Keluarga yang (dulu) Harmonis

Setiap ba'da subuh pria yang hampir setengah abad itu selalu mambuka pintu kamarku lalu mencium keningku dan membangunkanku agar segera beranjak dari ranjangku untuk segera menghadap Tuhanku. Tak lupa dia membangunkan kedua jagoannya yang selalu dibanggakan.
Tapi itu dulu...

Setiap pagi hari sebelum berangkat sekolah perempuan no satu dalam hidupku sudah sibuk dengan perkakas dapur untuk membuatkanku makanan untuk disajikan sebelum berangkat sekolah. Tak lupa menyiapkanku segelas air putih yang sudah diberi do'a-do'a indah setiap menjelang subuh.
Tapi itu dulu...

Setiap pulang sekolah, memang tak begitu banyak orang dirumah. Hanya ada sosok yang biasa membantu pekerjaan di rumah. Tapi tak perlu menunggu waktu lama, perempuan dan pria no satu yang sudah kutunggu-tunggu kehadiarannya muncul. Dan kami segera makan siang bersama. Memang makanan dan lauk pauk yang kami santap tidak begitu mewah, tapi sungguh kebersamaan kami lebih dari makanan dan lauk pauk yang mewah. Kenikmatan dan rasa syukur selalu kami panjatkan kepada sang Maha Pemberi.
Tapi itu dulu...

Setiap sore hari dibelakang rumah, bersama menikmati matahari menuju peraduaannya dilengkapi dengan bau harum teh manis, kopi hitam, dan snack-snack kecil. Sering kali terdengar tawa yang begitu renyah terdengar ditelinga.
Tapi itu dulu...

Setiap menjelang magrib, tak lepas dari telingan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Perempuan yang kucintai itu selalu mengajakku untuk selalu membaca dan membaca walaupun satu ayat. Dan pria yang selalu menjagaku itu mengajarkan cara-cara adzan dengan baik pada dua bocah laki-laki yang selalu menjagaku seperti mainan kesayangannya.
Tapi itu dulu...

Setiap ba'da isya, kami belajar bersama. Membahas semua pelajaran yang sudah diajarkan tadi siang disekolah. Tak lepas dari pandangan, dua sejoli itu membimbing kami belajar. Walaupun pekerjaan mereka terlampau banyak, tapi sungguh perhatian mereka tak pernah hilang kami rasakan.
Tapi itu dulu...

Ketika malam telah larut, mereka mengantarkanku menuju kamar dan mengistirahatkanku dalam ranjang ketenangan. Tak lupa satu kecupan dikeningku mendarat. Oh, nikmat sekali.
Tapi itu dulu....

Untuk pria setengan abad yang sangat aku hormati, terlebih aku sayangi. Sungguh kau tak akan tahu seberapa besar cinta dan sayangku padamu, karena aku tak pernah memberitahumu. Aku tak tahu harus membalas dengan apa padamu. Tapi kau pernah berkata, aku adalah bidadari yang Tuhanmu titipkan, dan aku tak perlu membalas budimu yang (bagiku) teramat besar. Aku sangat merindukanmu, pulanglah padaku.

Untuk wanita no satu yang sangat aku cintai. Sungguh surga terindah adalah surgamu. Mata termurni adalah matamu. Hati tersabar adalah hatimu. Jiwa tertegar adalah jiwamu. Tak terhitung sudah berapa pengorbanan yang kau berikan untuk keluarga ini. Seluruh kekayaan dunia pun tak akan bisa membayarnya. Tapi satu yang perlu kau tau, aku sangat sangat menyayangi dan mencintaimu, melebihi perkiraan yang kamu rasa.

Untuk dua bocah yang selalu menjagaku. Kita memang sering bertengkar, bahkan setiap hari. Tapi sungguh aku sangat kehilangan akan sosok kalian semenjak kalian beranjak pubertas. Aku benci, sangaaaat benci! Tapi sungguh benciku tak akan bisa mengalahkan rasa sayangku pada kalian. Pulanglah padaku, kembali pada rumah yang selama ini menaungi kebahagiaan kita. Aku sangat merindukan itu semua.

Mungkin untuk sekarang keluarga ini (tidak) harmonis. Tapi aku yakin, suatu saat keharmonisan dan kehangatan yang pernah kita rasakan akan kembali.

Seperti nama yang kita buat bersama ARDIMAS (Awan, Romlah, Dilif, Iman, Trias). Aku merindukan semua yang pernah kita rasakan. Ya kita! yang (harus) kembali bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah