Cinta Monyet [Edisi Ramadhan]



Hallo.. hallo..
Assalamu'alaikum semuanya..
Bagaimana puasanya? Masih aman dan lancar 'kan?

Oke, dipikir-pikir sudah lama juga aku enggak nulis tentang cinta dan sebangsanya, ya. Dan kali ini, aku mau nulis tentang cinta mo-nyet!

Apa sih yang ada dibenak kalian saat mendengar cinta monyet? Well, pasti tentang bocah ingusan ya.
Sekarang aku mau tahu  apa kalian pernah merasakan cinta monyet? Aku yakin kalau kalian pernah pacaran, pasti pernah merasakan cinta monyet.

Aku ingin sedikit bercerita nih, mau lanjut baca atau pun tidak ya tak masalah. Tapi kalau enggak diterusin, aku jamin enggak bakal tahu apa manfaatnya membaca tulisanku kali ini, hehe. Oke, sebelumnya aku mau tanya, cinta monyet itu gimana sih? Kalau menurutku sih itu cuma iseng-iseng aja, namanya juga cinta pas bocah, pasti enggak tahu apa-apa tentang cinta, setuju? Setuju aja deh biar cepet, ya.

Dulu, waktu SD aku pernah punya teman cowok, panggil saja dia Bolon, orangnya bikin kesel, tapi dia lucu (menurutku waktu itu), soalnya dia punya gigi yang ada tahi lalatnya. Unik gitu. Nah, ceritanya aku sama dia itu selalu barengan, sering berbalas surat (maklum, dulu hape belum tenar dan harganya masih mahal sekali). Sekitar satu tahun kami saling berbalas surat. Keren enggak tuh, kalo sekarang sih susah ya punya teman yang mau berbalas surat kayak gitu. Dan yang paling ditunggu-tunggu setiap minggu itu adalah Pak Pos. Suara klakson motornya adalah hal yang sangat difavoritkan saat itu.

Singkat cerita, kami sudah SMA. Sudah 5 tahun lebih kami tak berkomunikasi semenjak lulus dari bangku SD. Saat suatu hari kami bertemu di persimpangan alun-alun kota. Tak ada sapa atau pun senyum. Aku hanya mencoba mengingat wajah itu, dan aku bisa mengingatnya saat sampai di rumah. Besoknya lupa lagi.

Sampai suatu hari kami mengadakan reuni SD, dan aku tak datang pada acara itu, karena kesibukanku yang tak bisa aku batalkan, tapi salah satu teman dekatku berkata, bahwa si Bolon nanyain aku terus, dia minta nomor hapeku, dan menitipkan surat! Oh my God!

"Hallo, apa kabar?
Sudah lama enggak ketemu. Semoga di reuni nanti kita ketemu ya, aku kepengin ngomong sesuatu sama kamu. Penting pokoknya! Oh ya, jangan lupa ya hubungi aku kesini : 082135653xxx. Aku tunggu ya kabar darimu. Salam kangen. Bolon."
Kalo dilihat, tulisannya bagus, kayak tulisan anak cewek, jadi aku enggak percaya kalo itu dia. Tanpa pikir panjang kusimpan surat itu di laci meja, TANPA KUTULIS NOMOR HAPENYA. Jadi risih rasanya.

Tak jauh dari hari saat dia menitipkan suratnya pada temanku, dia menghubungiku melalui facebook. Dan ya! Dia bikin risih, menuhin inbox facebook. Lebih parah lagi, dia tahu nomor hapeku dan menelpon-nelpon enggak jelas. Pokoknya risih deh!

Tapi karena tingkahnya yang terus-terusan menghubungiku, akhirnya aku sampai pada titik kesabaranku. Aku telpon dan minta penjelasan darinya. Dan ya, tak salah lagi, dia minta pacaran. Oh my God, please deh ya, aku bahkan enggak pernah kepirikan buat hal yang gitu-gitu, apalagi ini sama cinta monyet pas SD. Pokoknya risih-serisih-risihnya. Akhirnya dia berhenti menghubungiku semenjak kukatakan kalau aku enggak mau pacaran, dan enggak minat pacaran sama dia.

Tapi ternyata, itu bukan akhir dari cerita risih ulan cinta monyetku, dia menghubungiku dengan alasan yang tak jelas, dimana dia kenalin aku sama pacarnya. Apa maksudnya coba? Biar aku panas atau aku menyesal gitu? Please deh ya, aku itu enggak sama dengan yang setiap cowok pikirkan. Aku orang yang berprinsip, dan jika aku katakan tidak, tanpa alasan lain, itu adalah mutlak tanpa gugat.

Dan sekarang adalah sebenar-benarnya akhir. Dia tidak menghubungiku lagi, dan meminta maaf, walaupun aku yakin, dia kesal banget sama aku. Ya, terselah apapun yang dia pikirkan tentangku, terpenting untukku, dia tak menghubungiku dan membuat waktuku terganggu. Well, walaupun teman-temanku masih mengejekku tentang hal ini, tapi setidaknya itu tak seumur hidup dan waktuku.

Intinya sih, tujuanku menuliskan tentang cinta monyet, kalian jangan sampai mengalami hal yang sama denganku, karena itu sangat menggangu. Satu lagi, kalau punya prinsip dan janji itu pegang yang baik, bukan cuma omongan saja. Karena saat perkataan tak sesuai dengan yang dilakukan itulah sebuah kemunafikan.

Well, semoga tulisanku kali ini bisa memberikan pelajaran buat kalian. Semoga puasanya tetap lancar dan berkah. Amiin Yaa Rabbal A'lamin.

Komentar

  1. Ikut gemesss kenapa ya udah punya pacar tapi kok masih cari lagi..

    curhat juga ahh.. klo saya punya cinta monyet sama2 suka sama2 tahunya pas udah merit jadi ya biasa aja hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya mbak Hana, kadang kasihan juga sama pacarnya, cuma dijadikan objek buat panas-panasin aku xD
      Tapi alhamdulillah sekarang enggak nonggol lagi dia *curcol*

      Enak ya mbak kalo udah merit, aku juga maunya gitu, jadi merit dulu, baru pacaran, biar jadi ibadah juga. Dan dalam kamus hidupku enggak ada tuh namanya pacaran hehe.

      Btw, makasih ya udah mampir di blog alakadarku ini. Salam untuk Zidan dan Kinan :))

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah