Senyum yang Indah

Malam masih begitu cerah, ya, rembulan kembali hadir setelah berminggu-minggu halaman rumahku basah dihujani. Dua minggu hampir, libur sekolah akan segera usai. Sekarang aku sedang duduk di meja belajarku, ya inilah aku. Walaupun sekolah libur, aku masih harus belajar. Ini salah satu hukuman dari bapakku karena peringkatku turun. Bapak memang orang yang keras dan disiplin, maklum dia merupakan pensiunan TNI dan sempat menjalani taruna selama berbulan-bulan di sebrang pulau kecil yang jauh kemana-mana.

Aku masih terjaga didepan meja belajar, buku-buku dari mulai yang kecil sampai yang besar semua terbuka. Namun bukan buku-buku yang menjadi objek mataku, melainkan benda persegi panjang yang tipis dilingkari ukiran kayu dipinggirnya, berdiri setengah bersandar pada tembok dinding kamarku. Ya, itu sebuah foto yang sengaja kupajang dengan apik dan kusimpan di meja belajarku, untuk sekali-kali kulirik wajah lembutmu.

Malam ini senyummu begitu terlihat lebih indah, entah kenapa.
Matamu begitu tajam, membuatku semakin terpana.
Hidungmu, hidungmu yang mancung selalu menghalangi bibirku saat ingin menciummu.
Lesung pipimu begitu manis, membuatku semakin bergairah untuk melihat.
Simpul senyum yang kau buat begitu sempurna.
Bibirmu yang tipis megitu merah merona, ah membuatku selalu ingin melomotinya.

Coba kututup sebagian wajahmu, kubiarkan hanya senyummu yang terlihat.
Ah masih manis rupanya.
Sepertinya, senyummu akan menjadi objek canduku yang baru; senyum yang indah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah