Kakakku Sayang

Pukul 21:55 WIB.
Sudah larut malam rupanya, baru saja seorang perempuan mengingatkan saya untuk segera istirahat, namun saya tak menurut, masih asik dengan kegiatan saya, menulis. Oh ya, malam ini saya ingin menceritakan menganai kakak saya, yang paling tua, tertua diantara kami berdua. Panggil saja dia Kak D. Kalau di rumah sih saya memanggilnya Aa, panggilan kakak laki-laki dalam bahasa Sunda. Dia bukan lelaki istimewa, dia termasuk yang paling beruntung diantara kami karena hidungnya termasuk dalam kriterian "mancung". Saya tidak tahu usianya berapa, yang pasti November kemarin menginjak 29 tahun. Perawakannya jangkung, ya sekitar 173 centimeter. Sayang, ototnya tak begitu berisi dan membentuk tubuh yang maskulin, semenjak dia tidak rutin lagi berolahraga.

Dia masih kuliah, disalah satu universitas di Jawa Barat, mengambil jurusan olahraga, seperti apa yang diinginkannya. Apa tidak salah usia 29 belum lulus kuliah? Ya, jelas tidak. Sebelumnya dia sudah lulus di universitas yang berbeda dengan jurusan berbeda pula, Bahasa Inggris. Saya pun heran kenapa kakak saya yang satu ini belum selesai juga kuliahnya. Bahkan kakak saya yang kedua saja sebentar lagi akan lulus. Saya tidak berani bertanya secara mendetail, itu urusannya sendiri, walaupun sebenarnya besar dibenak saya berharap mengatahui jawabannya. Namun setahu saya, dia bekerja, serabutan istilahnya. Terkadang ikut Om saya mengerjakan salah satu proyek untuk pembangunan atau jalan, mengajar di sekolah dasar, sampai mengajar tambahan untuk beberapa anak.


Saya tidak tahu apa biaya hidupnya masih ditanggung orang tua kami atau tidak, yang pasti saya selalu bertemu dengan dia di rumah. Saya tidak tahu berapa penghasilannya, apa yang dia miliki, atau bahkan merk apa handphonenya, yang pasti saya memiliki nomor pribadinya, dimana saya bisa menelpon atau mengirim pesan teks saat saya membutuhkan pertolongannya. Dia bukan orang yang rajin, namun dikatakan malas pun tidak begitu malas. Karena berdasarkan penelitian secara diam-diam yang saya lakukan, dia itu melakukan pekerjaan sesuai apa yang memang ingin dia kerjakan. Sepertinya dia pun akan rela kehilangan pekerjaan daripada harus memaksakan diri. Entah apa yang ada dalam pikirannya, saya tak pernah tahu.

Menurut saya usianya sudah termasuk tua, hampir kepala tiga. Namun dia belum berumah tangga, belum beristri, masih perjaka. Bahkan saya tidak tahu perempuan mana saja yang sedang dekat dengannya. Dia bukan tipe lelaki yang senang bercerita, selalu tertutup, sangat tertutup. Dia hanya akan bercerita pada ibu jika itu memang sudah serius. Kesukaannya adalah bermain games, nonton tv, main laptop, dan jalan-jalan bersama temannya, entah kemana, saya tidak tahu. Dia belum begitu mapan, untuk menghidupi sendiri pun rasanya belum begitu dewasa. Itu menurut saya, menurut apa yang saya lihat.

Saya tidak tahu apakah dia pernah terpikirkan untuk segera menikah atau ingin dulu bersenang-senang dan bermain, lalu setelah itu menikah? Entahlah. Saya tak bisa memastikan yang satu itu. Namun jujur, melihat dia sekarang, rasanya ingin sekali mencarikan dia calon agar segera beristri. Gatel rasanya melihat dia pergi sendirian, setiap meminta dilayani oleh mbak, atau menanyakan barangnya yang lupa disimpan, bahkan keuangannya masih diurusi oleh ibu. Hmmm... entahlah.

Malam ini, perkenankan saya untuk menyampaikan beberapa hal.
Kak,
saya tidak tahu, apakah saya termasuk adik yang kau harapkan.
Saya tidak tahu, apakah sikap saya yang terkesan acuh membuatmu nyaman atau merasa tidak diperhatikan.
Saya tidak tahu, apakah setiap perkataan yang saya lontarkan padamu membuatmu sakit hati atau belajar.
Saya tidak tahu, apakah kau tidak ingin segera beristri atau justru masih ingin bermain tak jelas.
Saya tidak tahu, apakah kebiasaan saya merepotkanmu membuatmu kesal atau merasa bermanfaat.
Dan saya tidak tahu, apakah kau menyelipkan doa untuk saya disetiap sholatmu.

Biarlah, saya tak membutuhkan semua jawabanmu. Namun harus kau ketahui
.
Bahwa saya selalu berusaha menjadi adik terbaik untukmu.
Sebenarnya sikap saya tidak acuh, saya senantiasa memperhatikanmu bagaimana pun caranya. Entah melihat dari lini masamu, dan bahkan saya pernah diam-diam membuka-buka handphone dan laptopmu dikala saya meminjam, percayalah saya tetap memperhatikanmu.
Maaf jika banyak perkataan saya yang membuatmu sakit hati, tapi mengertilah saya melakukan itu karena saya sangat sayang, saya tidak ingin kakak melakukan hal yang jelas salah.
Ini merupakan hal terpenting untu saya, mengapa kau belum juga beristri? Apa masih ragu? Atau justru ingin menghabiskan waktu untuk sekedar menikmati hidup sendiri? Tapi jika karena kau merasa belum bisa bertanggung jawab atau belum mapan, percayalah akan nikmat dan ridha Allah Swt.

Untuk sekali ini, dengarlah saya, lelaki itu harus bisa memimpin, jangan merasa sudah dewasa jika belum bisa berpikir positif, jangan merasa belum mapan jika belum berusaha dengan segala pikiran dan tenaga, jangan merasa paling mencintai apabila belum bisa menerima dan ikhlas sepenuh jiwa, dan jangan merasa dewa jika belum berani memperistri. Apalah artinya mapan tanpa menghidupi, apalah artinya sayang tanpa melindungi, dan apalah artinya cinta tanpa saling memenuhi. Usia saya memang jauh darimu, begitu pula dengan pemikiran saya yang sejengkal kuku pun tak sampai. Namun bersediakah kau untuk mendengankan saya sekali ini saja, menikahlah. Memohonlah pada Allah Swt agar kau segera diberikan jodoh terbaik pilihannya. Kau tak perlu sibuk memilih, serahkan semua itu pada-Nya. Nikahilah istrimu tanpa pilihan, agar kau senantiasa hanya ingin kembali kepadanya, agar kau senantiasa mencintai istrimu semata-mata karena ridho Allah Swt.

Kakakku sayang, segeralah berikhtiar dan berusaha. Bawakan saya kakak perempuan yang bisa menuntun saya menjadi perempuan yang lebih baik, kakak perempuan yang bisa ikut merawat ibu dan bapak bersamaku, kakak perempuan yang tak perlu sangat cantik, tak perlu sangat kaya, dan tak perlu paling gaul, yang penting dia shalehah, bisa mengurus keluarganya, mengurus suami dan anak-anaknya. Istri yang senantiasa selalu ada bersamamu dan rumah tempat dimana kau akan kembali.

Kakakku sayang, bawalah menantu untuk ibu, menantu yang bisa diandalkan. Bukan, bukan untuk dijadikan pesuruh. Namun menantu yang bisa diajak berdiskusi, carilah istri yang selalu ingin belajar dan mengajar. Saya yakin, bagaimana pun keputusanmu menikahi seorang istri, ibu dan bapak pasti setuju. Kami yakin, kau tahu apa inginmu dan kau tahu apa yang terbaik bagimu.

Kakakku sayang, segera menikah ya. Saya yakin kau adalah lelaki yang hebat dan bertanggung jawab. Saya dan ibu ingin segera menimang.

Kakakku sayang, berdoalah dan terus berusaha.

With sincerely,

Trias, adik bungsumu yang ingin segera menjadi tante.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempertahankan, haruskah?

UN, No worry!

Lagu Paling Romantis : Adera - Lebih Indah