Mau Jadi Apa? #2
Assalamu'alaikum.
Bagaimana kabar kalian? Semoga tetap sehat
dan dalam lindungan Allah Swt.
Lumayan lama rupanya saya tidak meneruskan
tulisan saya kemarin, semoga kalian bersedia untuk melanjutkannya.
Oke setelah perjuangan selama 3 hari kemarin, Ujian Nasional sekarang tak
begitu menakutkan bagi saya karena Alhamdulillah Kemendikbud membuat keputusan
baru untuk kelulusan, namun tetap saja saya merasa awas, jangan sampai harus
mengulang tahun depan, naudzubillahimindzalik.
Cerita saya kemarin mengenai IPDN ya?
FYI, setelah surfing and search saya jatuh
cinta pada institut yang satu ini. Besar sekali harapan saya untuk dapat
menjadi bagian dari mereka. Namun sayang walaupun sudah banyak informasi yang
sudah saya dapatkan mengenai penerimaan Calon Praja dan teknis seleksinya, saya
belum begitu puas, karena ada beberapa pertanyaan yang sangat ingin saya
ketahui. Sampai akhirnya saya mencari para Praja yang sedang study disana.
Alhamdulillah kakak-kakak IPDN itu sangat responsif dan humble. Pastinya
meminta dengan baik-baik, anda
sopan, kami segan. Alhamdulillah banyak sekali informasi yang bisa saya
dapatkan walaupun hanya dari satu narasumber. Panggil saja Kak A.
Banyak sekali pertanyaan yang saya lontarkan
dan dengan senang hati Kak A menjawab dan menjelaskan semuanya. Tidak hanya
menjelaskan, Kak A juga memberikan semangat kepadaku, agar aku terus belajar
dan berusaha dengan sungguh-sungguh, karena menjadi Abdi Praja bukanlah hal
yang mudah, semua diseleksi dengan ketat, tidak hanya fisik yang dibutuhkan
namun kemampuan berpikir dan knowledge pun menjadi salah satu penilaian. Karena
disana itu kita diberikan fasilitas gratis dari pemerintah, maka sudah
sepantasnya kita pun harus bersungguh-sungguh agar kelak nanti setelah sudah
bekerja dapat profesional, memberikan yang terbaik untuk Negara, untuk rakyat.
Sampai suatu saat Kak A bertanya pada saya,
dan itu cukup membuat saya ciut nyali. "Memangnya
kamu tidak takut masuk IPDN?" Yups!
Pertanyaan itu pasti sudah lumrah, bahkan kakak laki-laki saya pun bertanya
seperti itu. Karena konon ceritanya dahulu di STPDN (sebelum diubah menjadi
IPDN) itu banyak sekali kekerasan yang bahkan menelan korban. Ditendang,
dipukul, push up, sit up, keliling lapangan dan banyak lagi punishment yang ada
disana. Jujur, pertanyaan Kak A membuat saya ciut, namun entah apa yang membuat
saya begitu berani dalam memutuskan hal ini. Sontak saya langsung menjawab TIDAK. Karena saya percaya, dengan cinta dan
niat yang ikhlas, sebesar apapun ketakutan itu akan mati, asalkan aku terus
berusaha dan bersungguh-sungguh. Justru jika saya takut dan tidak masuk IPDN,
mau lari kemana lagi? Saya bukan orang yang mudah jatuh cinta. Sekali niat,
InsyaAllah akan ditetapkan.
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, dengan segala cinta dan niat
ikhlas saya semata-mata hanya ingin mendapatkan keridhoan Allah Ajja Wajalla,
saya akan mengikuti seleksi Calon Praja IPDN XXVI yang InsyaAllah perkiraan
dilaksanakan di akhir bulan Mei atau awal Juni nanti. Saya akan
bersungguh-sungguh berlatih dan berjuang untuk bisa menjadi Abdi Praja.
Mengabdi pada Negara, membanggakan ibu dan bapak, serta mendapatkan ridho Allah
Swt.
Kawan, tepat siang tadi pukul 12.30 WIB saya
baru saja menyelesaikan Ujian Nasional, dimana ujian ini adalah ujian terakhir
saya di SMA. But the final
exam doesn't mean completed, but its the beggining of a strunggle. Saya mohon doanya dari
teman-teman, agar saya dapat melewati berbagai tes seleksi nanti dan bisa
menjadi Abdi Praja yang berprestasi dan Abdi Negara yang mengabdikan seluruh
jiwanya untuk Negara dan Agama. Amiin ya Rabbal A'lamin.
So, mau jadi apa?
"Jadi Abdi Praja, lalu Abdi Negara, Abdi
Agama, Abdi Orang Tua, Abdi Keluarga dan Abdi Suami. InsyaAllah. Hidup
berkarya, Mati Bahagia!"
With Sincerely,
Trias Amalia Sugiharti as Trias Nurwana as Trias Indonesia

Komentar
Posting Komentar