Ketika Aku Jatuh Cinta



Setahun yang lalu kita bertemu, dengan cara yang tak sengaja. Setahun yang lalu kita bertemu, tanpa sapaan dan percakapan. Setahun yang lalu aku mulai mengenal cinta, merasakan semuanya. Dan tepat selama setahun ini aku memendam rasa, cinta yang tetap sama, padamu. Lelaki yang kutemui setahun yang lalu.

“Makasih ya.” Ujarku kegirangan saat kau mengantarku pulang.

“Ya. Sama-sama.” Kau menjawab asal tanpa membalas tatapanku, dan itu membuat senyumku yang tadinya merekah, tiba-tiba lenyap tak bersisa sama sekali.

Aku tahu betapa bodohnya diriku sampai bisa jatuh cinta pada lelaki sepertimu. ‘Dingin’, ‘lurus’, dan cuek. Tapi entahlah, mungkin memang seharusnya cinta begitu. Untuk kali ini aku jatuh cinta dengan cara yang berbeda, dan dengan perjuangan yang lebih dari biasanya.

Aku mencoba mencari cinta yang lain, mungkin bisa menggantikan namamu dalam hatiku. Dan kupikir setidaknya mengisi waktu selama menunggumu sampai saatnya aku berani untuk mengatakan semua perasaanku, aku masih bisa menikmati rasa perhatian dan kasih sayang dari orang yang mencintaiku. Walaupun sebenarnya, hatiku tetap padamu.

Memang terlalu ekplisit aku mengatakan ini semua. Namun, aku pun tak tahu mengapa bisa sampai seperti ini. Tak pernah sebelumnya aku menyukai lelaki sampai seperti ini. Padahal jelas sekali kau bukanlah lelaki idaman para wanita, lelaki yang romantis, perhatian, pengertian, bukan sepertimu. Tapi, entah mengapa aku justru menanam cinta untukmu. Ya, terkadang cinta membuat kita tak logis dalam dunia.

“Ola, kamu itu masih remaja. So, please don’t always think about him. You can find man better than him. Dia udah jelas-jelas cuek, masih aja dipertahanin. Aneh.” Celetuk temanku yang selalu kubajak waktunya hanya untuk sekedar menceritakan tentang dirimu.

“Hehe.. aku juga enggak tahu, makanya aku juga merasa aneh sama diriku sendiri. Dia menarik sih. Ya.. atau mungkin ini memang hukum alam.” Ujarku lempeng.

“Ah cinta, bikin kamu enggak logis dan nyeleneh!”

Tapi, ketika aku jatuh cinta, khususnya jatuh cinta padamu, lelaki dengan watak ‘terdingin’ yang pernah aku temui, tak hanya kesenangan yang aku rasakan. Rindu dan tangis pun selalu ikut mewarnai. Ya.. gila sekali memang, belum ada hubungan spesial saja sudah berani merindu.

Walaupun kita tak pernah berbincang panjang bersama secara langsung, tapi setidaknya perbincangan yang belakangan ini pernah kita lakukan membuatku bisa merindukan saat-saat seperti itu, dimana terkadang aku tak bisa memperpanjang perbincangan karena kau yang selalu membalas singkat dan apa adanya.

Hai tuan, lihatlah, tumpukan salju di atas gunung Jayawijaya itu tak sedingin dirimu, setidaknya dia memberiku sapaan hangat dengan mentarinya. Lihatlah bambu, dia tak selurus dirimu, masih ada ruas-ruas untuk menyimpan air. Dan lihatlah angin, dia tak secuek dirimu, walaupun hanya terlihat lewat saja, tapi dia bisa memberikan sentuhan pada yang dilewatinya. Akan aku jelaskan bagaimana diriku dalam dirimu. Aku itu ibaratkan mentari yang tak kau nikmati, ibaratkan air yang tak pernah bisa menempati ruas-ruas tubuhmu, dan ibaratkan kulit yang mati rasa menyentuh angin.

“Entah ketertarikan apa yang engkau miliki, entah megnet apa yang bisa megalahkan magnet bumi, dan entah hal apa yang bisa membuatku berjuang sampai titik ini, Tuan. Yang jelas, aku bisa merasakan yang namanya keikhlasan, kesabaran, dan kesempurnaan. Bagiku, denganmu aku bisa merasakan hal yang tak pernah kurasakan. Jika ada pepatah mengatakan cinta selalu membuat kita menjadi tidak logis, aku akui itu. Tapi ingat, disini ada hati, dimana terkadang dia lebih benar dari perhitungan logika. Ketika aku jatuh cinta, itulah caraku mencintaimu, Tuan.”

Yang kutahu cinta itu perjuangan, karena untuk memberitahumu saja aku harus lewati jalan yang terjal. Yang kutahu cinta itu kreatifitas, karena untuk bisa berbicara denganmu, aku harus mencari seribu topik yang bisa membuatmu bicara. Dan yang kutahu cinta itu kesabaran, karena untuk bisa memilikimu aku harus bisa menimbun perasaan sampai menahun. Dan ketika aku jatuh cinta, aku tahu, untuk apa dan bagaimana Tuhan menciptakan cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah