Diantara Satuan Nada-nada #Ke-3
KEDEKATAN MEREKA KEMBALI
#Rabu, 17 Maret
2011 (Membatalkan janji)
It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do...
Terdengar lagu First Love-nya Nikka Costa dari hapeku. Ada pesan yang masuk,
dan itu dari Galih. Dia menjalaskan jika dia tidak bisa menemaniku untuk
membeli buku. Memang sebelumnya aku meminta Galih untuk menemaniku membeli buku
Manusia Setengah Salmon-nya Raditya
Dika.
“Sayang, maaf ya. Nanti pulang sekolah aku nggak bisa temenin kamu beli buku.
Aku harus nganter ibu dan Nindy ke Bogor. Maaf yaa.” Isi pesan dari Galih
membuatku cemburu dan kesal. Tapi untungnya masih sama ibu Galih. Jadi aku tidak
terlalu khawatir.
“Iya nggakpapa sayang. Hati-hati ya dijalannya. Tolong sampaikan juga salamku
pada ibumu ya.” Ku balas pesan dari Galih dengan berbagai pengertian, dan aku
mencoba untuk tetap berpikir posistif.
Tuhan, untuk kali ini aku hanya mohon.
Jaga Galih untukku. Do’aku hari ini.
Setelah pembatalan pertama janji Galih padaku, dia menjadi sering membatalkan
pergi bersamaku dengan berbagai alasan. Biasanya dia tidak pernah membatalkan
jika aku ajak. Karena itu jugalah sering muncul pikiran-pikiran negatif, rasa
cemburu, dan rasa ketidakpercayaan.
Pagi ini Tuhan sudah menurunkan hujan di Kota Kembang. Mendung sekali, alhasil
membuatku malas untuk pergi kesekolah. Apalagi setelah beberapa hari ini aku
tidak bertemu dengan Galih, padahal sebenarnya kita satu sekolah.
Akhir-akhir ini dia sering menghindar dariku, entah mengapa.
Karena hujan, aku diantar ayahku untuk pergi kesekolah. Tapi sebelumnya kucoba
hubungi Galih agar dia berangkat sekolah bersamaku. Dan Galih menolak ! Untuk
pertamakalinya dia menolak ajakanku. Dari sinilah aku mulai protektif padanya.
“Sayang, kamu mau berangkat ke sekolahkan sekarang ? Aku jemput ya. Kita
diantar ayah aja. Hujannya cukup deras. Kalo naik motor aku takut kamu sakit.
Aku sekarang ke rumah kamu. Tunggu ya..” Pesanku dalam SMS.
Tak lama lagu First Love-nya Nikka Costa terdengar. Galih membalas pesanku.
“Nggak usah, aku diantar Nindy ke sekolah. Sebentar lagi aku sampai disekolah.”
Jawabnya singkat. Apa ? Diantar Nindy ?! Gumamku
kesal dalam hati.
*****
MALAM MINGGU
Sabtu malam. 20
Maret 2011. Pukul 18 : 00 WIB. Cafe Solaria, Bandung
Tidak seperti biasanya, hatiku terasa gelisah, gelisah, dan gelisah. Tuhan, cabut kegeliasahanku dan jagalah
hubunganku dengan Galih. Berbeda dengan malam minggu sebelumnya. Biasanya
Galih datang seorang diri dengan tas gitar yang menggantuk disebelah tangannya.
Tapi, malam ini dia tidak membawa gitar, tapi dia menggandeng tangan putih
seorang perempuan. Ya ! Lagi-lagi Nindy.
“Selamat malam sayang.” Galih mengelus rambut hitamku. Dan mempersilahkan duduk
pada Nindy.
“Malam Al. Nggakpapakan gue ikut. Bete juga diem di rumah.” Sapa Nindy sambil
melirik-lirik penampilanku yang dandan seadanya.
“Malam sayang, malam Dy. Gitar kamu mana ? Malam ini kamu nggak akan nyanyi
buat aku ?” Tanyaku heran.
“Tidak, gitarku rusak. Terus aku berangkat bareng Nindy naik mobilnya.
Buru-buru lagi. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu. Tapi tidak
didepan Nindy” Jawab Galih yang sangat mengecewakanku sekaligus membuatku
bertanya-tanya.
*****
Galih membawaku ke salah satu meja yang kosong yang jauh dari meja tadi aku
duduk. Aku terus mencoba menenangkan hati dan pikiranku.
Galih menatap dalam mataku. Sepertinya ada sesuatu yang berat yang ingin dia
ungkapkan padaku. Terdengar jelas suara nafas dan jantungnya di telingaku. Ada apa gerangan. Mengapa Galih seperti ini.
Tidak seperti biasanya. Gumamku dalam hati.
“Sebelumnya aku mau meminta maaf, dan terimakasih karena selama 26 bulan ini
kamu sudah setia mendampingiku. Terimakasih atas semua pengertianmu,
terimakasih atas semua kebahagiaan yang telah kau berikan untukku. Ini sangat
berat untukku, apalagi untuk kita.” Galih memulai percakapan dengan wajah yang
bingung.
“Kamu kenapa bicara seperti ini ? Kamu nggak akan ninggalin akukan ?” Mataku
mulai mendung.
“Aku mau, kita udahan. Aku merasa lebih tenang bersama Nindy. Maafkan aku. Aku
tetap menyayangimu.” Pernyataan Galih yang membuat jantungku berhenti
mendadak.
Bagaimana tidak ? Selama dua tahun lebih ini sudah ku
habiskan waktuku bersamanya. Nada-nada yang meluluhkanku, kata-kata romantis
yang muncul diantara satuan nada-nadanya, lantuanan merdu permainan gitarnya,
suara merdunya, wajah teduhnya, mata beningnya, harum nafasnya, senyum
manisnya, dan semua tentangnya. Apa aku mampu tanpa itu semua ? Tuhan, tolong
aku. Jangan kau ambil Galih dari sisiku. Tetes demi
tetes air mata membasahi pipiku. Galih hanya menatap dalam wajahku. Kulirik
wanita yang sedang duduk manis melihat kejadian yang tak pernah ku inginkan ini.
“Oke fine. Kita udahan, dan aku kecewa sama kamu. Terimakasih juga udah bikin
hari-hariku menjadi indah, terimakasih sudah memberi kebahagiaan untukku, dan
terimakasih kamu sudah hancurkan hati dan kepercayaanku.” Satu tamparan
mendarat dipipi manis Galih. Tanpa berpikir panjang aku pergi meninggalkan
Galih dan Nindy.
****
Tiga bulan setelah pengkhianatan Galih, membuatku menjadi orang yang sangat
tertutup. Bahkan untuk bertemanpun sulit. Aku tidak ingin tersakiti untuk yang
kedua kalinya. Setelah duduk di bangku SMA tak pernah ada sesuatu yang spesial
untukku. Sangat berbeda dengan dua tahun silam. Ku jalani hari-hariku seperti
biasa. Sekolah dan belajar. Tidak ada nada, lagu, ataupun senandung
gitar.
Pagi yang cerah untuk berangkat sekolah. Ku hirup udara segar kota Kembang pagi
ini. Ku nikmati panasnya sinar sang mentari. Ku lewati beberapa kelas, berjalan
dikoridor sekolah. Dengan seragam putih abu-abu ini ku awali hari dengan
semangat langkah kakiku.
Terlihat seorang laki-laki berkacamata yang sedang asyik dengan gitarnya.
Membuatku bernostalgia menuju kebahagiaan dua tahun yang lalu. Kata-kata indah
diantara satuan nada-nada itu kembali terdengar di telingaku. Sepertinya
laki-laki itu adalah kakak kelasku. Aku hanya melihatnya di depan pintu
kelasku. Kacamata yang dia pakai, memberi nilai plus dimata orang banyak.
Karena biasaya orang yang berkacamata itu pintar dan kritis dalam berpikir
ataupun bertindak.
****
Kaulah belahan hatiku
yang terangi aku
dengan cintamu
Kau hangatkan jiwaku
dan slimuti aku
dengan kasihmu
Ku coba gapai apa yang kau ingin
Saat ku terjatuh sakit kau adalah aspirin
Coba menuntunmu agar ada di dalam track
Kau catatan terindah di dalam teks
Dan aku mengerti apa yang kau mau,
hargai dirimu, menjadi imammu
Karna kau diciptakan dari tulang rusukku
selain itu karna kau bagian dariku....
Lagu Kau Puisi-nya Bondan Prakoso
terdengar dari permainan gitar dan mulutnya. Kata-kata indah diantara nada-nada
yang dikeluarkan permainan gitarnya semakin meluluhkan hatiku ini. Aku mencoba
melihatnya lebih fokus. Sepertinya dia song writer juga.
“Hey... kamu anak baru ya ? Kamu suka Bondan juga ?” laki-laki itu tiba-tiba
muncul dihadapanku dan memberiku pertanyaan.
Tanpa kusadari, laki-laki itu sudah ada dihadapanku dan dia mengagetkanku
tiba-tiba. Aku malu karena ketahuan aku memperhatikannya sejak tadi.
“Hey... Iya. Maniac...” jawabku refleks karena terkejut.
“Kakak juga ? Ngomong-ngomong kaka kelas berapa ?” aku kembali bertanya.
“Banget dan lagu tadi aku persembahkan untuk kamu. Kelas IX-IPA 1” matanya
tajam melihatku.
Aku hanya menunduk dan tersenyum malu. Jarang sekali aku bisa langsung
membukakan hatiku untuk orang baru. Mungkin karena kata-kata indah yang
terdengar diantara satuan nada-nada lagu Kau Puisi-nya Bondan membuat hatiku
ini luluh kembali. Tidak ! Tidak ! aku
tidak mau sakit untuk yang kedua kalinya. Tapi untuk nama teman.. bolehlah. Aku
merasa nyaman dengannya. Gumamku dalam hati.
“Namaku Duta Pallaguna. Panggil aja Duta. Kamu ?” Laki-laki yang baru saja
mempersembahkan lagu untukku menjulurkan tangannya kehadapanku. Meminta untuk
berjabat tangan dan berkenalan.
“Namaku Ananda Sinna Fathia Alia. Kaka panggi saja aku Alia” Ku jabat
tangan kekarnya. Tangan dan perlakuannya sangat sama persis seperti perlakuan
Galih dua tahun yang lalu.
*****
Tiga bulan sudah kulewati hari-hari di SMA. Hubunganku dengan ka Duta-pun masih
seperti teman baik. Dan dialah teman yang selalu setia mendengar cerita-ceritaku
begitu pula dengan tugas-tugas yang menumpuk. Ka Duta-lah yang membantuku
menuntaskannya. Sampai suatu malam....
“Al, sudah tiga bulan kita jalani hari ini sebagai teman. Dan kaka tidak bisa menyimpan
dan menunda lagi perasaan kaka ini. Semenjak pertama kita bertemu, sejak kamu
perhatikanku yang sedang bermain gitar, dan semenjak aku mempersembahkan
lagu-lagu indah untukmu aku sudah suka padamu. Kaka ingin hubungan kita lebih
dari teman. Mungkin kaka bukan yang pertama untukmu, tapi kaka berjanji kalau
kaka akan menjadi yang terakhir untukmu. Karena kamu juga kaka tahu apa itu
cinta. Melalui kata indah diantara satuan nada-nada, rasa ini muncul. Kaka mau
kamu jadi wanita yang spesial yang selalu ada disamping kaka kemanapun kaka
pergi. Kamu maukan jadi wanita itu ?” Ka Duta menyatakan perasaannya kepadaku
yang ia pendam selama ini. Genggaman eratnya membuatku semakin takut. Lagi-lagi
! Perasaan takut itu muncul lagi. Aku takut sakit untuk yang kedua kalinya.
“Ka, kaka-kan tahu bagaimana cerita cintaku di duatahun silam. Jika kaka memang
benar-benar, tunggulah aku sampai perasaan takut ini hilang. Dan jadilah
laki-laki yang selalu mengungkapkan kata-kata romantis diantara satuan nada-nada
yang kaka mainkan.” Kutatap tajam mata Ka Duta. Ku biarkan mulutku
mengungkapkan yang sebenarnya.
*****
Dua tahun ku jalani hidup dengan penuh nada-nada indah. Bersama orang yang
sangat kusayangi. Tapi, semenjak pengkhianatan yang dia lakukan membuatku takut
untuk kembali membuka hati untuk hati yang lain. Hidupku kembali normal. Namun,
sekali lagi hidupku terasa kosong. Aku kehilangan nada-nada indah yang selalu
kudengar disetiap hembusan nafasku.
Tetapi saat laki-laki berkacamata itu datang dalam hidupku. Hidupku kembali
dimana aku bisa mendengarkan nada-nada merdu di rongga telingaku. Tapi,
kata-kata yang dia ungkapkan padaku belum mampu menghapus perasaan takutku ini.
Dengan kesungguhannya dia tetap setia memberiku nada-nada indah. Kini, aku
kembali mendapatkan nada-nada terindah yang pernah hilang itu.
Dan begitulah, mungkin lagu ini belum menjadi akhir atau ujung dari perjalanan
hidup anak manusia. Hari itu, semua kegelisahan seakan selesai. Biarkan
nada-nada merdu ini yang menuntunku menuju akhir lagu yang memberikan
kebahagian yang hakiki dan arti cinta yang sesungguhnya. Karena cinta ada
diantara satuan nada-nada. *The End*
Komentar
Posting Komentar