I'm So Proud
Kau tahu
bagaimana orang tua? Terlebih seorang ibu. Mereka pasti akan selalu memikirkan
kebaikan untuk anak-anaknya, dan semua itu membutuhkan proses.
Tak ada niatan
dan tak ada tujuan, tak ada ikatan dan tak ada kepedulian. Semua terjadi dan
tumbuh dengan keterbiasaan. Jangankan ikatan darah, ikatan persaudaraan pun tak
ada. Aku dan dia, adik perempuanku. Panggil saja B.
Cantik, pinter,
bawel, kepo, selalu bersemangat.
Begitulah kira-kira pembawaannya setiap hari. Hampir setiap waktu kami
berkomunikasi, dia sangat humble menurutku. Ya.. lumayanlah buat teman ngobrol
kalo lagi bete.
Jangan kira, dia
tak punya pacar, dan tak pernah pacaran. Sama sekali! Ya, dia berbeda. Seringkali
banyak yang berpendapat kalo dia itu aneh. Perempuan paling aneh. Jarang sekali
ada lelaki yang berani macam-macam dengannya. Bukan karena dia tak normal, tapi
dia berbeda, ya berbeda dari perempuan lain. Dia istimewa menurutku. Tuhan memberikannya
kelebihan lain, yang tak semua orang bisa melihatnya.
Pernah suatu aku
iseng bertanya, mengapa dia tak pernah pacaran, tak adakah lelaki yang memikat
perhatiannya? Padahal kamu cantik, baik, pinter, rajin lagi. Dan sungguh saya
bangga pada jawaban yang dia lontarkan.
“Yah ka, yang namanya manusia, apalagi perempuan, mana
ada sih yang bisa tahan sama lelaki yang baik, pinter, ganteng, apalagi kalo
cakep. Duh. Ya, sama sepertiku. Tapi aku memiliki prinsip ka. Bukan janji pada
orang tua, teman, apalagi Tuhan. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri, untuk
tidak memikirkan hal itu. Aku ingin bisa fokus pada diriku. Percuma aku
mencintai seseorang, tapi aku sendiri belum bisa mencintai diriku. Just let it
flow. Jika memang pada waktunya, aku yakin Tuhan akan mempertemukan. Kalo aku
sih kalo buat pacar, mending sepaket sama suami. Hehhe..”
Sontak aku tak
dapat berkata. Tak kukira, bocah titisan buku ini bisa bicara seperti itu.
AJAIB! Kakakku yang sudah menikah saja belum pernah bicara sampe buat aku
seperti ini. Rasanya seperti dicabik. Mati dah.
“Dan.. aku juga pernah baca, iseng-iseng sih, bacaan milik ayahku dan tak sempat kulahap semua. Kalo dalam Islam, tak ada namanya pacaran, yang ada hanya ta’aruf, alias berkenalan lebih dekat dengan tujuan yang baik. Yaa.. semacam pacaranlah, tapi dalam kadar yang lebih baik. InsyaAllah itu menjadi ibadah juga.. ada ayatnya juga yang menjelaskan, tapi aku lupa.. hehe”
Tak sampai sana,
pemakan buku ini berceloteh terus, persis seperti kukatakan tadi. Dia bawel,
kalo udah ngomong, nggak akan bisa berhenti. Tapi inilah anak, terlihat seperti
polos tak mengerti apa-apa, tapi sesungguhnya dia mereka memiliki pemikiran
yang simple dan bahkan sempurna. Tak kusangka, adikku B, bisa memikirkan hal
yang tak pernah sama sekali aku pikirkan. I’m so proud of you B, semoga temanmu
yang lain bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih darimu.
I’m really proud
of you B, wish you success in your future. Love you,
Kak Trias.
Komentar
Posting Komentar