Mau jadi apa? #1
Pertanyaan yang satu itu pasti sering kita dapatkan saat kecil.
Bagitu pula dengan saya, ketika saya ikut ibu ke sekolah tempatnya mengajar,
banyak guru-guru yang bertanya kepada saya. Dan semangat saya menjawab ingin
jadi Dokter dan Pendongeng. Karena menurut saya saat itu menjadi dokter itu
tidak akan pernah sakit dan menjadi pendongeng itu akan selalu diperhatikan. Keren bukan?
Kemarin saya sudah bercerita tentang mempersiapkan diri. Memangnya apa yang sedang saya
persiapkan dan untuk apa? Mempersiapkan
masa depan, masa yang tak pernah saya tahu apa yang akan terjadi, masa yang
akan terjadi, masa pencerminanku di masa yang sebelumnya. Maka untuk itu saya
harus mempersipakan diri mulai dari sekarang, lebih tepatnya memantapkan hati
dan tujuan. Mau jadi apa? Kalau tahu mau jadi apa, maka saya
akan tahu apa tujuan dan apa yang akan serta harus saya lakukan nanti.
Jika saya sudah selesai menjalankan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, maka sekaranglah saatnya saya menentukan tujuan saya. Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan pemerintah dalam bidang pendidikan, saya diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saya. Mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) meringankan saya dalam mengikuti seleksi dan pendaftaran untuk melanjutkan pendidikan yang saya mau. Saya memilih IPB dan UPI sebagai tempat saya belajar nanti. Dan ingin lebih memperdalam ilmu Komunikasi, Bimbingan Konseling dan Bahasa Indonesia. Semoga saya bisa masuk di salah satunya.
Untuk cadangan atau batu loncatan, saya mengikuti jalur PMDK di
IPB dan POLBAN. Hanya dengan membayar biaya administrasi dan mengirimkan
syarat-syaratnya saya tetap bisa mengikuti seleksi perguruan tinggi ini. Dan
untuk PMDK ini saya memilih Ilmu Gizi, Peternakan dan Teknik Informatika. Mengikuti
pendaftaran ini itu bukan maksud saya tamak, namun saya harus tetap
mempersiapkan segalanya, istilahnya "sedia
payung sebelum hujan". Karena belum tentu saya daftar ke dua
universitas itu sudah pasti akan diterima. Maka dari itu, orang tua saya
menyarankan untuk mengikuti jalur lain. Tapi semoga saya dapat diterima disalah
satunya ya, amiin.
Namun sebeneranya melanjutkan pendidikan di bangku kuliah seperti
pada umumnya bukanlah harapan saya. Karena semakin berusia justru membuat saya
semakin bingung atas apa yang harus saya putuskan. Seperti halnya sekarang,
saya sangat bingung mau masuk ke universitas yang mana. Hal itu karena yang
saya pikirkan bukan 'hanya' dimana nanti saya akan belajar, tapi saya
memikirkan juga 'akan' kemana saya kerja setelah selesai belajar nanti? Saya
tidak mau seperti kebanyaan sarjana akhir-akhir tahun ini, walaupun tidak
banyak ya tetap saja saya harus aware and keep be careful, dimana kebanyakan
mereka justru menjadi penganggur dan hanya menjadi beban orang tua.
Yang saya harapkan justru bisa bekerja dan mengabdi kepada orang
tua setelah mereka menyekolah saya tinggi-tinggi, serta merawat mereka dengan
tangan serta jerih payah saya sendiri Saya ingin bisa menghidupi diri saya
sendiri, membeli barang yang saya inginkan dengan uang sendiri, serta memberi
dengan apa yang saya miliki. Saya tidak ingin terus bergantung pada orang tua
saya, terus bergantung pada fasilitas yang mereka miliki, atau cukup
menengadahkan tangan untuk meminta uang, tanpa harus bersusah payah. Bukan,
bukan itu yang saya harapkan. Saya ingin bermanfaat, sebagaimana Allah Swt
perintahkan, "sebaik-baiknya
manusia adalah dia yang bermanfaat bagi sesamanya".
Sekitar lima bulan yang lalu, tepatnya bulan November tanggal 7.
Saya bertanya kepada ibu dan bapak universitas mana yang harus saya pilih,
karena saya sudah sangat kebingunggan. Ibu dan bapak justru membalikkan
pertanyaan kepadaku, mana yang saya mau dan kira-kira akan menjamin saya nyaman
serta ada kaitannya dengan pekerjaan yang nanti akan aku ambil, mereka akan
setuju saja. Hal ini justru membuat saya semakin bingung, dan jadinya berakhir
perbedaan pendapat karena pekerjaan yang aku inginkan tak sesuai dengan yang
mereka harapkan--menjadi seorang jusrnalis dan penulis. Dengan berberat hati
saya marah dan tidak membalas pendapat mereka. Bukannya saya tidak menghargai
mereka, namun saya ingin mencoba apa yang memang ingin saya coba. Karena saya
bukan tipe orang yang ingin ikut-ikut saja. Dengan berat hati saya tidak
membalas pendapat mereka dan pergi ke dalam kamar. Kesal sekali rasanya.
Setelah dua hari terjadi 'perang dingin', akhirnya bapak saya
membuka 'sidang'. Beliau menyarankan saya untuk mencari informasi tentang IPDN
(Institut Pemerintahan Dalam Negeri), aku tak begitu asing dengan institusi
yang satu ini, karena tahun 2012 lalu aku pernah melihat kemegahan bagunannya
secara langsung. Jelas aku sangat kagum dan mendambakan hidup di dalam sana.
Namun aku tidak tahu kalau institusi yang aku kagumi itu serupa dengan
perguruan tinggi. Maka dari sanalah aku mulai mencari informasi mengenai IPDN.
Menjadi Sang Abdi Praja.
#bersambung ya
.jpg)
Komentar
Posting Komentar