Izinkan saya bercerita
Maka, izinkan saya
bercerita mengenai apa yang belum sempat saya ceritakan.
Ketika semua kebohongan
harus terpaksa dilakukan, yang katanya demi kebaikan, padahal sebenarnya karena
sudah terlanjur salah.
Ketika keadaan
memaksa untuk melakukan, padahal jiwa tak ridha untuk hal yang tidak
diinginkannya.
Ketika perasaan
harus dikubur dalam-dalam, padahal hati teriris sakit dan kalbu tak tahan untuk
mengatakan.
Ketika semua harus
bisu, padahal ingin sekali mengutarakan semua kejahatan.
Ketika semua harus
pura-pura buta, padahal mata jelas melihat dan memberontak.
Izinkan saya
bercerita mengenai apa yang ingin saya ceritakan.
Bahwa saya ingin
sekali berkata jujur tanpa ada paksaan bahkan tekanan dari sudut manapun. Ingin
menyetarakan karena sesungguhnya tak ada yang benar dan salah, melainkan diri
kita masing-masing yang membuat kesalahan itu menjadi hal mendasar untuk
dijadikan sebuah yang lumrah benar. Padahal tidak benar sama sekali. Bahkan
bukan untuk kebaikan, namun untuk mengamankan diri dari tanggung jawab yang
harus dia terima.
Bahwa saya tak rela jika harus melakukan hal yang sama sekali tidak saya inginkan. Jika saya melakukannya berarti itu semua bohong, ikhlas mungkin ya mungkin juga tidak. Karena jika tidak ikhlas, tidak mungkin saya lakukan. Namun jika ikhlas, tidak mungkin pula saya menyatakan keberatan. Semua setara, namun mungkin saat itu lebih berat pada tidak ingin melakukannya. Karena bagaimana pun, itu bukanlah kewajiban saya, melaikan kewajiban bapak pejabat yang kerjaannya hanya bisa memuji saya, lalu merayu dan akhirnya menyuruh, sangat manis, manis sekali, namun sumpah saya ludahi muka anda, Pak.
Bahwa saya tak bisa
jika harus terus menjadi seorang malaikat yang memendam perasaannya. Saya ingin
menjadi selayaknya manusia dikodratkan, diam ketika memang ingin diam, dan
mengatakan ketika memang ingin berbicara. Saya hanya berusaha untuk menjadi
seorang abdi, melaksanakan apa yang ditugaskan dan menjalankannya sesuai apa
yang harus dilakukan. Siapalah saya, hanya seorang juru tulis yang selalu
ditumbalkan untuk menjadi raja rimba. Saya senang disegani, saya senang
dihormati, saya senang dituruti, namun saya lebih senang menjadi diri saya
sendiri.
Saya tidak bisa
lagi jika harus pura-pura tuli dan bisu. Seakan tak tahu apa-apa. Bukan saya
yang harus bertanggung jawab, namun bapak! Yang katanya seorang pemimpin?
Seperti itukan? Monyet pun bisa memimpin macam itu, Pak! Pecundang! Tak
bertanggung jawab! Muka dua! Maling! Jancuk!
Saya ingin
memberontak, mengatakan semua apa yang sebenarnya. Sudahlah cukup menjadikan
saya seorang pembohong, jangan berani-berani lagi anda! Saya lebih baik tak
punya pekerjaan dan jabatan jika harus dijadikan pendusta! Maka sekarang
izinkan saya berbicara. Bahwa anda pemimpin paling tolol yang pernah saya
temui, bahkan dibandingkan dengan monyet sekali pun. Penampilan bak artis papan
atas, muka dipermak agar terlihat laku, mulut menjilat semua orang, namun otak,
tak ada isinya sama sekali! Kosong! Layak udang yang tak punya otak! Tak ada
etika sama sekali, jangankan mencontohkan budi yang baik, untuk dirinya sendiri
pun tak ada cerminan. Idealis! Apatis! Pencitraan! Semua pencitraan!
Izinkan saya
bercerita.
Sekarang boleh anda
berpesta pora, namun ingat, Tuhan tak pernah tidur. Dia tahu bagaimana cara
menghukum makhluk seperti anda. Tuan, jabatan, harta, dan wanita itu tak ada
artinya jika attitude anda senantiasa layaknya binatang. Semua tidaklah kekal,
semua akan kembali kepada pemilik-Nya. Saya tidak akan lagi banyak bicara, saya
hanya ingin meneruskan jalan hidup saya. Tanpa anda yang katanya patner
terbaik. Silakan anda urus sendiri persoalan anda. Saya sudah cukup
melaksanakan kewajiban saya. Terima kasih, karena kali ini anda memberikan saya
kesempatan untuk bercerita lebih panjang.
Teruntuk Tuan, yang Maha Pecundang.
Oh ya, name tag yang kita buat dari emas 20 karat itu rupanya
sudah ada pemiliknya.
Ini saya persembahkan teruntuk PECUNDANG tak tahu diri.
Terima kasih, R.
NP : Tulisan ini
tidak saya tujukan pada orang tak tak memiliki hubungan atau komunikasi dengan
saya secara intens. Mohon maaf jika ada yang tersinggung atau kurang suka
dengan tulisan saya. Ini adalah website pribadi saya dan saya berharap dapat
mengungkapkan apa yang tak bisa saya ungkapkan disini. Saya tidak bermaksud
mencari perkara dengan siapapun, saya hanya ingin bercermin, belajar pada
kesalah yang telah lalu. Jika anda tidak suka, saya memohon dengan sangat untuk
memaafkan saya dan menutup website saya ini. Terima kasih.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar