pepatah lama yang mirip, bilang: "orang-orang yang mencintai dalam hidup adalah orang-orang yang bahagia, sedangkan orang-orang yang hidup demi cinta jelas adalah orang-orang bodoh." Saya minta maaf menggunakan kosakata bodoh tersebut. Saya terpaksa gunakan, karena saya hanya menuliskan ulang pepatah itu--bukan kalimat saya.
Pepatah ini relevan alias nyambung banget dengan nasehat orang tua dulu. Hei, jika kita memahami hidup ini adalah anugerah terbesar, maka kita akan mencatat besar-besar bahwa dengan apapun yang kita miliki sekarang, entah itu masih ngontrak, ngekost, pekerjaan masih serabutan, atau sekolah/kuliah di tempat yang nggak ngetop, kita akan tetap mencintainya agar kita bisa merasakan esensi kehidupan. Meski masih single, belum dilirik-lirik, nggak laku-laku, kita akan tetap mencintai apapun yang kita miliki. Karena kita paham, ada banyak peraturan, kaidah, norma dalam kehidupan yang tidak bisa ditabrak begitu saja meski atas nama cinta sejati sekalipun. Sebaliknya, orang-orang yang hidup demi cinta. Sibuk mengejar cintanya (apapun bentuknya, apapun yang dia kejar), maka dia jangan-jangan tidak pernah merasakan esensi kehidupan. Sama persis seperti dia meyakini 'hidup untuk makan'.
Dalam contoh yang paling kongkret, favorit dan cocok dengan banyak orang adalah, coba lihat misalnya, ketika kita galau, terbebani perasaan, ngapain pula kita harus bersikap berlebihan? Tapi dia adalah pilihan terbaik saya, tapi dia orang yang saya cintai, bla-bla-bla. Jadi kepikiran selalu, jadi susah ngapa-ngapain, di situ-situ saja. Come on, jika kita memang merasa itu terbaik, silahkan kejar habis-habisan--dan kalian hanya akan punya dua ending, satu, kalian memang berhasil mendapatkannya; dua, kalian tidak berhasil mendapatkannya. Lantas apakah kalau berhasil mendapatkannya jadi dijamin bahagia? Mayoritas tidak. Jika tujuannya sempit dan terbatas, maka kalian hanya akan menganggap cinta itu sekadar memiliki, bersama, hanya itu. Kita akan kecewa berat ketika ternyata setelahnya tidak seindah itu.
Dalam urusan perasaan ini, selalu ingat pepatah lama tersebut. Tidak perlu ngotot, tidak perlu lebay. Hidup ini bukan cuma soal perasaan, ada banyak hal penting lainnya yang justeru dengan sendirinya mendatangkan cinta. Saat kita asyik menekuni sebuah hobi, eh ternyata dia menjadi sesuatu yang menghasilkan dan membuat kita bahagia. Saat kita asyik menekuni, belajar sesuatu, eh ternyata dia menjadi sesuatu yang besar, jadi sumber rezeki dan jelas membuat kita bahagia. Pun dalam kasus, ketika kita asyik menekuni memperbaiki diri, eh ternyata justeru itu mendatangkan sendiri jodoh atau pasangan yang terbaik.
Demikian.
Orang tua dulu seringkali menasehati, "Anakku, kita itu makan agar bisa hidup. Bukan hidup untuk makan." Karena saya masih kecil, saya akan nyeletuk, "Memang apa bedanya?". Orang tua sambil tersenyum akan menjelaskan, "Tentu saja berbeda. Jika kita paham 'makan agar bisa hidup', maka dalam urusan apapun kita akan biasa-biasa saja, seimbang, tahu sekali ada urusan lebih penting dibanding makan dalam hidup ini. Sebaliknya, jika kita memahami 'hidup untuk makan', maka di situ saja kepentingan kita, hanya makan, makan. Berlebihan sekali memahami kebutuhan makan tersebut.
Nasehat ini secara bentuk simpel tentang makan. Tapi secara substansi, nasehat ini menyebar dan menemukan relevansi kemana-mana. Apalagi jika kita suka melakukan refleksi, maka dia memantul-mantul kemana-mana penjelasannya. Salah-satunya, yang mungkin favorit buat kita semua, dia juga memantulkan urusan perasaan.
Ada pepatah lama yang mirip, bilang: "orang-orang yang mencintai dalam hidup adalah orang-orang yang bahagia, sedangkan orang-orang yang hidup demi cinta jelas adalah orang-orang bodoh." Saya minta maaf menggunakan kosakata bodoh tersebut. Saya terpaksa gunakan, karena saya hanya menuliskan ulang pepatah itu--bukan kalimat saya.
Pepatah ini relevan alias nyambung banget dengan nasehat orang tua dulu. Hei, jika kita memahami hidup ini adalah anugerah terbesar, maka kita akan mencatat besar-besar bahwa dengan apapun yang kita miliki sekarang, entah itu masih ngontrak, ngekost, pekerjaan masih serabutan, atau sekolah/kuliah di tempat yang nggak ngetop, kita akan tetap mencintainya agar kita bisa merasakan esensi kehidupan. Meski masih single, belum dilirik-lirik, nggak laku-laku, kita akan tetap mencintai apapun yang kita miliki. Karena kita paham, ada banyak peraturan, kaidah, norma dalam kehidupan yang tidak bisa ditabrak begitu saja meski atas nama cinta sejati sekalipun. Sebaliknya, orang-orang yang hidup demi cinta. Sibuk mengejar cintanya (apapun bentuknya, apapun yang dia kejar), maka dia jangan-jangan tidak pernah merasakan esensi kehidupan. Sama persis seperti dia meyakini 'hidup untuk makan'.
Dalam contoh yang paling kongkret, favorit dan cocok dengan banyak orang adalah, coba lihat misalnya, ketika kita galau, terbebani perasaan, ngapain pula kita harus bersikap berlebihan? Tapi dia adalah pilihan terbaik saya, tapi dia orang yang saya cintai, bla-bla-bla. Jadi kepikiran selalu, jadi susah ngapa-ngapain, di situ-situ saja. Come on, jika kita memang merasa itu terbaik, silahkan kejar habis-habisan--dan kalian hanya akan punya dua ending, satu, kalian memang berhasil mendapatkannya; dua, kalian tidak berhasil mendapatkannya. Lantas apakah kalau berhasil mendapatkannya jadi dijamin bahagia? Mayoritas tidak. Jika tujuannya sempit dan terbatas, maka kalian hanya akan menganggap cinta itu sekadar memiliki, bersama, hanya itu. Kita akan kecewa berat ketika ternyata setelahnya tidak seindah itu.
Dalam urusan perasaan ini, selalu ingat pepatah lama tersebut. Tidak perlu ngotot, tidak perlu lebay. Hidup ini bukan cuma soal perasaan, ada banyak hal penting lainnya yang justeru dengan sendirinya mendatangkan cinta. Saat kita asyik menekuni sebuah hobi, eh ternyata dia menjadi sesuatu yang menghasilkan dan membuat kita bahagia. Saat kita asyik menekuni, belajar sesuatu, eh ternyata dia menjadi sesuatu yang besar, jadi sumber rezeki dan jelas membuat kita bahagia. Pun dalam kasus, ketika kita asyik menekuni memperbaiki diri, eh ternyata justeru itu mendatangkan sendiri jodoh atau pasangan yang terbaik.
Demikian.
*Darwis Tere Liye*
Komentar
Posting Komentar