Diantara Satuan Nada-nada #Ke-2
MALAM MINGGU
Bandung, 14 Maret 2012. Pukul 18 : 00 WIB. Masih di Cafe yang sama, waktu
yang sama, dan orang yang sama. Entah kenapa malam minggu ini terasa lebih
spesial untukku. Mungkin karena malam minggu ini Galih akan menyanyikan lagu
khusus untukku.
Kupoleskan blush on merah muda di kedua pipiku dan ku goreskan tipis lipstick
berwarna pink dibibirku. Gaun merah selutut sudah tergantung di punggung pintu
kamar untuk kupakai. Malam ini aku sengaja mendandani diriku semaksimal mungkin
untuk Galih.
Tiit..tiitt.tiiit.... Suara klakson
kuda besi Galih memberiku sinyal jika dia sudah ada di depan rumahku. Pangeran
berblezer abu sudah menunggu diatas motor merah itu. Memberikan sedikit tempat
untukku dan mengantar kita menuju Cafe bersejarah di kota kembang ini.
“Selamat malam sayang. Sudah siapkan.” Sahut Galih didepan rumah.
“Selamat malam juga. Aku siap mendengarkan lantunan nada-nada indahmu. Ayo kita
berangkat.” Kuhampiri Galih dan memberinya senyuman termanis.
Riuh jalanan kota kembang. Kuning, merah, jingga, hijau.. kuning, kuning,
lampu-lampu malam di jalan kota memberikan pemandangan yang lumrah. Hembusan
angin yang terasa hangat menyapu lembut pipi dan rambut yang sengaja ku urai,
da duduk di belakang Galih yang membuatku merasa aman.
*****
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik satu untukmu....
Kata-kata indah dalam lagu yang Galih nyanyikan untukku diatas stage, dan
nada-nada indah yang selalu membuatku luluh kepadanya. Tangannya dengan lincah
memainkan senar-senar gitar. Romantis sekali. Lagu terindah yang pernah ku
dengar. Happy Anniversary sayang. Aku
sayang kamu. Keep love me ya.. Gumamku dalam hati yang sedang
berbunga-bunga karena laki-laki yang satu ini.
“Lagu ini, saya persembahkan khusus untuk bidadari yang duduk disana. Ananda
Sinna Fathia Alia . Happy Anniversary sayang. Keep love me yaa.” Ungkapan
romantis yang Galih ucapkan untukku, diatas stage dan dihadapan para tamu di
Cafe bersejarah ini.
Para tamu memberikan standing applause kepada Galih karena
keberanian dan keromantisannya untukku.
Galih menghampiriku, dan memberiku bungan mawar putih. Romantis sekali. Dan aku
tidak mau kehilangan senyumku ini dan wajah teduh serta tatapan matanya yang
menenangkan hatiku. Aku tak bisa mengungkapkan apapun. Perlakuan Galih mampu
membuat mulutku ini tak bisa bicara. Hanya senyum dan air mata bahagia yang
bisa ku ungkapkan. Nada indah itu, kata romantis itu, senyum manisnya, wajah
teduhnya, dan mata beningnya. Tak bisa kuungkapkan langsung kepadanya. Jika ‘Aku bahagia bersamamu, dan aku ingin
selamanya bersamamu. Aku mencintaimu.
“Happy anniversary sayang, terimakasih selama 26 bulan ini kamu sudah
bersedia mendampingiku, menjadi perempuan yang selalu mensupport dan setia
berada disampingku kemanapun aku pergi. Aku bahagia bersamamu dan aku ingin
selamanya bersamamu. Aku... mencintaimu. Keep love me sayang...” Dia
menggenggam tanganku dan memberikan sekuntum mawar putih untukku.
Ya Tuhan ! Senyum dan matanya membuatku
diam tanpa kata. Kata-kata yang dia ucapkan diantara satuan nada-nada membuat
hatiku ini luluh. Terimakasih Tuhan, Engkau sudah memberiku malaikat sesempurna
Galih. Aku ingin bersamanya selamanya. Lagi-lagi, aku tak bisa
mengungkapkan kata-kata itu untuk membalas ungkapan Galih.
*****
Satu minggu setelah malam romantis yang telah Galih berikan untukku,
kehidupanku masih tetap normal. Tetapi, perlakuan Galih kepadaku menjadi
sedikit longgar. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal antara kami. Semenjak
Galih bertemu dengan teman kecilnya di taman kota. Nindy. Wanita yang pernah
muncul dalam hidup Galih beberapa tahun silam. Dan sekarang dia muncul kembali
saat Galih sedang bersamaku.
TAMAN KOTA
Bandung
Selatan, Pukul 07 : 00 WIB.
Seperti biasa, untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya, Galih selalu
jogging di taman kota. Dan aku selalu diajaknya untuk sekedar menemaninya.
Tepat hari selasa, sekolah diluburkan karena para guru mengadakan rapat untuk
membahas Ujian Nasional yang sebentar lagi akan ku hadapi.
Pantulan sang mentari menyinari kota Kembang yang asri ini. Seakan-akan menyapa
hariku dan Galih. Udara segar ku biarkan masuk kedalam tubuh dan memompa
jantungku. Dari kejauhan terlihat perempuan dengan tinggi memampai dan
menggulung rambutnya membentuk konde cemplon, dipadu tusuk konde warna merah.
Serta dengan kaos katun ketat warna biru sama seperti yang kupakai sekarang.
Dia berdiri bersama angjing kecilnya tepat di depan kolam yang ada di tengah
taman. Cantik sekali. Sepertinya dia termasuk wanita sosialita. Aku hanya menatapnya
dari kejauhan sambil memantau Galih yang sedang melakukan gerakan-gerakan yang
bisa membentuk tubuhnya lebih sempurna.
“Sayang, kamu lihat ga cewe yang berdiri di depan kolam itu ?” Aku memulai
pembicaraan. Masih tetap menatap wanita sosialita itu.
“Yang mana ? Yang warna bajunya sama kyak kamu ?” Galih kembali bertanya sambil
mencari-cari orang yang ku maksud.
“Iyaa. Cewe itu, yang bawa anjing.” Ku lirik Galih yang masih menerka-nerka.
“Oh itu. Tapi sepertinya, aku familiar deh sama cewe itu. Kyak temen kecilku
yang pergi ke Jakarta. Nindy.” Galih kembali melirik kepadaku.
“Kenapa nggak kamu panggil aja ?” Ku tatap dalam mata Galih.
“Nggak ah. Takut salah orang, malukan. Biarin aja, kalo emang dia benar Nindy
dan kenal sama aku pasti dia panggil aku. Ayo kita pulang.” Jawab Galih
membuatku tenang.
Galih langsung menggenggam tanganku dan membawaku menuju kuda besinya.
*****
“Galih !” Sahut seseorang dari kejauhan.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Galih dari belakang. Sontak aku dan
Galih menoleh ke belakang dan mencari sumber suara tadi. Ya ! Nindy. Perempuan
yang tadi aku lihat. Dia memanggil nama laki-laki yang sekarang berada di
sampingku. Dan aku, tidak suka momen ini. Oh
Tuhan, kenapa dia harus memanggil Galih. Aku takut kehilangan Galih karena
perempuan ini. Lindungi hubungan kami Tuhan. Gumamku takut dalam hati.
“Nindy-kan ?” Galih pura-pura tidak tahu.
“Iya ini gue. Nindy, temen kecil waktu lo masih ingusan. Kemana aja lu. Nggak
ada kabar. Makin ganteng aja lo.” Nindy mengiyakan dan yang paling aku tidak
suka, dia memuji Galih berlebihan untuk ukuran seorang teman.
“Oh my God. Sejak kapan lo pindah lagi ke Bandung ? haha bisa aja lo. Lo juga
tambah cantik aja. Lucu juga tuh anjing. Namanya siapa ?” Jawab Galih dan
menyebut Nindy makin cantik. Tuhan,
tolong jangan sampai Nindy rebut Galih dari aku. Ketakutanku semakin
menjadi.
“Namanya Niky. Dia itu suka banget sama boneka yang pernah lo kasih sama gue.
Si Garfield. Si kucing bermata sayu. Oh ya, ngomong-ngomong itu cewe lu ya.”
Nindy mulai melirik kearahku dan melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Risih sekali, rasanya ingin bawa Galih ke tempat dimana dia ga akan ketemu
Nindy.
“Keren juga namanya. Masih ada tu boneka. Oh iya sampai lupa, kenalin ini
Ananda Sinna Fathia Alia. Cewe gue. Panggil aja dia Alia.” Galih
memperkenalkanku pada teman kecilnya itu.
“Hai, gue Nindy. Temen kecilnya Galih.” Nindy menjabat tanganku.
“Gue Ananda Sinna Fathia Alia . Panggil aja gue Alia .” Jawabku singkat.
“Ngomong-ngomong kalian udah lama pacaran ? Keliatannya lengket amat.” Nindy
mulai bertanya-tanya soal hubunganku dengan Galih.
“Udah dua tahun lebih. Gue pacaran sama dia tiga minggu setelah lo pergi ke
Jakarta dan kita putus. Dia baik banget orangnya. Pengertian.” Galih
menjelaskan tentang umur hubungan kami. Yang lebih parah, ternyata Nindy mantan
Galih ! oh shit. Ya Tuhan, jangan sampai
mereka kembali bersatu dan memisahkan aku dengan Galih. Hatiku mulai tak
taruan. Dan aku meminta Galih untuk pulang, dengan alasan aku capek.
“Sayang aku capek. Aku mau pulang. Banyak tugas lagi.” Pintaku pada Galih.
“Iya sebentar ya.” Galih masih asik berbincang dengan Nindy.
“Eh Nin, gue pulang duluannya. Kasian cewe gue capek, dari tadi nemenin gue. Oh
ya gue minta no hape lu ya. Rumah lo masih di tempat kita dulu ?” Galih melirik
ke arahku.
“Hmm... oke. Padahal gue masih kangen sama lo. Iyaa masih di sana ko.”
Nindy meberikan kertas kecil berisi nama, alamat, dan no hapenya.
“Next time deh kita ngobrol lagi. Gue duluan ya. Bye.” Galih melambaikan
tangannya kearah Nindy.
“Bye.” Nindy tetap berdiri dan menatap kami berjalan.
*****
Komentar
Posting Komentar