Untuk Para Sahabat Mimpi

Semenjak garis Tuhan memisahkan kita, aku merasa banyak sekali perubahan dari kalian. Mulai dari sikap, pembicaraan, penampilan, senyum, bahkan tatapan mata kalian yang berubah setiap kali kita bersua. Tapi aku tak ingin menyebutnya sebuah perubahan, mungkin itu memang pilihan kalian, dan aku sadar jika aku tak memiliki hak untuk mengatur pilihan kalian. Sungguh aku sangat peduli akan kalian, dan rasa peduli dan sayangku lebih besar dari yang kalian tahu. Karena aku tak pernah mengungkapkannya, mungkin terkubur dalam karena lelucon, sakit hati, tawa, tangis, dan kenangan kita. Sungguh aku merindukan itu semua.

Jika sering kali aku menjengkelkan kalian karena sikapku yang selalu komentar ini-itu, curhat yang entah bagaimana jalan ceritanya, dan sampai sering kali kita berdebat karena berbeda pendapat, mungkin itu semua sebagai bukti bahwa kita memang sangat berbeda. Tapi beda-nya kita itu saling melengkapi, jadi kita nggak pernah ngerasain yang namanya kekurangan.

Apa kalian masih ingat saat kita belum mengenal satu sama lain? Kita masih curi-curi pandang dan saling melempar senyum. Kita yang tiba-tiba saling mendekat begitu saja dan tanpa ada badai, teriakan tawa kita mulai terdengar ke luar kelas. Jujur jika aku mengingat itu semua, aku sangat merindukannya, dan sebagai penawarnya hanya air mata kerinduan yang mengungkapkan.

Tak terasa, persahabatan ini sudah lama kita jalin. Apa kalian masih mengingat saat kita bercengkrama sepulang sekolah di koridor kelas membahas tentang mimpi-mimpi kita. Tentang masa depan kita, bahkan keluar pertanyaan-pertanyaan yang konyol seperti, 'Target nikah kamu di usia berapa?' atau 'Nanti kalau punya anak mau berapa?' dan 'Mau ngasih nama apa aja ke anak-anak kamu nanti?' bahkan ini 'Kalau suami mu meninggal, kamu mau nikah lagi atau tetap setia?'. Sungguh konyol dan diluar batas menurutku, tapi tanpa kita sadari ini memang sudah sepantasnya kita bicarakan. Tak akan ada yang melarang. Karena ini hidup kita. Ini tentang masa depan kita, bukan orang lain, bahkan sahabat dan orang tua.


Dan jika kita lihat sekarang, aku dan kalian semakin jauh. Walaupun sekolah kita masih sama, setiap kumpulan organisasi kita selalu betemu, tapi jangankan untuk curhat, untuk mengungkapkan bahwa aku sangat merindukan kebersamaan denganmu sangat sulit mencuri sang waktu. Tapi aku paham, mungkin karena aktivitas kita yang semakin bertambah dan pasti berbeda, kepentingan, bahkan (mungkin) kamu mulai sibuk dengan teman-teman barumu.

Satu yang tak pernah aku tanyakan pada kalian. Apa kalian masih mengingat akan jasadku? Sungguh aku ingin kalian menjawab 'Ya'. Cukup itu.

Dan terakhir dariku untuk para sahabat mimpi.
Sungguh pertemuan, pertemanan kita ini bukan kehendak kita. Kegilaan-kegilaan, tawa-tangis, dan semua kenangan-kenangan yang sudah kita ukir tak lepas atas kehendak dan ridho-Nya. Jangan pernah melupankan kenangan kita ini ya sahabat.

Untuk kalian para sahabat mimpi. Aku tahu kalian pemimpi sejati, aku yakin kalian tidak mungkin berhenti bermimpi hanya karena gunjingan-gunjingan orang lain. Maka kejarlah terus mimpimu, jadikan semua menjadi sebuah kenyataan. Buktikan pada semua orang yang telah mengunjing dan mencelamu.

Jangan sampai kau biarkan semua ide-ide cemerlangmu hanya menjadi sampah yang menumpuk di otak. Tak berguna pun bermanfaat. Jangan sampai argumen-argumen kebenaranmu menjadi tak berguna, terkunci rapat di ujung bibir. Katakanlah jika memang itu benar.

Untuk kalia para sahabat mimpi. Ingat, kita tak hidup sendiri. Hargai semua pendapat orang lain. Jika itu sebuah kritik anggap itu semangat dan kepedulian mereka akan proses kesuksesan kita. Jika itu sebuah saran, tampung dan kalian filter, kalian telaah semua saran mereka. Jika menurutmu itu baik untuk diri dan masa depanmu, ambilah. Tapi jika menurutmu itu tak baik untukmu, buanglah saja.

Hidupmu adalah milikmu sepenuhnya. Tak ada yang berhak mengatur, bahkan orang tua. Yang mengetahui bagaimana pribadi diri kita adalah kita sendiri. Tapi INGAT, kita hidup tak sendiri dan tak mungkin sendiri. Pasti banyak komentar-komentar dan masukan-masukan dari orang sekeliling kita. Tak perlu risau dan resah, cukup kalian balas dengan senyum. Jika itu adalah sebuah kebahagiaan dan baik untuk diri dan masa depan kita, katakan amiin dan lakukanlah. tapi jika itu adalah sebuah keburukan dan tidak baik untuk diri dan masa depan kita, cukup katakan dalam hati kalian, semoga Tuhanku tak mendengarkan dan tak menghendaki itu terjadi.

-Temanmu yang selalu merindukan mimpi-mimpi KITA-      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah