Berakhirnya Sebuah Kenangan
Sanggar Pramuka, 16 Desember 2013
Kau tahu apa
yang kupikirikan ketika hujan ragu-ragu untuk turun membasahi rumput halaman
rumahku? Aku yakin kau tak tahu dan mungkin tak ingin tahu.
Untuk
menikmati itu semua cukup dengan ditemani kopi hitam dan menikmati kacang
rebus, sudah lebih bisa menghangatkan suhu dalam tubuhku. Walaupun tak sehangat
senyummu saat main bersama.
Sekarang aku
merasa berada didalam sebuah labirin, lebih tepatnya labirin kenangan kita. Ya,
kita; untukku, tapi (mungkin) tidak untukmu. Kenangan ini begitu manis, teramat
manis. Seandainya kamu mau mengingatnya; kenangan disaat kita bersama, walaupun
selalu tak disadari.
Semua yang
kau lakukan menurutku sangat indah untuk dikenang. Semua yang kau berikan cukup
membuatku puas, selalu saja menjadi alasan aku untuk tersenyum dikala
mengingatnya. Suara, senyuman dan mata itu sungguh menggambarkan sosokmu yang
easy going. Caramu berkata, membuatku tertarik untuk terus berbincang seputar
... yaaa kau pasti sudah tahu sendirilah, apalagi jika bukan tentang latihan.
Senyummu, entah kenapa senyuman itu selalu menarik dimataku. Dan matamu selalu membuatku ingin terus memandang, melirik dan mengingatya. Sungguh indah. Tatapannya seperti memberikan sebuah semangat penuh dalam setiap hembusan nafasku.
Seandainya
kau bertanya apa harapanku saat ini, tak akan ragu aku untuk menjawab yang
memang seharusnya aku ungkapkan saat pertama bertemu. Tapi sepertinya waktu tak
pernah memberiku kesempatan. Kau tahu apa harapanku saat ini?
Hanya kamu.
Ya, kamu! Aku selalu berandai-andai, saat-saat kita bertepatan. Kau menatapku,
menyapa, tersenyum dan mengelus kepalaku, begitu lembut.
Oh oh ooh...
sepertinya aku terlalu jauh untuk bermimpi. Ya, kau hanya mimpi dalam imajiku!
Tapi tak ada
salahnya untuk berharap bukan? Ya.. walaupun sering membuatku sakit yang tak tertahan.
Dalam setiap
sudut lorong yang kulewati hanya terdengar suara pantulan bola yang kau
mainkan. Berirama dan begitu terdengar kontras larik suaranya.
Kau tahu?
Aku begitu menikmati saat-saat seperti itu. Apalagi saat kita bermain bersama
dilapangan yang basah karena hujan sepanjang hari.
Wangi parfummu,
mata indahmu, suara merdumu dan semua yang ada dalam dirimu. Sepertinya aku
sangat mencandui semua itu, sebagaimana aku mencandui kopi hitam pekatku.
Gerak tubuhmu begitu lincah saat kau bermain dengan bola-bola yang mencoba memasuki ring yang tingginya dua kali lebih tinggi dari tubuhmu. Dan satu lagi yang sangat aku candui, siluet tubuhmu dilapangan begitu terlihat elok saat sang mentari menyorotmu. Walaupun tubuhmu yak se-sixpack Michael Jordan, tetap saja kau mampu mengalahkan ketertarikanku pada pemain basket favoritku itu.
Tapi...
Itu dulu,
sekarang? Mungkinkah akan terulang dan menjadi sebuah kebiasaan?
Sangat
sedikit kemungkinan.
Kau tahu apa
artinya ini?
Ya, waktu
begitu cepat berlalu bukan?
Apa kau
merasakan yang sama denganku?
Seperti
sekarang ini. Pertemuan dan pertemanan kita begitu singkat. Aku tak mau semua
berakhir begitu saja. Sungguh!
Aku selalu
berpikir keras, bagaimana caranya agar kedekatan kita tetap terjaga walaupun
saat nanti jarak jauh akan menjadi halangan.
Tunggu...
tunggu!!
Memangnya
sekarang kita sudah merasa dekat?
Oh... maaf aku terlalu banyak berharap ternyata. Kita tak merasa dekat. Aku yang merasa dekat, tidak untukmu.
Oh... maaf aku terlalu banyak berharap ternyata. Kita tak merasa dekat. Aku yang merasa dekat, tidak untukmu.
Ternyata
selama ini kita hanya berbicara dalam diam. Ya, diam.
Kenangan,
impian, euforia dan semua yang berbau tentangmu. Begitu melekat dalam
pikiranku. Berkeliaran di alam imajiku. Berteriak, berlari, dan menari. Semua
begitu nyata.
Namun sayang, semua hanyalah khayalan.
Tapi
entahlah, tak ada habisnya aku berkhayal tentangmu.
Seketika aku
mati, dalam diam, keheningan dan kenangan.
Semua sudah
berakhir, saat waktu menusukku dalam diam. Hanya kenangan.
Wanita pengagummu, dalam semua imajinya. Mati bunuh diri, namun
selau hidup kembali.
Aku, wanita yang mengagumimu, dalam diam.
Recommended
: Ditulis bersama Nadilla Firas Varosa
Komentar
Posting Komentar