Cinta, yang tidak (pernah) terungkapkan

Dua tahun yang lalu, SMP Tunas Harapan, tepat saat kita pertama bertemu. Tubuhmu masih terlihat lebih besar dan kumismu belum begitu tumbuh. Pagi itu sekolah masih begitu sepi, mungkin aku terlalu cepat berangkat dari biasanya dan kau yang sedang duduk asyik mendengarkan musik dengan headsetmu menjadi pusat perhatianku. Tak ada seorang pun yang terlihat selain kamu dan aku, penjaga sekolah pun tak terlihat batang hidungnya.

Sinar mentari pagi menyoroti wajahmu, jika kupandang dari samping terlihat begitu indah siluet wajahmu. Sungguh manis. Lekukan-lekukan dahi, mata, hidung dan dagumu begitu terlihat jelas. Tanpa aku sadari begitu lama aku memandangimu sampai kau mendapatkanku sedang memperhatikanmu. Sungguh aku malu sekali. Kau tersenyum padaku. Oh sungguh, apa kau malaikat yang baru Tuhan turunkan ke bumi? Senyummu begitu menenangkan mata mendegupkan jiwa.

Selama dua tahun, rasa ini masih ada, sama persis dengan yang kurasakan pagi itu. Aku sempat berpikir jika ini hanya euforia yang akan hilang dalam hitungan hari, tapi perkiraanku salah. Sepertinya aku mencintaimu, sampai detik ini. Tak (pernah) terungkapkan.

Selama dua tahun ini, sampai aku duduk dibangku SMA tak pernah berpaling sedikitpun pada senyuman lain. Aku tak berharap banyak padamu, karena sungguh tidak mungkin kau pun memiliki rasa yang sama padaku. Banyak sekali gadis-gadis yang lebih cantik dan menarik dibandingkan denganku, kau tak mungkin kumiliki.

Tapi sepertinya Tuhan memberikan jalan padaku untuk memperjuangkan sebuah rasa yang ingin mendapatkan reaksi dari penikmat rasa itu. Kelas sebelas, untuk pertama kalinya kita satu kelas. Dalam satu ruangan, kamu dan aku. Kita. Dan rasa ini semakin kuat, sepertinya senyummu di pagi itu membuatku begitu terhipnotis dalam jangka yang sangat panjang, mungkin sampai mataku tak mampu untuk melihat.

Kau tau pepatah Jawa mengatakan "Witing tresno jalaran saka kulina." dapat jatuh cinta, dikarenakan terbiasa besama. Saat itu dan samapai sekarang aku sangat percaya pepatah ini. Aku yakin, karena kesempatan Tuhan yang berikan untukku (dan kamu), bisa membuat kita selalu bertemu dan bertatap.

Aku sempat bertanya pada teman sebangkumu tentang pribadi pendiam yang melekat pada ruhmu. Sungguh, aku terkejut ketika mendengar pernyataan temanmu bahwa dibalik pribadi yang pendiam, kau memiliki segudang diksi indah yang bisa membuat setiap hati luluh. Kupikir kau hanya bisa menikmati lantunan-lantunan musik yang selalu kau dengarkan setiap pagi.

Sore itu, saat sekolah mulai sepi. Untuk pertama kalinya kita berbincang. Ya, kamu dan aku. Berbincang tentang musik yang selalu kau dengarkan setiap pagi. Jujur, selama itu aku tak tahu aliran musik apa yang kau selalu nikmati. Kau tersenyum, memberikan mp4 dan headsetmu. Kucari lagu-lagu dalam mp4-mu; tapi tak kudapatkan satupun lagu yang tersimpan pada mp4-mu. Lantas apa yang kau dengarkan selama ini?

"Kau dengarkan suara hatimu, kau dengarkan nyanyian rumput, pohon dan burung setiap pagi hari. Sungguh, itu adalah musik terindah yang sangat kunikmati. Sampai sekarang."
Satu yang kudapatkan saat itu, sorot matamu. Hatiku berkata, tak akan ada lagi mata seindah milikmu. Aku masih menyimpan rasa ini dengan utuh, selama dua tahun.

Aku tak tahu, apa kau menyimpan rasa yang sama padaku? Hatiku berkata ya.
Aku tak tahu, apa kau merasakan ketenangan yang sama saat kita duduk berdua? Hatiku berkata ya.
Aku tak tahu, apa rasa cinta ini bisa terungkapkan? Hatiku tak menjawab.
Dia hanya berkata 'Aku hanyalah seorang perempuan, tak mungkin memulai untuk mengungkapkan. Tapi percayalah, aku sangat menunggu reaksi kamu, penikmat rasa pada hati. Aku masih sangat mencintaimu. Cinta ini, tak akan (pernah) terungkapkan sebelum kamu menyatakan. "Akupun mencintaimu, secara utuh"'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah