Happily ever after!
Itulah hal pertama
yang akan kami ucapkan saat Tuhan memberikan kesempatan kami untuk bertemu
kembal. Tiba-tiba saja aku teringat adik sekaligus teman terhebat yang pernah
aku mliki, kurang lebih sudah 5 tahun kami tidak bertemu. Semenjak
keputusannya pergi meninggalkanku untuk hidup bersama nenek di Makassar. Jarak
dan waktu menjadi penghalang diantara kami.
Aku tidak tahu apa
yang membuat dia memutuskan untuk tinggal bersama nenek, karena sebelumnya kami
sudah berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain.
“Happily ever after!” Sampai kapan pun akan terus bersama, menikmati dan menjalani bersama takdir yang akan Tuhan berikan. Menurut kami hidup tak akan ada yang manis jika kita tidak bersama, dan itu artinya saat kita terpisahkan maka akan selalu ada kepahitan dalam menjalani hidup, bernafas sekali pun.
Hari pertama dari
sepeninggalannya, kami masih sempat berhubungan, tak kenal waktu, kami saling
berbalas kabar. Dia mengenalkan padaku beberapa teman barunya di sekolah. Namun
dengan berjalannya waktu, intensitas hubungan kami berkurang. Dia sibuk dengan
kehidupan barunya disana, dan aku sibuk memikirkan cara menjalani hidup disini
tanpanya. Andaikan saat itu aku memutuskan untuk ikut, pasti tak akan ada
penyakit hati yang aku derita. Rindu.
Oh ya, aku lupa
belum mengenalkannya padamu, bukan? Namanya Kenya Fathia Marwarriza Sarif Mappi
Sololipu, namun aku memanggilnya Enya. Kebiasaan orang Sunda, memanggil orang
dengan nama belakangnya. Dia satu tahun lebih muda dari pada aku. Namun tinggi
badannya melebihi tinggi badanku. Dia adik terhebat yang aku miliki.
Pepisahan bukanlah
hal yang aneh bagi kami, perpisahan sudah seperti hal yang lumrah. Sebelumnya
pun kami pernah berpisah, saat umurku empat tahun dan Kenya tiga tahun.
Tepatnya saat drama hebat yang terjadi pada orang tunya Kenya, kami tidak tahu
apa cerita dibalik drama yang dilakukan Om Andri dan Bunda, yang pasti saat itu
kami merasa sangat ketakutan, melebihi taku kami pada boneka Chucky.
Setelah drama yang
membuat kami takut, Kenya dibawa ke Madiun, Jawa Timur oleh Om Anton, adik
ayahnya. Bertahun-tahun kami tidak hidup bersama, namun sering kali saat libur
panjang aku ke sana. Dua tahun kurang aku akhirnya dapat hidup disana bersama
Kenya, walaupun berbeda tempat, yang terpenting bagi kami adalah kebersamaan
ini. Madiun – Ngawi – Yogyakarta – Makassar. Dua tahun berpindah-pindah tempat
tinggal, hinggal membuat kami menjadi terbiasa akan hal-hal baru dan saat itu
aku masih duduk di kelas tiga SD. Namun aku sangat menikmati setiap perpindahan
ini. Rasanya seperti jalan-jalan terus. Mengelilingi Indonesia, itulah salah
satu mimpi kami.
Tepat tiga belas
hari lagi, kami sudah berpisah genap lima tahun, tidak berjumpa sama sekali.
Masih teringat jelas ketika aku mengantarkannya ke Bandara. Saling melepaskan
genggaman dan saling bersumpah bahwa dunia ini tidak akan bisa mengalahkan kami.
Kami pasti bertemu
kembali, menyelesaikan mimpi-mimpi yang belum sempat kami capai. Kenya, the
best sister in the world, ever!..
With sincerely,
Trias
“Trias and Kenya,
Happily Ever After!”

Komentar
Posting Komentar