Jakarta



Kota yang tak pernah tidur. Metropolitan. Pagi, siang malam tak pernah berhenti bekerja. Kalangan bawah, kalangan atas, sampai penghuni kolong jembatan terlihat begitu kontras adanya. Keadaan hidup menjadi cambuk untuk terus berjuang. Terlebih keterbatasan hidup sebuah keluarga yang harus terus dipenuhi, segala hal cara dilakukan. Tak memandang halal dan haram, yang terpenting perut keluarga tak keroncongan.

Mereka yang berlimpah asyik menikmati hartanya, tak melihat mereka yang terlantar kelaparan untuk meredam keroncongan yang mendera. Koalisi aparat tak menjadi jaminan mereka yang kelaparan, janji yang diiming-imingkan hanya menjadi buaian dan isapan jempol semata.

Hallo selamat malam para nokturnal Jakarta!
Sekarang aku terdampar di kotamu, kata ibuku kota ini tak pernah tidur. Ya, kuakui itu. Kotaku jauh dari kota ini. Butuh beberapa jam dan kota yang harus aku tempuh untuk sampai berada di kota ini. Perubahan suhu pun harus kualami saat berada disini. Kotaku yang selalu sejuk, berbeda sekali dengan kota ini. Panas dan pengap. Jika pagi di kotaku dingin, disini panas. Aku baru bisa merasakan dingin saat malam hari, dan itu pun tak sedingin malam dikotaku.

Sekarang hampir menjelang subuh, dan aku baru sampai disini. Entah hal apa yang membuatku bisa sampai di kota ini, yang pasti aku tetap menikmati perjalanannya. Kemungkinan besar yang membawaku sampai kesini adalah ibadah. Bersilaturahmi dengan keluarga. Sepertinya aku pun sudah menjadi bagian dari kalian, para nokturnal Jakarta! (semoga kalian segan dengan kedatanganku)

Hari ini bukan untuk pertama kalinya aku ke Jakarta (ini bukan pamer atau penanda aku udik ya! hehe). Mungkin terakhir kali aku kesini saat mengantar kepindahan saudariku ke Makassar, 6 bulan yang lalu. Jakarta memang tetap sama, namun entahlah, selalu ada hal yang membuatku takjub pada kota yang tak pernah tidur ini. Mungkin karena efek di kotaku tak ada hal seperti ini.

Gedung-gedung tinggi menjulang, jalanan yang 'super' besar, kemacetan yang riuh, suara klakson terdengar dimana-mana, seperti ada rombongan marchingband yang lewat, dan tak kalah dengan cuacanya yang panas. (Oke, ini terdengar kampungan sekali! Haha).

Menurutku Jakarta begitu hebat, terlebih pada orang-orang yang bermukim disini. Entah itu pejabat, aparat, tukang, sampai perampok. Semua ada disini, dan mungkin semua penjuru dunia ada disini. Oke aku tak terlalu memperdulikan hal itu.

Kemacetan yang membuat perjalananku sangat lama, cuaca yang tak menentu, banjir, panas yang sering (se)kali membuatku bercucuran keringan dan terlihat kumal, sampai penjahatan semua terjadi di Jakarta. Namun entahlah, aku sangat menikmati kota ini. Dengan segala hal yang membuatku 'sengsara' setiap kali pergi ke kota ini, justru membuatku berdecak kagum. Semoga saat aku kembali ke kota ini, dan mungkin aku akan menjadi penghuni kota ini selanjutnya, Jakarta bisa lebih baik. Tak ada macet, tak ada banjir, dan yang terpenting tak ada sampah dan kejahatan.

The most important for Jakarta; please give me the wonder that is more beautiful that I could love this city. Because I have dreams to build this country to be better beginning from this city.

Jakarta, Indonesia.

With love,
Trias Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah