Mengapa bertahan?




Keinginan manusia tak ada batasnya, selama semua hal dapat dicapai. Namun itulah kodratnya. Namun keterbatasan manusia siapa pula yang bisa mengubahnya, hanya tekad dan usaha dalam dirilah yang mampu mengubah semua keterbatasan itu. Begitu pula dengan pertahanan. Ada kalanya kita semangat berjuang, namun ada kalanya pula kita mati membosankan.


Saya pernah berlajar dari seorang guru ngaji 5 tahun yang lalu. Bertanya mengenai keharusan manusia di dunia. Tak hanya beribadah dan berlomba-lomba menghasilkan yang terbaik. Namun satu yang sering terlupakan. Bertahan. Cobaan hidup itu tidak akan ada habisnya. Ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Saat kita mampu berdiri di atas, dengan segala kelebihan yang kita miliki, terkadang kita lupa dengan proses yang pernah kita tempuh.

Namun begitu kita dibawah tak sering ada yang mampu bertahan. Sebagian besar dari mereka justru mengerutu dengan keadaan. Mampukah untuk bertahan? Tak banyak.

Sama seperti sekarang, untuk apa kita menerjang angin, untuk apa kita menerjang badai sejauh ini? Jika belum mencapai hasil yang kita harapkan saja kita tak dapat bertahan. Mengeluh, mengerutu, dan menjilat keringat sendiri karena sebuah kebosanan.

Selalu akan ada puncak kebosanan dalam diri kita, namun ingat, betapa hebatnya kita jika bisa bertahan dalam kebosanan itu. Lakukan yang terbaik setidaknya untuk diri sendiri. Bertahan itu hebat, bukan pasrah :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah