Kau yang Menjadi Sebuah Alasan
Ruang Kosong, 10 Desember 2013 23 : 42 WIB
Entahlah apa yang akan terjadi jika aku tak bertemu denganmu dua bulan yang lalu, tepatnya November yang sebelumnya bukanlah bulan yang selalu aku tunggu-tunggu. Tapi, yang mungkin adalah ada dan tidaknya rasa yang selama dua bulan ini tumbuh. Rasa yang selama ini hanya menjadi bunga-bunga dalam hati dan pikiranku. Rasa yang selama ini hanya menjadi euforia untuk diriku, dan rasa yang mungkin tak pernah kau pikirkan. Serta rasa yang menjadi alasan kesakitanku saat ini. Dimana aku mendapat kabar gembira untukmu, tapi tidak untukku. Rasanya seperti dunia indah yang selama ini kujalani menjadi dunia hitam yang penuh kesakitan.
Sebelumnya aku berpikir bertemu denganmu adalah dasar dari semua alasan kebahagiaanku untuk selamanya. walaupun hanya dapat mengagumi; dari jauh. Ya, jauh. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain dengan pemikiranku. Menyakitkan; yang sekarang kurasakan. Aku bersyukur dengan semua in, setidaknya aku bisa merasakan sebuah sakit yang tak berdarah, namun (mungkin) berkasnya selalu terukir. Dan yang lebih penting bagiku, sekarang aku tahu rasa mana yang memang seharusnya (layak) aku perjuangakan.
Sekarang aku sedang mencoba belajar dari bola basket yang sering aku mainkan (terkadang) bersamamu. Dari bola ini aku belajar bagaimana sebuah perasaan.
Saat kupantulkan dengan menekannya keras ke bawah, maka dia akan memantul ke atas melebihi pandangan mataku. Ibaratkan saja bola itu perasaan yang tumbuh dalam hatiku. Saat aku tekankan secara serentak perasaan itu, maka yang terjadi adalah euforia yang sangat, tapi setelah memantul ke atas dia kembali ke bawah dengan cepat, melebihi kecepatan saat memantul ke atas. Dan saat itu juga perasaanku terjatuh dengan sangat cepat, sakit yang teramat menyayat.
Saat itu mungkin menyenangkan bagiku bisa melihatmu bermain dengan keringat yang bercucuran. Tapi, untuk sekarang dan mungkin selamanya melihatmu bermain dengan keringat yang bercucuran akan menjadi sebuah peristiwa yang teramat menyakitkan bagiku, bahkan sangat tak kuharapkan.
Setidaknya, saat ini kau yang selalu menjadi sebuah alasan semua air mata yang keluar dari mataku. Kau selalu menjadi alasan rindu yang teramat menyakitkan ini menyiksaku dalam batin. Dan kaulah alasan yang menjadikan aku seorang yang tegar; untuk sekarang.
Untuk pemain basket,
yang selalu memberikan senyuman manis,
yang ternyata senyum paling menyiksa,
untuk diriku.
Komentar
Posting Komentar