Bolehkan Aku Mengoceh?
Untuk si tukang ngatur yang selalu sukses membuatku kesal tak tertahan.
Sudah dua tahun kita bersama, usiamu yang terpaut sangat jauh denganku dan kedudukanmu sebagai seorang pembina sering kali membuatku kesal karena sifatmu yang terlalu mengatur. Memang, semua ide-idemu sering kali membuatku terkagum-kagum dan strategi-strategi yang kau buat selalu goal. Tapi jujur, aku sangar risih akan semua itu. Kau selalu membuatku merasa minder dan ciut. Pribadimu sudah sangat dewasa, pengetahuanmu pun jauh lebih luas dibandingkan denganku. Aku sungguh ingin mengoceh tentang dirimu sekarang juga. Sulit memang untuk menceritakan ini semua, tapi ini adalah sebuah keharusan. Duh sayang, semoga kau tak keberatan dengan ocehanku ini.
Kau memang pandai, kau jenius, kau memiliki karisma yang selalu membuat semua orang segan untuk memperhatikan dan mengikuti semua perintahmu. Aku sangat cemburu dengan semua yang kau miliki. Tapi sungguh! Kau tak pernah mengerti akan inginku, kau tak pernah tau bagaimana perasaanku ketika kau menyebutku tulalit. Bahkan sepertinya kau memang tak pernah ingin tahu semua itu. Duh sayang, ingatlah kau tak hidup sendiri, tak semua yang kau kuasai bisa kau atur begitu saja. Tak semua orang bisa menerima akan semua ide dan keputusanmu. Aku mohon, pikirkanlah perasaanku saat ini. Hanya itu.
Komentar
Posting Komentar