Ilusi, mimpi, dan wujud asli



Saya capek. Saya kesal. Saya bosan. Saya ingin kesempurnaan.
Menjadi seperti ini bukanlah yang saya harapkan. Saya tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi.

Saya perempuan. Saya pun ingin seperti teman-teman, memiliki hidup normal. Mempercantik diri, berbelanja, bermain, memiliki lelaki idaman, dan hidup dengan sesuka hati. Tidak dengan olokan, ocehan, atau komentar yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Saya ingin hidup normal seperti layaknya manusia. Saya tidak ingin dipaksa dan dijadikan orang lain. Karena saya adalah saya, bukan dia ataupun mereka. Saya manusia, bukan robot. Saya tak bisa ditekan dengan terus-menerus untuk melakukan sesuatu. Saya tidak mau jika harus terus begini. Ini buka kali pertamanya, tapi untuk kesekian kalinya.

Saya ingin jalani hidup dengan apa yang saya ingin capai. Menjadi perempuan yang seutuhnya, seorang hamba yang taat pada Tuhannya, seorang anak yang patuh pada orang tuanya, menjadi seorang yang peduli dengan sesamanya, memiliki teman yang sebaik-baiknya, dan memiliki tujuan dan cita-cita yang memang menjadi harapannya, dan menjadi manusia yang bisa terus memperbaiki dirinya sendiri. Namun di dunia, semua itu hanyalah sebuah ilusi jika semua tanpa bantuan sang Illahi.

Tak ada kesempurnaan, tak ada kesetiaan, dan tak ada keabadian. Semua hanyalah khayalan yang kita buat sendiri, semua hanyalah bualan dunia. Kita hidup sendiri, dan kita mati sendiri. Apakah harus berjuang, berusaha untuk sebuah ilusi? Ya, jika semua itu masuk akal dan membawa manfaat bagi kita. Kita memang hanya seonggok daging dengan nama, tapi seonggok daging bisa menjadi sajian yang lezat jika kita bisa mengolah dan menyajikannya dengan baik.

Hidup terkadang tak realistis, maka dari itu kita tak cukup jika harus terus berpikir dengan akal. Coba kita rasakan dan pikirkan dengan hati. Semua gundah, semua susah menjadi senang dan mudah. Semua duka, semua dusta menjadi suka dan cinta. Itulah hati, selalu mampu menutipi apa yang tak bisa akal ini penuhi.

Dunia tak sekedar ilusi, semua tak hanya berbentuk mimpi, tapi bisa menjadi wujud asli.
Secara utuh, secara indah, dan secara sempurna kita bentuk semua dusta dunia, semua duka air mata, dan semua lara hati, menjadi segunung salju dan kebahagiaan yang abadi.

Karena ilusi bukan sekedar janji dan mimpi, namun itu adalah wujud yang sebenarnya harus terjadi.
Selamat berjuang, para pejuang mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah