Kita Antara 2 Benua
Sekedar hadiah kecil yang ku persembahkan teruntuk sahabatku @syllanSGS dan Bung @wendysuranugra
“Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan
padaku selama tiga bulan ini. Mungkin ini memang belum waktunya aku dan kamu
menjadi kita. Aku akan selalu mengenang semua kenangan yang pernah kita ukir
selama tiga bulan ini. Aku tetap menyayangimu walaupun aku dan kamu tak menjadi
kita. Dan detik ini kita putus. Selamat tinggal, dan bukalah lembaran barumu
yang masih utuh.” Kata manis yang menyakitkan itu terpaksa aku keluarkan dari
mulutku pada sosok laki-laki dengan rambut mode tintin di Restoran favoritku.
Tepatnya lima bulan yang lalu. Ya, Karel. Kekasihku dulu, tepatnya mantan
kekasih.
Lima bulan sudah aku menyendiri. Melewati hari
bersama sahabat-sahabat terdekatku. Tanpa kata manis atau sekedar sapaan dipagi
hari yang selalu singgah di inbox hp-ku. Tapi sudahlah, itu masa lalu dan
sekarang aku akan memulai yang baru tanpa ada Karel disampingku.
***
Seni, mungkin lebih tepatnya “Teater”. Dunia yang
baru saja aku tekuni saat masuk masa putih abu enam bulan yang lalu. Dari sini
pula aku bertemu denganmu. Ya, kamu ! Kamu yang selama ini aku tunggu-tunggu
untuk menemani kesendirianku yang sudah lima bulan ini. Tepatnya sekarang kamu
sudah menjadi kekasihku. Ya, kekasih. Kita adalah sepasang kekasih. Sepasang kekasih
yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dalam sebuah hamparan yang bernama seni.
“Mungkin aku bukan yang pertama bagimu, mungkin
aku bukan yang terbaik bagimu, dan mungkin aku hanya laki-laki yang sekedar
singgah dalam hidupmu. Tapi entahlah, jiwa ini begitu berani merasakan rasa
yang tidak sepantasnya padamu. Awal pertemuan kita, dan untuk pertama kalinya
kau memberikan senyuman padaku akan menjadi saksi bisu jalinan asmara kita. Aku
mencintaimu. Apa kau bersedia menjadi kekasihku ?” Kalimat sederhana yang
mengungkapkan semua perasaanmu padaku terdengar begitu indah ditelingaku.
Membuat bibir tipisku spontan mengiyakan
pernyataanmu. “Aku pun mencintaimu dan aku bersedia menjadi kekasihmu.”
***
Tak terasa sudah satu minggu hubunganku dengannya
berjalan. Begitu cepat rasanya waktu berlalu. Hari ini hujan turun begitu
deras, bau tanah begitu tajam tercium dihidungku. Sayang sekali padahal hari
ini kami akan nonton bareng film barunya Raditya Dika. Cinta Brontosaurus. Ku
lirik wajah teduh tepat di sampingku ini yang dihiasi dengan hidung
mancung, bibir tipis dan pipi yang tidur serta warna sawo matang yang melekat
pada kulitnya membuatnya terlihat sangat manis. Dinginnya udara saat hujan
membuat tubuhku yang tipis ini menggigil kedinginan, tapi dengan berada didekat
membuatku lebih hangat.
“Kamu kedinginan ya ? Maaf ya, seharusnya tadi
aku bawa jaket dua. Ya sudah, kamu pakai jaketku. Badanku bisa lebih hangat
karena dagingku lebih banyak dibandingkan kamu.” Wendy memasangkan jaketnya
ditubuhku, dan sekarang aku merasa hangat.
“Iya, maaf tadi aku juga lupa bawa jaket. Makasih
ya kamu selalu perhatian sama aku.” Ku berikan senyuman terbaikku padanya.
“Iya, sekarang kamu hangatin badan kamu. Nanti
sakit, jangan lagi deh.”
Setengah jam kami menunggu hujan akhirnya reda.
Kami segera melanjutkan perjalanan kami menuju bioskop.
***
Seperti biasa, ku awali minggu pagi dengan
jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku
sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter
big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami
berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua. Aku suka
kebaikannya, parasnya, suara suling yang selalu di mainkannya dan yang paling
ku suka darinya adalah dia lucu gokil dan perhatian. Aku pikir bila selalu ada
di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan
tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak
diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jogging ! Setelah merasa lelah, aku
dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera
keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan. Usiaku
dengannya memang terpaut sangat jauh (Tapi tak sejauh Raffi Ahmad dan Yuni
Shara).Usiaku yang masih 16 tahun tepatnya masih duduk di kelas satu SMA
sedangkan usianya 21 tahun dan dia sedang melanjutkan sekolahnya di salah satu
perguruan tinggi di Bandung. Lagi-lagi ! Karena seni, aku dan dia selalu bisa
bertemu. Tepat setiap hari Selasa, Jum’at dan Sabtu kami sering bertemu.
Terkadang jika dia sedang cuti dari kuliahnya, dia sering mengantarku pulang
pergi sekolah rumah. Katanya itu salah satu bentuk perhatian dan keseriusannya
padaku.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1
tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk
atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah.
Dia akan terbang ke Negeri Kangguru, Australia (Naik elang kaya yang di sinetron
laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia
ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan
semangat.
Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak
mau kamu pergi jauh dari ku.”
“Bagaimana bisa ? Bagaimana kita menjalani
hubungan ini ? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun ? Bagaimana
? Kapan ? Di mana ? Siapa ?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, dan aku tak
ingin jauh darinya. Tapi, bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu
mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.
Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan
sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku punya bisnis yang akan menguntukan di
Asutralia, kurang lebih dua tahun lamanya”.
“Aku ingin cari pengalaman dan cari uang
sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh
buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan
kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji ya, kita tetap berhubungan,
komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah
sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah
keberangkatan dia.
***
Januari kelabu di Jl. Nagrek, aku mengantar Wendy
menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk keberangkatannya ke Australia. Selama
perjalanan kami diam hanya menatap keadaan di samping kaca mobil. Langit
terlihat begitu hitam, sepertinya dia tahu keadaan perasaanku sekarang. Begitu
juga dengan Wendy, dia hanya menatap lurus kosong kedepan. Mungkin dia
memikirkan hal yang sama denganku.
Dua jam sudah berlalu, akhirnya kami sampai di
Bandara. Suasan Bandara begitu ramai walaupun air hujan mulai turun. Antrian
begitu panjang, membuat Wendy terpaksa menunggu lama. Aku hanya menatap matanya
dalam-dalam. Mencoba mencari-cari sesuatu yang sepertinya sedang dia pikirkan.
Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili
perasaan.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya pesawat
yang akan membawa dia terbang ke Australia sudah siap. Entah untuk keberapa
kalinya kami hanya saling menatap. Berharap situasi seperti ini tidak akan
terjadi kembali.
“Jaga dirimu baik-baik, jaga juga kesehatanmu.
Aku janji, aku pasti akan kembali untukmu. Aku akan selalu mendo’akanmu, doakan
aku juga agar bisnisku lancar dan aku bisa segera pulang. Aku mencintaimu.”
Kalimat yang keluar dari mulutmu memulai pecakapan. Mungkin untuk yang terakhir
kali sebelum keberangkatanmu.
“Iya, aku pasti selalu mendo’akanmu. Hati-hati
disana, ingat janji yang sudah kita sepakati. Aku mencintaimu.” Sebuah pelukan
perpisahan tercipta dan terasa begitu cepat dia melepaskan dan pergi
meninggalkanku. Aku terus mencoba menatapnya sampai tubuh tegapnya tak terlihat
lagi, tertelan lautan manusia yang berlalu-lalang.
Selamat tinggal
kekasih, sampai ketemu dua tahun lagi. Aku mencintaimu.
***
Indonesia - Australia. Terpaut jarak yang lumayan
menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar
melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki
di Ausralia ? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba,
malah ditanya pulang. Emangnya Garut-Bandung?”.
“Aku kangen banget sama kamu. Sekarang disana jam
berapa ? Oh ya, jangan lupa ya, sampaikan salamku pada kangguru-kangguru
disana.”
“Iyaa aku juga sama. Sekarang sudah mau waktu
subuh. Hahaha. Iyaa pasti aku sampaikan sayang.”
“Oh ya, bagaimana bisnismu ? Sudah mulai berjalan
?”Aku mulai berbicara serius.
“Senang prepare buat liris. Semoga dua hari bisa
selesai.”
“Baguslah kalau begitu. Ahh kangen sekali
rasanya. Peluuk peluuuk.” Kataku manja.
“Sayang, adzan subuh udah manggil nih. Sudah dulu
ya, nanti kita teruskan. Peluuk”
“Ah padahalkan masih kangen.”
“Iya aku juga sama. Nanti ya kita terusin. Aku
mau sholat dulu.”
“Iya deh. Jangan lupa do’ain aku yaa.
Assalamu’alaikum.
“Wa’alaikumsalam.”
Tuut.. tutt. Tutt.... telepon ditutup dan
percakapanku dengannya pun terputus.
***
Suatu hari via video call on facebook dan skype,
aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas, dia mengajak
aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin
canggih, produk-produk bisnisnya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima
melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Australia?”
kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Australia hebat
ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana
aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Australia”,
kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita
ketemu”.
Sambungnya lagi, “Dua tahun kan tujuanku agar
bisnisku maju dengan pesat. Tapi aku masih ingin melihat sepak terjang bisnisku
ini lebih maju di negara-negara lain. Jadi aku ingin nambah satu tahun lagi
ya?”
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso
dan Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”,
bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku
pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby
menyanyi. Aku suka mencurahkan isi hati dan mengungkapkannya memalui suaraku.
Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini. Lagu A Thousand Year-nya Cristina
Perri adalah lagu favorite kami
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
***
Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak
pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan
dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship)
atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia
pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia,
begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat
lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger,
email, dan lain-lain.
Walau terkadang kami sering salah paham, marahan,
bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan
bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long
Distance Relationship), It’s Okay! Aku mencintai Wendy, hanya Wendy dan dia
yang aku tunggu. Dan Jarak diantara 2 benua yang berbeda ini, mengajarkan aku,
khususnya kita tentang sebuah kepercayaan, tanggungjawab, dan kesetiaan dalam
hubungan. -Selesai-
Komentar
Posting Komentar