Bapak dan Seribu Aturannya

Bapak adalah tipikal orang yang ambisius. Semua kegiatan tak lepas dari rencana dan aturan yang telah dia tentukan. Begitupun dengan kehidupanku. Bapak selalu mengatur dan mengontrol kegiatanku di rumah maupun di sekolah. Satu yang aku ingat dari aturan bapak adalah ketika libur panjang dia memberiku aturan untuk tidak lepas dari buku, apalagi seharian main games dan nonton TV ataupun DVD. Karena menurutnya, jika sesuatu  mudah dilakukan itu karena terbiasa. Jadi, jika aku melewatkan waktu untuk membaca dan belajar semua akan sulit untuk aku lakukan.

Terkadang aku menyimpan rasa benci pada bapak. Bagiku, sepertinya bapak tidak ingin melihatku bahagia. Apa yang sudah aku rencanakan, pasti bapak melarangnya. Selalu ada aturan, aturan dan aturan. Kembali ke aturan satu, aturan dua, aturan tiga dan semua aturan yang dia buat untukku. Menurut bapak hanya aturan yang  bisa membuat kita tetap fokus. Kata yang kuingat dari bapak adalah ‘tetap pakai kacamata kudamu, nak..’

Ya, begitulah bapak. Bahkan karena sifatnya yang ambisius, membuat kakakku menjadi orang yang individualis dan akhirnya dia terjerumus dalam pergaulan malam. Kakakku menjadi seorang perokok aktif dan pecandu. What are you doing with my brother, dad?

Perlakuan itu sama kepadaku, bahkan sampai cita-cita yang sudah aku rencanakan dia tolak mentah-mentah. Aku pikir mungkin itu hanya awalnya saja bapak tidak mengijinkan, tapi sepertinya bapak belum berubah. Semua rencana yang telah aku persiapkan menjadi tak berarti apa-apa. Semua hilang begitu saja, dan hal itu membuatku menjadi hilang arah. Aku tak tahu akan menjadi apa dimasa depan. Apa aku akan mencapai targetku? Apa aku akan mendapatkan seseorang yang cocok untuk pendamping hidupku? Atau mungkin aku tidak akan merasakan itu semua.

Semula aku menyalahkan bapak mulai dari perubahan drastis kakakku. Karena ambisiusnya, sifat protektif pada anak-anaknya muncul. Sangat berlebihan. Mungkin beginilah menjadi anak perempuan satu-satunya sekaligus anak bungsu, apalagi bapak menyimpan kekecewaan dalam hatinya karena rencana yang sudah dia buat untuk kakak tidak berhasil. Semua ditanggungkan kepadaku. Mau tak mau, aku yang harus menghadapinya.

Saat itu aku hanya berpikir mencapai target yang bapak siapkan untukku. Aku tak ingin mengecewakannya. Walaupun sangat berat untukku, tapi demi bapak aku akan lakukan semua aturannya. Aku hanya ingin melihat bibirnya tersenyum lebar diusia senjanya.

Menjadi seorang jurnalis adalah impianku dari kecil. Kebiasaanku yang selalu ingin tahu membuatku tak berhenti bertanya. Semua hal yang ingin aku tahu pasti kutuliskan dalam catatan pribadiku. Aku sangat senang membaca hal yang ingin aku ketahui, tapi karena ingatanku yang kurang, membuat otakku harus bekerja lebih dari biasanya. Satu jalan yang bisa membuatku ingat hanyalah mencatat. Dari sanalah muncul naliruku sebagai seorang penulis. Setelah menginjak SMP, aku mulai menulis semua hal. Mulai dari kejadian setiap hari, unek-unek, bahkan nama orang yang baru aku kenal.

Aku senang berbincang dengan bapak, karena bapak memang seorang yang berpengetahuan luas. Semua yang aku tanyakan padanya pasti dia jawab dengan detail. Tetapi aku tidak suka saat bapak mulai membahas kehidupanku nanti. Dia selalu ingin menyuruhku menjadi seorang ahli kesehatan. Memang tak buruk, tapi menurutku itu terlalu bertolak belakang dengan kepribadianku. Dulu memang pernah terbesit menjadi dokter, tapi itu dulu bukan sekarang.

Bapak, sejujurnya aku sangat terganggu dengan sikapmu yang terlalu protektif. Aku bosan dengan semua aturan yang kau berikan untukku. Sekarang aku bukan lagi anak kecil yang akan menurut semua perkataanmu. Aku sudah besar, aku tau mana yang terbaik untuk kehidupanku kelak. Mungkin terdengar terlalu egois, tapi apa bedanya denganmu? Tapi aku yakin, seribu aturan yang kau buatkan untukku merupakan do’a dan kebaikan untukku di masa yang akan datang.

Dad, when you’ll think about my feel, my soul and my wish?

Bagaimanapun kepribadianmu, aku akan tetap menyayangimu, bapak. Terimakasih kau telah memperjuangkan segalanya untukku, terlebih untuk keluarga kita...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah