Kehangatan
Ketinggian
3217 di atas permukaan laut jelas terasa dingin yang sangat menusuk.
Embun
pagi masih menyelimuti permukaan bumi, membuat semua tak bisa terlihat tanpa
sorot lampu. Dua hari yang lalu akhirnya rencana kita yang sudah tertunda
selama berbulan-bulan bisa terlaksanakan. Menikmati ketinggian salah satu
gunung di kota Kembang.
Tak
mau ketinggalan sunrise, setelah salat subuh aku segera keluar tenda dan
menyiapkan kamera untuk memotret detik-detik sang mentari keluar dari
peraduannya. Langit yang masih gelap, gerombolan awan yang bergerak dengan
pelan-pelan, dan semburat lembayung dari cahaya mentari. Cantik.
"Brrrrrr..
dingin banget." Kugosok-gosok kedua tanganku untuk mengurangi rasa dingin
yang menusuk.
"Ini, pakai jaketku. Aku cukup hangat dengan satu jaket." Kau melepaskan jaketmu dan meletakkannya pada pundakku. Ah aku suka saat kau memperlakukanku seperti ini.
"Terima
kasih. Tapi kalau kamu dingin, bilang." Warna merah di pipiku tak bisa
kututupi.
"Iya."
Kau tetap asik menghembus-hembuskan nafas yang membuat gempulan asap keluar
dari mulutmu.
Aku
kembali asyik dengan kameraku, mencoba mencari spot yang bagus untuk ku potret.
Memang dari dulu aku sangat tergila-gila dengan fotografi alam, apalagi setelah
kecanduan sama hasil foto fotografer National Geografic. Semua cantik dan
mempesona. Dan aku bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi salah satu jurnalis
disana, dan kamu menjadi objek keduanya.
Mentari
sudah keluar dari peraduannya, aku sudah mendapatkan potret yang lumayan banyak
agar bisa aku pilih foto yang paling nantinya. Lumayan, kalo enggak aku kirim
ke tabloid, bisa aku koleksi sendiri untuk aku kenang. Tak lupa aku mengambil
diriku juga, dan berselfie ria bersamamu.
"Sudah,
aku senang sekali. Mentari disini cantik sekali."
"Iya,
tak sia-sia kita mendaki berpuluh-puluh kilo kesini."
"Hmm
makasih banyak ya, sayang.." Tanpa sadar kupeluk tubuhmu. Kau hanya
mengelus-ngelus kepalaku.
"Iya,
sama-sama. Ayo masuk ke tenda. Dingin sekali." Kau membukakan risleting
tenda dan membiarkanku masuk ke dalam.
"Ini,
pakai sleeping bag-ku, biar kau hangat. Tidurkan saja, aku akan buatkan kamu
susu hangat. Jangan lupa, kamera simpan kembali ke ransel." Kau duduk
membelakangiku, membuatkanku susu hangat. Ah kamu, ini yang paling kusukai
darimu. Kau selalu mengerti apa mauku.
"Iya,
makasih." Aku kehabisan kata, terlalu membuatku bahagia karena
perlakuanmu.
"Ini
susunya minum dulu, biar badanmu hangat. Setelah itu tidurkan, aku mau ke tenda
Alan dulu."
"Iya,
hati-hati dan terima kasih susunya."
07.30.
Kulihat jam yang melekat di tanganku.
Sudah
20 menit kau keluar dan belum kembali, aku khawatir, tapi dingin sangat
membuatku mengantuk dan enggan untuk bangun. Seperti ada paku besar menancap
dimataku. Hitam. Kurasakan tancapan pisau tajam di beberapa tubuhku, jantung,
perut, lambung, dan rusuk sampingku. Sakit. Tak terasa sama sekali.
"Kamu
hangat sayang? Sebentar, akan aku buatkan api unggun agar kau tak
kedinginan." Samar terdengar suaramu. Terima kasih untuk kehangatannya.

Komentar
Posting Komentar